BTG Kotagede Ditutup Sementara Karena Kelakuan Turis Asing

Iwan D. · 3 min baca · 6 jam lalu · 35 dibaca
Bisik.id
BTG Kotagede Ditutup Sementara Karena Kelakuan Turis Asing

Gambar atau konten salah?

Di kawasan heritage Between Two Gates (BTG) di Kotagede, Kota Jogja, pengelola destinasi menutup pintu sementara setelah kelakuan wisatawan berombongan yang dianggap mengganggu.

Pengelola, Joko Nugroho, mengungkapkan penutupan terjadi pada 31 Mei 2024 pagi. Menurutnya, pada jam 07.00 pagi, dua bus wisatawan asing tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Itu ada serombongan wisatawan manca ya, katanya dari Asia itu, dua bus. Karena pagi sekali kemudian juga mereka ini banyak ya jadi ramai banget dan berisik,” jelas Joko saat dihubungi pada 3 Juni 2024.

Warga yang tinggal di sekitar BTG merasa tidak nyaman. Salah satu warga bertanya mengapa tidak ada pemberitahuan. Akibatnya, pengelola memutuskan untuk menutup akses agar tidak mengganggu warga yang masih ingin masuk.

BTG terletak di sisi selatan Pasar Kotagede, sekitar 350 meter dari pasar. Kampungnya berada di area Alun‑Alun KG III/770, RT 37, RW 09, yang termasuk ke dalam Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Jogja.

Menurut Joko, BTG adalah halaman belakang rumah warga yang membentuk gang. Jalan-jalan atau gang tersebut menjadi spot menarik untuk dikunjungi, namun ia menegaskan bahwa BTG masih termasuk area privat.

“Sebenarnya bukan area publik, tapi ini sebenarnya halaman rumah. Kita sepakat di sini untuk dibuka itu memang sejak dari dulu, mungkin ya semasa kakek saya itu sudah sudah ada kesepakatan. Sudah ini jadi jalan bantuan,” papar Joko.

Ia menambahkan, “Kan kalau setiap rumah Jawa itu kan terdiri dari dua bagian yang sisi utara dan selatan, di tengah‑tengahnya itu kan ada halaman. Dan rumahnya itu kan selalu menghadap selatan sehingga kalau dibuka itu memang jadi desa jadi kayak gang kecil gitu kan seperti itu.”

Setelah informasi dan media sosial menyebar, banyak orang datang untuk berfoto, membuat konten, dan membuat BTG viral di warganet.

Joko mengatakan, kejadian pada hari Minggu kemarin adalah puncak akumulasi kemarahan warga. Ia menegaskan bahwa tidak kepada wisatawan yang menggunakan jasa tour guide atau agen wisata, melainkan wisatawan mandiri yang datang tanpa informasi yang jelas.

“Pengunjung mandiri hanya datang dengan berbekal informasi dari media sosial. Saat datang ke Between Two Gates, mereka tidak menerapkan perilaku yang seharusnya dijaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Itu sebenarnya kan jadi pemicu puncaknya di hari Minggu, tapi sebelum ada kejadian itu memang ada keluhan warga juga tentang para pengunjung yang memang attitude-nya kurang. Nah, itu rata-rata mereka itu yang datang bermodalkan media sosial. Jadi bukan bukan wisatawan dalam perjalanan yang betul‑betul wisatawan.”

Di BTG, sudah ada papan informasi atau imbauan untuk tetap menjaga attitude. Namun menurut Joko, wisatawan mandiri ini tak mengindahkan aturan itu.

“Berbeda dengan wisatawan yang datang dengan jasa tour guide yang selalu menghubungi saat akan berkunjung. Tour guide otomatis akan memberi arahan ke wisatawan untuk menjaga attitude,” jelasnya.

Ia menegaskan, “Kami itu juga sudah berusaha untuk mengantisipasinya, misalnya kita bikin aturan, bikin papan‑papan informasi di sepanjang pintu itu, tata aturan himbauan pada pengunjung untuk berlaku sopan. Kita beritahu bahwa ini itu bukan area publik, private dan sebagainya. Tapi rata‑rata mereka itu literasinya nuwun sewu memang rendah.”

BTG kini sudah dibuka kembali. Namun Joko menyatakan bahwa warga masih akan mengadakan rapat besok untuk menentukan langkah agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kita baru cari formula, besok itu kita akan mau ada pertemuan, sebaiknya gimana dan solusinya gimana, misalnya di pintu utama itu kasih apa atau bagaimana,” ungkapnya.

Ia menutup, “Nah, itu yang baru kita akan ini, karena kita memang harus sepakat dulu ini. Di satu deret ini kan ada sembilan rumah, sembilan keluarga yang kita harus sepakat dulu bahwa nanti seperti apa.”

Peristiwa ini menyoroti ketegangan antara pelestarian budaya dan pariwisata. BTG, yang dulunya ruang privat, kini harus menyeimbangkan akses publik dengan hak warga. Keputusan untuk menutup pintu sementara dan menyusun aturan baru menunjukkan upaya warga dan pengelola untuk menjaga ketertiban dan nilai budaya di tengah arus wisatawan yang terus meningkat.

BTGKotagedewisatawan asingpenutupan pintuwisatawan mandirimedia sosialkebijakan akses

Komentar

Memuat komentar...