Ekonomi Emosi Tiongkok: Generasi Muda Belanja Barang Liburan
Gambar atau konten salah?
Di 8 Mei 2026, data menunjukkan bahwa generasi muda di Tiongkok semakin aktif berbelanja barang‑barang liburan, atau nianhuo. Fenomena ini terlihat jelas di pasar online dan toko fisik, di mana produk‑produk seperti boneka Pop Mart dan pernak‑pernik My Little Pony menjadi favorit.
Para konsumen muda tidak hanya mencari barang yang berhubungan dengan tradisi. Mereka juga tertarik pada barang yang mencerminkan identitas pribadi dan memicu rasa emosional. Menurut pakar, perilaku ini menandai pergeseran ke arah apa yang disebut 'ekonomi emosi' (emotion economy), yang diprediksi akan terus tumbuh di Tiongkok.
Perusahaan riset pasar iMedia Research memperkirakan bahwa pasar 'ekonomi emosi' akan melampaui 4,5 triliun yuan dalam beberapa tahun ke depan. Angka ini menegaskan bahwa konsumen muda kini menaruh nilai lebih pada pengalaman emosional yang dibawa oleh produk.
Selain itu, tren lain yang muncul adalah kecenderungan anak muda membeli barang impor. Barang‑barang seperti durian segar dan pomelo, yang sebelumnya dianggap eksotis, kini menjadi pilihan rutin. Impor durian segar mencapai 7,49 miliar dolar AS, sebagian besar berasal dari Thailand dan Vietnam.
Qu Xiaodong, seorang associate researcher di Akademi Ilmu Sosial Shaanxi, mengemukakan, "barang-barang impor telah menjadi bagian yang lebih umum dari kehidupan sehari-hari masyarakat China." Ia menilai bahwa fenomena ini mencerminkan keterbukaan Tiongkok, yang membuka peluang pasar lebih luas, rantai pasokan lebih stabil, dan lingkungan bisnis internasional yang lebih bersahabat.
Para analis menilai bahwa popularitas barang liburan impor menunjukkan adanya permintaan akan keberagaman di kalangan konsumen. Hal ini sejalan dengan upaya negara untuk memperluas keterbukaan berstandar tinggi, memberi akses lebih besar bagi pemasok asing ke pasar domestik.
Di tahun 2026, pemerintah meluncurkan program subsidi yang menargetkan penggantian mobil lama, peralatan rumah tangga, dan perangkat digital. Kebijakan ini secara signifikan meningkatkan sentimen positif konsumen, sekaligus mendorong penjualan ritel.
Program subsidi tidak hanya berdampak pada sektor ritel. Ia juga memberi dorongan pada industri kuliner, hiburan, dan sektor lain yang bergantung pada konsumsi harian. Dengan demikian, kebijakan pemerintah membantu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih dinamis.
Secara keseluruhan, tren belanja di kalangan muda Tiongkok menyoroti pergeseran menuju ekonomi emosional dan peningkatan ketergantungan pada barang impor. Kebijakan subsidi pemerintah dan akses pasar internasional menjadi faktor kunci yang memperkuat dinamika ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Prabowo Aktifkan Bandara Husein, Bandara Kertajati Terancam
Bandara Husein Siap Kembali, Kertajati Tertinggal
Berita Terbaru
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
