BMKG Klarifikasi Sesar Kendeng: Risiko Gempa di Jawa Timur

Ika P. · 4 min baca · 20 menit lalu · 3 dibaca
Bisik.id
BMKG Klarifikasi Sesar Kendeng: Risiko Gempa di Jawa Timur

Gambar atau konten salah?

BMKG menjelaskan kembali tentang Sesar Kendeng yang menjadi sorotan di media sosial setelah gempa Palu. Penjelasan ini muncul di tengah kekhawatiran publik mengenai potensi gempa bumi berskala besar di beberapa daerah di Jawa Timur.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, Sesar Kendeng adalah zona patahan aktif yang melintasi wilayah Pulau Jawa. Ia menegaskan bahwa sesar ini harus diwaspadai karena berada di kawasan padat penduduk.

“Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk,” kata Ricko. Ia menambahkan bahwa sesar ini memang ada di sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Bojonegoro.

Jalur Sesar Kendeng melintasi sekitar 300 kilometer di Pulau Jawa. Ia membentang dari selatan Semarang, Jawa Tengah, hingga ke wilayah Jawa Timur. Dalam penjelasannya, Ricko memecah sesar ini menjadi enam segmen utama yang melewati berbagai wilayah perkotaan dan kabupaten.

Segmen-segmen tersebut adalah:

  • Segmen Demak
  • Segmen Purwodadi
  • Segmen Cepu
  • Segmen Blumbang (melintasi Lamongan)
  • Segmen Surabaya (melintasi jantung Kota Surabaya)
  • Segmen Waru (melintasi Sidoarjo)

Secara administratif, jalurnya meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya.

Ricko menegaskan bahwa terakhir kali Sesar Kendeng beraktivitas dan berdampak cukup parah terjadi pada tahun 1915. Ia menjelaskan bahwa sesar ini bergerak lambat, sekitar 5 milimeter per tahun, dan memiliki periode ulang gempa yang panjang. Karena itu, gempa besar akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu.

“Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu,” jelas Ricko.

Ia kemudian membeberkan gempa bumi akibat Sesar Kendeng yang berdampak buruk di antaranya terjadi pada tahun 1836 dan 1837. Pada saat itu, gempa merusak wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang. Estimasi kekuatannya mencapai Magnitudo 6 hingga 7 bila dikonversi ke skala modern.

Selanjutnya, gempa akibat Sesar Kendeng terjadi pada tahun 1862 dan 1915, di mana gempa merusak melanda wilayah Madiun. Pada tahun 1867, gempa kuat merusak wilayah Surabaya.

Ricko juga mengungkapkan kondisi Sesar Kendeng dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengatakan bahwa mereka mendeteksi aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini,” tandasnya.

Viral di media sosial Threads muncul unggahan akun yang menyebut gempa berkekuatan magnitudo 6,7 di Palu dapat memicu gempa di sejumlah daerah, termasuk Bojonegoro, Jawa Timur. Unggahan tersebut memicu beragam komentar hingga kekhawatiran warganet.

Akun Threads dengan nama pengguna hsuliz2021 meminta warga di beberapa daerah, seperti Bojonegoro, Pandeglang, Padang Pariaman, dan Simeulue Aceh, untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6-7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi,” tulis akun tersebut.

Ia juga menyebut tekanan lempeng bumi telah mencapai angka tertentu. “Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6-7-8,” lanjutnya.

Dr. Ir. Amien Widodo, pakar geologi ITS sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, menjelaskan bahwa posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa. Ia menambahkan bahwa arah pergerakan sesar di wilayah tersebut tidak berada dalam satu garis lurus dengan Jawa.

“(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung,” jelas Amien.

Menurut Amien, lokasi gempa Palu berada di kawasan Sesar Palu-Koro dan pergerakannya menuju arah barat laut, sehingga menjauh dari Jawa.

“Jadi, dia ada di tengah Palu, ada di daerah sesar Palu-Koro, di sebelah utaranya lagi malah gitu. Nah, itu bergeraknya itu menuju ke arah barat laut. Jadi, kalau utara barat itu namanya barat laut, kan menjauh dari Jawa tadi,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika berbicara mengenai sesar di Jawa, termasuk Sesar Kendeng, faktor yang berpengaruh kemungkinan berasal dari zona megathrust di selatan Jawa. “Kalau di Jawa itu memang ada sesar-sesar juga tadi, Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu. Kalau dari utara kan jarang. Dari utara itu yang terakhir kan yang sesar itu Bawean,” imbuhnya.

Video: Gempa M 6,3 Guncang Afghanistan Tewaskan 20 Orang

Informasi ini menegaskan bahwa meski Sesar Kendeng masih aktif, pergerakannya lambat dan gempa besar yang terkait biasanya tercatat di masa lalu. Sementara gempa Palu tidak secara langsung memicu gempa di Jawa karena perbedaan posisi dan arah pergerakan sesar. Masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap aktivitas seismik di wilayah mereka.

Sesar KendengBMKGGempa PaluJawa TimurZona PatahanAktivitas SeismikMegathrust

Komentar

Memuat komentar...