BKSDA Selidiki Jejak Diduga Harimau di Muratara
Gambar atau konten salah?
Warga Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, digegerkan dengan penemuan jejak kaki yang diduga milik harimau Sumatera. Menanggapi laporan itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan langsung turun tangan ke lokasi untuk menyelidiki.
Jejak kaki tersebut ditemukan di Desa Kuto Tanjung, Kecamatan Ulu Rawas, Muratara. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumsel, Yusmono, mengatakan pihaknya melakukan peninjauan setelah menerima informasi adanya dugaan jejak harimau di daerah itu.
Meski jejak sudah ditemukan, Yusmono mengaku belum bisa memastikan apakah itu benar-benar jejak harimau. "Iya, kami melakukan peninjauan di Ulu Rawas kemarin (8 Juli 2026) karena ada temuan jejak harimau. Kalau yang temuan terakhir belum bisa dipastikan apakah itu jejak kaki harimau atau bukan karena jejaknya kurang jelas lantaran berada di semak-semak," katanya pada Kamis, 9 Juli 2026.
Yusmono mengungkapkan, laporan awal penemuan jejak itu ternyata bukan berasal dari warga setempat. Pelapor justru datang dari Sarolangun, Jambi. Hal ini membuat petugas kesulitan menggali informasi lebih rinci soal lokasi pasti penemuan jejak. "Yang membuat laporan itu bukan orang asal sana, tapi asal Sarolangun sehingga tidak bisa dimintai keterangan lebih lanjut. Setelah kami cek ke lokasi, jejaknya juga tidak terlalu jelas," ujarnya.
Setelah menemukan jejak tersebut, Yusmono bersama petugas SPTN Wilayah V dan warga setempat melakukan penyisiran di lokasi yang diduga menjadi tempat kemunculan satwa. Namun, petugas tidak menemukan jejak baru sama sekali.
Berdasarkan hasil analisis di lapangan dan informasi dari masyarakat, Yusmono mengatakan satwa yang diduga muncul itu lebih mengarah ke macan dahan, bukan Harimau Sumatera. "Kami belum bisa memastikan apakah itu Harimau Sumatera atau macan dahan. Warga di sana juga banyak yang belum mengetahui jenis satwa tersebut, sehingga belum bisa dipastikan apakah macan dahan atau macan akar," jelasnya.
Meski begitu, pihaknya tetap memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang cara menghindari interaksi negatif dengan satwa liar. "Petugas mengimbau warga untuk menghindari aktivitas di kawasan hutan pada sore hingga malam hari, tidak mendekati lokasi yang diduga menjadi habitat satwa, tidak melakukan perburuan maupun pemasangan jerat, serta segera melaporkan kepada petugas apabila kembali menemukan jejak atau kemunculan satwa liar," imbaunya.
Selain menindaklanjuti laporan jejak kaki, Yusmono mengatakan pihaknya juga mengecek kembali lokasi di Desa Kuto Tanjung. Di tempat yang sama, pada bulan Mei 2026 lalu, ada 17 ekor ternak warga yang mati akibat serangan satwa liar. "Sudah dicek juga yang laporan ternak mati di Kuto Tanjung. Itu juga akan kami tindak lanjuti," tuturnya.
Penemuan jejak ini menjadi pengingat bahwa kawasan Muratara masih menjadi habitat berbagai satwa liar. Meski jejak yang ditemukan belum pasti milik harimau, keberadaan macan dahan atau satwa lain tetap perlu diwaspadai. Warga diimbau untuk selalu waspada dan melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar di sekitar pemukiman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp20.000 per Gram Hari Ini
Deru Sidak SPBU, Temukan Pengisian BBM Butuh 8,5 Menit
Kasus Flu Singapura di Sumsel Tembus 628 Orang
Gubernur Deru: Jangan Beban, Fokus Latihan Paskibraka
BPH Migas Temukan Celah Barcode BBM Subsidi di Jambi
Lonjakan 92 Hotspot di Sumsel, Tertinggi Sepanjang Juli
Berita Terbaru
PB Jaya Raya Pertahankan Gelar Juara Umum Junior Grand Prix
Hanya 3 Siswa Baru di SDN Purwoyoso Semarang
Antrean BBM di Medan, Ombudsman Turun Tangan
Tokenisasi Aset Nyata Diprediksi Tembus US$5,5 Triliun pada 2030
Ruko Empat Lantai di Medan Terbakar, Api Berawal dari Kabel Listrik
Petani Perempuan Tewas Diterkam Ular Piton 6 Meter
Pipa Bocor di IGD RS Elim, Bupati Turun Tangan
Polisi Puncak: Berjibaku Lawan Macet Tiap Akhir Pekan
PAD Rembang Capai 44,19 Persen di Semester I
Pasangan Digerebek di Kamar Mandi Masjid Magelang
