Belanda Bangun Pariwisata Indonesia Awal 1900, Tarik Turis Eropa
Gambar atau konten salah?
Di awal abad ke‑20, Belanda menjadi satu‑satunya pemerintah kolonial di Asia Tenggara yang memikirkan potensi alam dan budaya daerahnya sebagai destinasi wisata bagi turis Eropa. Saat itu, koloni Inggris di Malaya dan Prancis di Indochina belum mengembangkan konsep serupa.
Turisme di Hindia Belanda didukung oleh jaringan kereta api di Pulau Jawa dan Sumatra serta jalur pelayaran kapal‑kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Rute ini menghubungkan pulau‑pulau di Nusantara, memudahkan perjalanan bagi para pengunjung.
Belanda memperkenalkan tagline Mooi Indie, yang menonjolkan keindahan alam, budaya, dan keramahan orang Indonesia. Paket‑paket wisata yang ditawarkan meliputi candi‑candi kuno, gunung‑gunung berapi, serta pesona alam lainnya.
Perkembangan pariwisata semakin melaju setelah Terusan Suez dibuka pada 17 November 1869. Pintu ini mempersingkat jarak tempuh antara Eropa dan Hindia Belanda, menurunkan biaya transportasi dan menarik lebih banyak wisatawan.
Keberpihakan pemerintah kolonial terlihat lewat pendirian Officielle Vereeniging voor Toeristen Verkeer in Nederlandsch Indie pada 01 January 1907. Organisasi ini bertugas mengatur dan mempromosikan perjalanan wisata di wilayah tersebut.
Jumlah pengunjung Eropa pada 01 January 1908 hanya 208 orang. Namun, pada 01 January 1913 angka tersebut melonjak menjadi 5.579, sebelum menurun menjadi 4.516 pada 01 January 1914 dan terus menurun menjadi 380 pada 01 January 1915 akibat dampak Perang Dunia I.
Setelah perang, kunjungan mulai pulih. Pada 01 January 1922 jumlah turis mencapai 3.081. Destinasi utama bagi wisatawan Eropa meliputi Batavia, Bandung, Bogor, Garut, Sukabumi, Sindanglaya, dataran tinggi Dieng, Tengger, Surabaya, Bali, dan Sumatera.
Langkah penting lainnya terjadi pada 01 January 1929 ketika jumlah turis mencapai 10.000. Peningkatan ini menandai puncak industri pariwisata di Hindia Belanda pada periode tersebut.
Penulis: Hari Suroto, bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan XVII Sulawesi Utara.
Pariwisata kolonial Belanda memanfaatkan infrastruktur transportasi dan strategi pemasaran sederhana untuk menampilkan keindahan Indonesia kepada dunia, sekaligus menciptakan fondasi bagi industri pariwisata modern di wilayah ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Prabowo Aktifkan Bandara Husein, Bandara Kertajati Terancam
Bandara Husein Siap Kembali, Kertajati Tertinggal
Berita Terbaru
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
