Dinas Damkar Semarang Simpan Ular Evakuasi di Pemberdayaan
Gambar atau konten salah?
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang menampung sejumlah ular hasil evakuasi di ruang Pemberdayaan Masyarakat lantai dua Mako Damkar Kota Semarang, Kecamatan Semarang Barat. Ular-ular ini disimpan dalam bok‑bok plastik yang dilengkapi ventilasi berupa lubang kecil di beberapa sisi. Koleksi ini terdiri dari berbagai jenis, mulai dari piton hingga corn snake atau ular jagung. Warna dan corak tubuhnya beragam, menambah nilai estetika sekaligus menambah beban perawatan.
Ular ball python menonjol dengan corak lingkaran yang menakjubkan, berwarna kuning kecoklatan dan hitam. Ular ini biasanya tenang, sering melilit tangan ketika dipegang. Panjangnya hampir dua meter dan tubuhnya licin, membuatnya menjadi primadona di antara koleksi. Sementara itu, python bivittatus atau sanca bodo, meski tidak berbisa, terlihat agresif dan tidak dapat dipegang. Ukurannya sekitar seorang meter, dengan corak lingkaran hitam dan warna krem.
Ular corn snake memiliki warna oranye cerah, tidak berbisa, dan jinak. Ia sering menjadi pilihan bagi pemilik yang ingin memelihara ular tanpa risiko. Sementara albolabris hanya berukuran 20 sentimeter, warnanya hijau cerah, namun berbisa. Keberadaan ular berbisa ini menambah kompleksitas perawatan di markas Damkar.
Menurut R. Kelvin Adirahmat Putera, Analis Kebakaran Ahli Pertama Damkar Kota Semarang, ada enam koleksi ular di kantor. Sebagian besar adalah piton. Ia menambahkan, “Yang pertama ada ball python. Itu ada tiga ekor. Terus ada corn snake atau ular jagung satu ekor. Terus ada satu lagi python bivittatus,”
Kelvin melanjutkan, “Ada sama satu lagi yang memang nggak boleh di-handling ya. Dia memang berbisa tinggi, albolabris,”
Kelvin menjelaskan alasan pemeliharaan ular hasil evakuasi: “Jadi saya sempat sharing dengan beberapa teman, itu dia pilih ball python tapi tidak bisa atau tidak kuat untuk memberi makan akhirnya dilepasliarkan. Padahal ball python sendiri itu habitatnya bukan di Indonesia, asli dari Afrika, yang mana kalau dilepasliarkan di sini akan jauh berbeda habitat dengan habitat aslinya,”
Ia menambahkan, “Jadi chance untuk dia bertahan di situ (Indonesia) sangat kecil. Nah, kebetulan kami berhasil me-rescue beberapa dan itu tadi kami tidak lepaskan, tapi kami rawat di sini,”
Kelvin juga berbagi tentang corn snake: “Ular jagung, kata Kelvin, merupakan reptil endemik Amerika Serikat. Dia menduga, satwa tersebut lepas dari pemiliknya sehingga berkeliaran.” Ular ini dievakuasi Damkar Kota Semarang dalam keadaan luka. Warga mengira ular tersebut berbisa karena warnanya yang cerah. “Warga melihatnya kok menyala oranye kan dipikir berbisa, akhirnya cepat dipukul. Untung pada saat itu teman-teman rescue bisa berhasil untuk menyelamatkannya. Akhirnya kami rawat di sini,” ungkapnya.
Kelvin menambahkan tentang python bivittatus: “Kalau yang terancam punah atau rare ada, yaitu tadi python bivittatus. Itu dia termasuk salah satu hewan atau ular yang dilindungi,”
Kelvin menjelaskan habitat albolabris: “Ular hijau yang ekor merah itu habitatnya memang di Indonesia ada. Dia biasanya di semak‑semak, di dahan‑dahan pohon gitu,”
Kelvin mengungkap nilai jual ular: “Kelvin menjelaskan ular jagung di Mako Damkar Kota memiliki harga jual hingga Rp 2 juta. Sementara ular sanca yang dikoleksi bernilai hingga Rp 5 juta.” Ia melanjutkan, “Kalau untuk yang ball python itu bisa sekitar Rp 4 juta sampai Rp 5 jutaan. Kalau yang corn snake itu sekitar Rp 2 jutaan,”
Kelvin menyayangkan banyak pemilik ular yang tidak merawat: “Kedua ular tersebut biasanya menjadi hewan peliharaan. Namun, Kelvin menyayangkan jika ular tersebut tidak dirawat.” Ia menambahkan, “Kadang‑kadang ini yang sangat saya sayangkan sih, banyak sekali keeper (pemilik ular) di Indonesia itu yang dia mau untuk memelihara ular, tapi tidak mau merawatnya,”
Kelvin menjelaskan prosedur perawatan: “Kalau tiap‑tiap ular rata‑rata (cara merawatnya) hampir sama. Yang penting kita harus menjaga kebersihan kandangnya, yang pertama. Terus kalau dia buang air, harus segera dibersihkan supaya tidak menimbulkan jamur,”
Ia melanjutkan, “Lalu kalau dia makan, kadang ada beberapa ular itu yang kalau nggak nyaman, dia memuntahkan makanannya. Nah, itu harus segera diambil supaya tidak dirubung semut. Terus juga dimandikan,”
Kelvin menutup pembicaraan tentang pakan: “Kalau makan rata‑rata tikus putih. Jangan tikus hitam, karena kalau tikus yang hitam itu kita nggak tahu kumannya, kebersihannya gimana, tikusnya sakit atau nggak. Jadi kami membelikan tikus putih yang sudah diternak, yang kualitasnya juga bagus,”
Ular-ular yang diselamatkan di Mako Damkar Kota Semarang tidak hanya menjadi koleksi, tetapi juga simbol upaya pelestarian. Perawatan yang teliti, mulai dari pembuatan kandang yang bersih hingga pemberian pakan yang tepat, menjadi kunci keberhasilan penyelamatan. Keberadaan ular ini juga menyoroti pentingnya pengetahuan tentang habitat dan perilaku masing‑masing spesies, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat mengancam keselamatan manusia maupun hewan. Dengan nilai jual yang signifikan, pemeliharaan yang profesional menjadi tanggung jawab bersama antara petugas dan masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Puasa 1 Muharam 1448 H: Boleh, Niat & Jadwal 16 Juni
1 Muharam 1448 H Jadi Hari Libur Nasional, Banner dan Ucapan
Sumur Puter Sunan Kudus: Cerita Tersesat di Gang Sempit
Sumur Puter di Kudus, Mitra Barang Hilang? Belum Ada Bukti
Sumur Puter di Kudus: Warisan Air Sunan yang Terlupakan
BEM Solo Raya Demonstrasi di DPRD Solo, Aksi Berakhir Damai
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
