Dari Bantul ke Belanda, Perjuangan Ahmad Rif'an Raih Mimpi
Gambar atau konten salah?
Ahmad Rif'an Khoirul Lisan, seorang anak dari guru ngaji di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menjalani perjalanan yang mengesankan. Ia tidak pernah menyangka bahwa usaha dan ketekunannya akan membawanya ke Belanda.
Perjalanan pendidikan Rif'an dimulai pada tahun 2012 ketika ia masuk Fakultas Geografi di UGM. Meskipun mendapat penolakan dari ayahnya, yang khawatir mengenai biaya pendidikan karena masih ada enam adik yang harus diperhatikan, Rif'an tetap bertekad untuk melanjutkan sekolah. Menurutnya, pendidikan adalah cara untuk mengubah keadaan keluarganya dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi adik-adiknya.
Selama tahun-tahun awal kuliah, Rif'an berusaha keras untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa. Ia berhasil mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang sangat membantunya. Aktif di berbagai organisasi kampus, Rif'an tidak hanya belajar, tetapi juga mengandalkan makanan dari acara-acara yang diadakan. Ia mengingat, "Saya suka ikut kegiatan karena tahu ada konsumsi," ujarnya.
Pada saat-saat sulit, ia harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan uang saku yang terbatas, sekitar Rp4.000, ia mencari warung termurah untuk membeli nasi, sayur, dan gorengan.
Di semester terakhir, Rif'an menjadi mentor bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri. Dengan nilai TOEFL 570, ia berhasil mendapatkan beasiswa LPDP Kementerian Keuangan untuk belajar di Arizona State University, Amerika Serikat.
Meskipun kondisi keuangannya membaik berkat beasiswa, Rif'an tetap hidup sederhana. Ia lebih sering memasak sendiri dan memanfaatkan food bank di kampus. Pandemi COVID-19 mengubah rencananya untuk belajar. Setelah 15 bulan di Amerika, ia kembali ke Indonesia dan menyelesaikan program magister pada tahun 2020.
Setelah kembali, Rif'an bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan kemudian menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Namun, ia tidak berhenti di situ. Pada tahun 2024, ia kembali mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research di Belanda, fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.
Bagi Rif'an, perjalanan akademiknya bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang kontribusi kepada masyarakat. Ia menyampaikan pesan kepada siapa pun yang berjuang, "Gusti mboten sare - Tuhan tidak pernah tidur." Saat ini, ia berada di tengah penyelesaian pendidikan doktoral di salah satu universitas riset pertanian terkemuka di Eropa. Rif'an terus mengenang perjalanan panjangnya menuju impian dan berharap dapat memberikan dampak positif bagi pertanian di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Alumni ITB 2018: Waktu Tunggu Kerja dan Wirausaha Singkat
Ekshibisi AI Kembali Jadi Cabang OSN 2026, Siap Menguji Siswa
Puspresnas Ungkap Foto Soal OSN 2026, Ponsel Diizinkan
Furtasan Usulkan PTN Seleksi Mahasiswa Hanya Dua Jalur
Kucing Terapi Pinecone Jadi Asisten Guru Seni Rhode Island
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
