Bayi Panda Satrio Bisa Dijenguk Publik 30 Mei di Safari

Guntur P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Bayi Panda Satrio Bisa Dijenguk Publik 30 Mei di Safari

Gambar atau konten salah?

Satrio Wiratama, bayi panda raksasa yang baru lahir, akan dapat dijenguk publik di Taman Safari Indonesia pada 30 Mei 2026. Taman Safari, yang terletak di Bogor, menandai pencapaian penting dalam upaya konservasi satwa langka dari China.

Dalam sesi media update, tim medis TSI terlihat teliti merawat bayi panda tersebut. Para dokter hewan dan penjaga mengenakan seragam medis hijau steril lengkap, masker, dan penutup kepala. Pemeriksaan dilakukan di ruang perawatan berdinding kaca yang disebut inkubator, tempat Satrio, yang juga dikenal sebagai Rio atau Liao, menikmati bambu sambil diperiksa kesehatan.

Satrio, bayi panda pertama yang lahir di Indonesia, menampilkan bulu hitam-putih tebal yang mulai tumbuh. Ia diamati bersama koleksi mainan panda berbulu di dalam ruang tersebut. Direktur TSI, Aswin Sumampau, menekankan daya tarik luar biasa panda, yang memikat penggemar global.

“Dan salah satu kelucuan panda itu adalah teledor gitu ya. Jadi kalau tidur kepalanya kadang di bawah, kadang jatuh sendiri, kadang ngguling,” ungkap Aswin kepada awak media di Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Aswin menjelaskan bahwa panda muda cenderung ceroboh. “Kita coba dulu yang (ketinggian) 80 sentimeter, 90 sentimeter supaya dia tahu kalau jatuh itu rasanya apa, gimana, terus mereka belajar,” jelas Aswin. Sementara panda dewasa tidak masalah jika terjatuh dari ketinggian 1 hingga 1,5 meter, bayi panda memerlukan proses belajar bertahap.

Program pembiakan Satrio mendapat pujian dari berbagai pihak. Dr. Bongot Huaso Mulia, Vice President Life Science TSI, menyebut tanggapan dari pihak China sangat positif. Ia mengakui dedikasi TSI dalam pembiakan spesies endemik. Nama Satrio diberikan pada Desember lalu ketika Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menjamu anggota parlemen China terkemuka.

Bongot menjelaskan tantangan dalam pembiakan panda. “Apalagi lembaga konservasi seperti kita yang hanya diberi sepasang gitu. Jadi cowoknya nggak bisa milih cewek gitu kan ya. Jadi kalau memang nggak suka ya nggak suka gitu,” terang Bongot. Ia menambahkan, “Pencarian pasangan secara inheren menghadirkan tantangan yang signifikan, bahkan di habitat aslinya.”

Untuk mengatasi masalah tersebut, TSI melakukan penelitian menyeluruh mengenai inseminasi buatan. Proses ini memerlukan kerja sama tim yang erat antara para ahli dari Eropa, China, dan Indonesia. Tujuannya adalah mengembangkan teknik inseminasi yang paling efektif.

Pengunjung Taman Safari dapat menunggu hingga akhir bulan untuk melihat Satrio. “Nanti untuk publik sendiri kita mendorong untuk di akhir bulan nanti di tanggal 30 untuk sudah bisa dilihat berkala oleh publik. Walaupun mungkin tidak bisa sepanjang hari ataupun ada di luar dan sebagainya, karena sekali lagi itu membutuhkan waktu untuk training,” ujar Bongot. Selama masa orientasi awal pada tanggal 30 Mei, panda yang akrab disapa Rio atau Li Ao diperkirakan hanya akan tampil sebentar, sekitar 2 hingga 3 jam setiap hari.

Pihak pengelola optimis bahwa pada bulan Juni dan Juli, bayi panda yang menggemaskan ini akan siap menyambut hangat semua pengunjung Taman Safari selama masa liburan mereka. Rencana kunjungan publik dirancang dengan ketat, mengingat risiko panda muda terjatuh, memakan akar rumput atau tanah berbahaya, serta rentan terhadap virus dan bakteri.

Dengan keberhasilan ini, TSI menegaskan komitmennya dalam melestarikan spesies langka. Satrio Wiratama menjadi simbol upaya konservasi yang melibatkan kolaborasi internasional, penelitian ilmiah, dan perhatian publik. Keberadaan bayi panda ini juga menambah nilai edukatif bagi pengunjung, memperlihatkan betapa pentingnya perlindungan satwa dalam ekosistem global.

Satrio WiratamaTaman Safari Indonesiapanda raksasakonservasi satwapembiakan pandainseminasi buatankolaborasi internasionalpengunjung publik

Komentar

Memuat komentar...