Barter: Indonesia‑Philippines Tukar Abaka dan Besi

Ningsih R. · 2 min baca · 1 jam lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Barter: Indonesia‑Philippines Tukar Abaka dan Besi

Gambar atau konten salah?

Kementerian Perdagangan Indonesia mengajak negara lain menggunakan skema imbal dagang atau barter. Pada hari ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso menandatangani MoU antara PT Trade Barter Indonesia (TBI) dan pelaku usaha Filipina.

Dalam perjanjian, Indonesia akan mengimpor serat abaka dari Filipina. Serat tersebut akan diolah menjadi tekstil oleh perusahaan anggota Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI). Setelah jadi, tekstil itu akan diekspor kembali ke Filipina.

“Dan hari ini kita menyaksikan penandatanganan antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina dengan sistem barter. Jadi, kita impor serat abaka ini untuk bahan baku tekstil,” ujar Budi dalam konferensi pers di kantor pusatnya, Jakarta Pusat, Senin (08 Juni 2026).

Kerja sama tidak hanya melibatkan serat abaka. Filipina juga mengekspor bijih besi atau iron ore ke Indonesia. Bijih besi tersebut akan diproses oleh grup Krakatau Steel dan kemudian diekspor kembali ke Filipina.

“Setelah diproses dari grup Krakatau Steel, kemudian bajanya kita ekspor ke Filipina. Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar. Karena nanti masing-masing negara mempunyai agent yang memfasilitasi,” tambah Budi.

Penandatanganan MoU ini diperkirakan menghasilkan transaksi mencapai US$ 350 juta atau setara Rp 6,33 triliun (kurs Rp 18.100). Ada dua MoU imbal dagang tripartit yang ditandatangani hari ini.

MoU pertama melibatkan Asian Pyrochem Technologies dari Filipina, PT Trade Barter Indonesia, dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI). Ketiga pihak sepakat menukar serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi senilai US$ 50 juta per tahun.

MoU kedua melibatkan Asian Pyrochem Technologies, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading. Mereka setuju menukar produk baja dengan bijih besi asal Filipina untuk memenuhi kebutuhan produksi Krakatau Steel senilai US$ 300 juta per tahun.

Budi menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor sekaligus mengatasi pelemahan rupiah. Sistem barter ini menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut tanpa bergantung pada mata uang asing.

“Jadi, ini salah satu solusi sebenarnya ya bagaimana pertama kita meningkatkan ekspor kita dan bagaimana kita dengan barter ini kan tidak tergantung mata uang asing,” jelasnya.

Dengan skema barter ini, Indonesia berharap dapat memperkuat hubungan dagang dengan Filipina, mendukung industri tekstil dan baja dalam negeri, serta menurunkan ketergantungan pada dolar AS. Potensi volume ekspor yang lebih tinggi juga dapat membantu menstabilkan nilai rupiah.

Skema Imbal DagangBarterSerat AbakaBijih BesiKrakatau SteelIndonesia-FilipinaUS$350 Juta

Komentar

Memuat komentar...