Baliho Gladak: Tokoh Keraton dan Kebudayaan Solo Dipajang
Gambar atau konten salah?
Di kawasan Gladak, Solo, sudah terpasang beberapa baliho besar yang menampilkan wajah dan nama tokoh penting. Dua di antaranya menonjol di sisi kanan dan kiri gapura menuju Alun‑Alun Utara.
Di sisi kiri, SISKS Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi terlihat dengan jelas. Gambar ini sudah ada sejak awal bulan dan menjadi ikon bagi warga yang lewat. Di sisi kanan, tiga figur sekaligus: Menteri Kebudayaan Fadli Zon, KPH Panembahan Agung Tedjowulan, dan Ketua Lembaga Dewan Adat Gusti Moeng. Mereka memakai pakaian hijau, menandakan semangat kebudayaan yang bersatu.
Menurut Teguh, seorang tukang becak berusia 50 tahun yang tinggal di Gladak, baliho dengan gambar Tedjowulan dipasang pada hari Sabtu, 6 Juni 2026. Ia juga menegaskan bahwa baliho PB XIV Mangkubumi sudah ada sejak awal bulan. “Kalau ini (baliho) baru aja, kemarin. Duluan yang ini (baliho PB XIV Mangkubumi) dipasangnya,” ujarnya ketika ditemui di kawasan Gladak pada hari Minggu, 7 Juni 2026.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat, KPH Eddy Wirabhumi, menyatakan bahwa pemasangan baliho di Gladak merupakan momen penting untuk memperkuat hubungan emosional dan struktural antara keraton dan negara. Ia menekankan bahwa Kementerian Kebudayaan kini berperan sebagai jembatan strategis antara Keraton Solo dan Pemerintah Republik Indonesia. “Ini adalah menyambungkan hubungan keraton dengan negara, keraton dengan pemerintah. Memang dimulai dari Kementerian Kebudayaan, tetapi jangan lupa bahwa di antara elemen‑elemen penting pertahanan negara, pertahanan budaya justru menempati posisi yang sangat penting,” jelasnya.
Eddy juga menyoroti bahwa pusat‑pusat kebudayaan seperti Keraton Solo layak mendapatkan perhatian penuh dari negara, mengingat kekuatan utama Indonesia bersumber dari keberagaman budayanya. “Terbukti begitu tersambung langsung masuk revitalisasi. Dari revitalisasi fisik sekarang sudah menuju revitalisasi nonfisik,” tambahnya.
Ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab atas pemasangan baliho, Eddy enggan memberikan nama. Ia menekankan bahwa substansi pesan di dalam baliho lebih penting daripada urusan seremonial semata. “Substansi dari baliho tersebut jauh lebih penting daripada sekadar urusan seremonial pemasangan,” ucapnya lugas.
Melihat sejarah panjang hubungan keraton dan negara, Eddy mengajak semua pihak untuk bersikap bijak dan tidak terjebak pada riak‑riak kecil yang dapat menghambat proses besar ini. Ia mengingatkan bahwa perjuangan ini sudah berlangsung sejak tahun 1946. Sekarang tahun 2026, artinya sudah sekitar 80 tahun. “Kalau kemudian ini menjadi titik awal tersambungnya kembali Keraton dengan negara, tentu harus kita syukuri bersama,” pungkasnya.
Dengan dua baliho yang menampilkan wajah tokoh budaya dan kebudayaan, Solo menegaskan kembali pentingnya peran budaya dalam membangun jembatan antara keraton, pemerintah, dan masyarakat. Pemasangan ini menjadi simbol bahwa kebudayaan tetap menjadi fondasi yang kuat bagi identitas nasional dan hubungan antara lembaga tradisional dan modern.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Puasa 1 Muharam 1448 H: Boleh, Niat & Jadwal 16 Juni
1 Muharam 1448 H Jadi Hari Libur Nasional, Banner dan Ucapan
Sumur Puter Sunan Kudus: Cerita Tersesat di Gang Sempit
Sumur Puter di Kudus, Mitra Barang Hilang? Belum Ada Bukti
Sumur Puter di Kudus: Warisan Air Sunan yang Terlupakan
BEM Solo Raya Demonstrasi di DPRD Solo, Aksi Berakhir Damai
Berita Terbaru
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Indonesia vs Kamboja Imbang 0-0, Bertarung Ketiga AFF U-19
Pawai Pesta Kesenian Bali ke-48 di Renon, 13 Juni 2026
185 Posisi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2026 untuk SMA/SMK
Maroko Hadapi Brasil di Piala Dunia 2026: Titik Awal Baru
Sabar & Reza Raih Kemenangan Semifinal Open Australia 2026
IPO SpaceX Bawa Jutaan Rupiah bagi Ribuan Karyawan
Banjir di Jakarta Wabah Sakit Flu, Banyak Rumah Terendam
