Dukuh Mao: Nama Tiga Huruf, Dua Desa, Sejarah Kecil

Yuli S. · 3 min baca · 28 hari lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Dukuh Mao: Nama Tiga Huruf, Dua Desa, Sejarah Kecil

Gambar atau konten salah?

Dukuh Mao terletak di Klaten, Jawa Tengah, tepat di pinggiran Kota Kecamatan Jatinom. Meskipun hanya terdiri dari tiga huruf, nama ini menjadi ciri khas bagi penduduk setempat.

Secara administratif, Dukuh Mao terbagi menjadi dua bagian. Bagian baratnya berada di Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom, sementara bagian timur terletak di Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen. Kedua wilayah ini saling berbagi nama yang sama, meski berada di bawah pengelolaan desa dan kecamatan yang berbeda.

Geografisnya, Dukuh Mao tidak berada di daerah terpencil. Ia berada di tepi Jalan Raya Klaten-Jatinom, yang menjadi jalur utama bagi penduduk dan wisatawan. Di barat, jalan raya ini mengarah ke objek wisata Umbul Susuan dan Jolotundo. Sementara di timur, utara, dan selatan, hamparan persawahan padi masih terbentang luas, dengan sistem irigasi yang didukung oleh umbul yang tidak pernah kering sepanjang tahun.

Pencaharian penduduk di Dukuh Mao beragam. Ada yang bekerja sebagai petani, buruh, wiraswasta, hingga pegawai negeri. Meskipun satu nama, dua desa, penduduknya tetap bersatu dalam identitas mereka.

“Yang selatan jalan sampai barat sana ikut Mao yang masuk Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, tapi yang Utara jalan masuk Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom. Tapi sama-sama namanya Mao,” ungkap Siti Rahayu, warga Dukuh Mao, Desa Jambeyan, berusia 80 tahun.

Siti mengaku tidak mengetahui sejarah nama kampung tempat kelahirannya. “Sejak saya lahir ya sudah Mao namanya. Apa dulu karena ada kucing bersuara mao-mao atau macan saya tidak tahu,” kata Siti.

Sugiartono, Kepala Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, menambahkan bahwa Dukuh Mao memang merupakan dukuh dengan nama terpendek di Klaten. Ia juga tidak mengetahui asal usul nama tersebut. “Ya terpendek, sebelah ada Desa Pepe tapi masih empat huruf, sini cuma tiga huruf. Artinya apa, sejarahnya bagaimana saya tidak tahu,” kata Sugiartono.

Selama ini, tidak pernah ada cerita yang mengungkap asal usul kata Mao. Nama itu sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka masih hidup. “Sudah sejak nenek moyang. Tapi Mao ada yang ikut Desa Manjungan dan Desa Jambeyan dengan wilayah sama-sama cuma dua RT,” lanjut Sugiartono. “Ada penemuan prasasti tapi namanya prasasti Abyananda, bukan Mao,” imbuhnya.

Menurut Hari Wahyudi, pegiat sejarah Klaten, nama Dukuh Mao kemungkinan berasal dari bahasa Jawa Kawi. Ia menjelaskan bahwa kata Mao atau Maung berarti harimau. “Mao, Maung artinya harimau atau macan Jawa. Memang pernah ada temuan prasasti Mao tapi tidak menyebut kata Mao, prasasti itu menyebut kata bihara Abyananda dan sawah empat tampah (patok),” ungkap Hari yang pernah bersama BRIN menelusuri situs Kropakan dan prasasti Nglubang Dungik, Kecamatan Karanganom.

Prasasti kuno tersebut ditemukan pada tahun 1962 di tepi Dukuh Mao, Desa Jambeyan. Isi prasasti tersebut adalah penetapan sebidang sawah empat tampah patok untuk membiayai vihara Abyananda. Penetapan itu dilakukan oleh istri Rakai Bawan, menurut catatan Hari. Prasasti itu disimpan di kantor Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah X.

Hari menjelaskan bahwa ada dua versi tanggal pembuatan prasasti tersebut. “Oleh Sukarto Atmojo dan LCH Damais isi prasasti ditranslate terbaca 17 Agustus 826 Masehi namun tahun 2019 dikaji ulang EFEO Prancis dan BRIN jadi 3 September 857 Masehi, yang pertama tahun 826 Masehi itu di masa Raja Rakai Warak dan yang kedua tahun 857 Masehi di masa Raja Rakai Pikatan di era Mataram kuno,” terang Hari.

Dalam bahasa Jawa kuno, di kalangan epigraf, Mao sering diartikan harimau atau macan Jawa. Kata ini juga sering muncul dalam prasasti-prasasti lain, menambah nuansa sejarah bagi Dukuh Mao.

Dengan segala keunikannya, Dukuh Mao tetap menjadi contoh kecil bagaimana sejarah, bahasa, dan kehidupan sehari‑hari saling terjalin di sebuah komunitas. Meskipun nama singkat, cerita di baliknya mencerminkan perjalanan panjang masyarakat yang menghargai warisan leluhur mereka.

Dukuh MaoKlatenprasastiharimauKepala Desa ManjunganJawa Kawiwarisan leluhur

Komentar

Memuat komentar...