Cheese Bukan Penyebab Kolesterol Tinggi: Penelitian Baru

Rudi H. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Cheese Bukan Penyebab Kolesterol Tinggi: Penelitian Baru

Gambar atau konten salah?

Keju sering menjadi bahan yang dicoret dari menu bagi orang yang pernah didiagnosa kolesterol tinggi. Alasannya mudah dipahami: keju mengandung lemak jenuh, zat yang lama dianggap dapat menaikkan LDL atau kolesterol jahat. Namun, penelitian baru menunjukkan hubungan antara keju dan kolesterol tidak sesederhana itu.

Para ilmuwan mulai menilai bahwa efek makanan pada kesehatan jantung tidak bisa diukur hanya dari satu zat gizi. Sebuah tinjauan yang dipimpin Thorning dkk. dan diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition pada 2021 menegaskan bahwa produk susu tidak dapat diprediksi hanya berdasarkan kandungan lemak jenuhnya. Peneliti menambahkan bahwa food matrix—struktur makanan secara keseluruhan—juga memengaruhi hasilnya.

Temuan serupa muncul dalam tinjauan yang diterbitkan di Advances in Nutrition pada 2023. Para peneliti menyatakan bahwa bukti ilmiah saat ini menunjukkan hubungan antara produk susu dan kesehatan kardiovaskular lebih kompleks daripada yang dulu dipahami. Dengan kata lain, keju memang mengandung lemak jenuh dan dapat berkontribusi pada peningkatan LDL bila dikonsumsi berlebihan, tetapi efeknya tidak selalu sama dengan makanan lain yang juga tinggi lemak jenuh.

Karena itu, sejumlah studi membandingkan keju dengan sumber lemak susu lain, seperti mentega, untuk melihat apakah keduanya memberikan dampak yang sama terhadap kolesterol. Salah satu penelitian yang sering dijadikan rujukan dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition pada 2011. Dalam studi yang dipimpin Janne Hjerpsted dan rekan-rekannya, peneliti membandingkan konsumsi keju dan mentega yang memiliki kandungan lemak setara.

Hasilnya cukup menarik. Setelah enam minggu, peserta yang mengonsumsi keju memiliki kadar kolesterol LDL lebih rendah dibandingkan kelompok yang mengonsumsi mentega dengan jumlah lemak yang sama. Peneliti juga menemukan bahwa konsumsi keju tidak meningkatkan LDL dibandingkan pola makan biasa yang dijalani peserta sebelum penelitian.

Temuan serupa sebenarnya muncul lebih awal. Dalam penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition pada 2005, Tholstrup dkk. menemukan bahwa lemak susu yang dikonsumsi dalam bentuk mentega meningkatkan kolesterol total dan LDL secara lebih besar dibandingkan jumlah lemak yang sama yang dikonsumsi dalam bentuk keju.

Bagaimana penjelasan di balik perbedaan ini? Konsep food matrix menjadi kunci. Dalam tinjauan yang diterbitkan pada 2021, Thorning dkk. menjelaskan bahwa tubuh tidak mencerna zat gizi secara terpisah. Kandungan protein, kalsium, proses fermentasi, serta struktur fisik keju dapat memengaruhi cara tubuh menyerap dan memetabolisme lemak. Karena itu, efek keju terhadap kolesterol bisa berbeda dibandingkan makanan lain yang memiliki kandungan lemak jenuh serupa.

Temuan ini diperkuat oleh meta‑analisis Alexander dkk. yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition pada 2016. Setelah menganalisis berbagai penelitian observasional, para peneliti menemukan bahwa konsumsi keju tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner maupun penyakit kardiovaskular secara keseluruhan.

Meskipun demikian, keju tetap mengandung kalori, lemak jenuh, dan natrium yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi atau faktor risiko penyakit jantung lainnya. Para ahli menekankan bahwa yang paling menentukan adalah pola makan secara keseluruhan, bukan satu jenis makanan saja.

Jadi, benarkah keju bikin kolesterol naik? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Meski mengandung lemak jenuh, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa efek keju terhadap kolesterol dan kesehatan jantung dapat berbeda dibandingkan sumber lemak jenuh lain. Karena itu, keju tidak dapat dinilai hanya dari kandungan lemak jenuhnya. Namun, keju tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah wajar sebagai bagian dari pola makan sehat dan seimbang.

Keju, mentega, dan produk susu lainnya tetap berada di bawah pengawasan organisasi kesehatan seperti World Health Organization dan American Heart Association, yang masih merekomendasikan pembatasan asupan lemak jenuh. Namun, data terbaru memaksa kita untuk melihat lebih jauh ke dalam struktur makanan, bukan hanya komposisi nutrisi.

Dengan memahami bahwa tubuh menafsirkan makanan secara keseluruhan, kita dapat membuat pilihan yang lebih tepat. Keju, bila dikonsumsi secara moderat dan dalam konteks diet seimbang, tidak perlu menjadi tabu bagi orang yang peduli kolesterol. Tetapi tetap penting memantau asupan kalori, lemak, dan natrium, serta menjaga pola makan yang beragam.

Keju tetap menjadi sumber protein, kalsium, dan vitamin B12 yang penting. Sementara mentega, meskipun kaya lemak jenuh, tidak menunjukkan dampak kolesterol yang sama ketika dibandingkan dengan keju. Hasil ini menegaskan pentingnya melihat makanan dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya satu zat gizi.

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang ingin menjaga kesehatan jantung, fokus pada pola makan secara keseluruhan—termasuk variasi jenis makanan, proporsi, dan frekuensi konsumsi—lebih penting daripada menolak satu jenis makanan secara berlebihan. Keju dapat tetap menjadi bagian dari diet sehat, asalkan dikonsumsi dengan bijak.

kejukolesterollemak jenuhfood matrixpola makanpenelitiandiet seimbang

Komentar

Memuat komentar...