El Niño 2026 Prediksi Suhu Pasifik Naik 3-4°C Sesuai ECMWF

Dewi M. · 3 min baca · 9 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
El Niño 2026 Prediksi Suhu Pasifik Naik 3-4°C Sesuai ECMWF

Gambar atau konten salah?

El Nino tahun ini diprediksi akan menjadi yang terkuat dalam sejarah manusia. Menurut European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), suhu permukaan laut di wilayah utama Samudra Pasifik ekuator bagian tengah diperkirakan akan melonjak drastis.

Prediksi menunjukkan kenaikan suhu mencapai 3 derajat Celsius di atas rata‑rata pada 31 Desember 2026. Beberapa skenario ekstrem bahkan memproyeksikan angka tersebut bisa menembus 4 derajat Celsius.

Jika prediksi ini terwujud, El Nino tahun ini akan menandai rekor gabungan yang melampaui kejadian pada periode 1997‑1998 dan 2015‑2016. Sebagai perbandingan, dua peristiwa El Nino dahsyat di masa lalu hanya mendorong suhu pada indeks Nino 3.4 ke angka 2,3 derajat Celsius di atas rata‑rata. Kondisi saat ini jauh lebih mengkhawatirkan.

“Hampir tiap skenario kini melampaui +3˚C, dengan sekelompok skenario ekstrem melebihi +4˚C. Prospek ini sekarang menggambarkan El Nino terkuat yang pernah tercatat,”

— Ben Noll, penulis cuaca global di The Washington Post.

El Nino merupakan bagian dari siklus iklim alami El Nino‑Osilasi Selatan (ENSO) di Samudra Pasifik yang muncul setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Siklus ini bergantian antara fase hangat (El Nino) dan fase dingin (La Nina), dengan jeda periode netral di antaranya.

Namun, El Nino kali ini bukan fenomena biasa. Peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur akan melemahkan, bahkan membalikkan arah angin pasat. Dampak domino ini dipastikan akan mengacak‑acak suhu global dan pola curah hujan di seluruh dunia.

El Nino terakhir yang berlangsung sejak Juni 2023 hingga April 2024 telah menyuntikkan panas luar biasa ke bumi. Dampaknya, tahun 2024 dinobatkan sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, sekaligus tahun pertama yang melampaui ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celsius sesuai Perjanjian Paris.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam pembaruan datanya pada 02 Juni 2026, menyebut peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 % sebelum September dan melonjak hingga 90 % sebelum November. Alarm peringatan bagi penduduk bumi sudah berbunyi.

Sekjen PBB, António Guterres, memberikan pernyataan yang sangat keras terkait ancaman ini. Ia menegaskan bahwa dunia tidak bisa lagi bersantai.

“Sainsnya sudah jelas: El Nino akan tiba di depan mata kita dalam beberapa bulan mendatang dengan kepastian 90%. Dunia harus menyikapinya sebagai peringatan iklim yang mendesak,”

— António Guterres.

Guterres menambahkan, fenomena ini akan menjadi beban tambahan bagi planet yang suhunya sudah berada di level berbahaya. Ia mengibaratkan kondisi ini seperti menyiram bahan bakar ke titik api.

“Kondisi El Nino akan menyiramkan bensin ke kobaran api dunia yang terus memanas. Dampaknya akan menghantam lebih keras, menyebar lebih jauh, dan melintasi batas‑batas negara dengan kecepatan menghancurkan,”

— António Guterres.

Sebagai penutup, Guterres mendesak adanya langkah konkret dari seluruh pemimpin dunia untuk segera memutus rantai penyebab krisis iklim ini sebelum terlambat. Ia menekankan bahwa respons yang efektif harus mencakup:

• Mengakhiri kecanduan terhadap bahan bakar fosil.
• Mempercepat peralihan ke energi terbarukan.
• Melindungi kelompok paling rentan.
• Menyediakan sistem peringatan dini bagi semua orang.

El Nino tahun ini menandai titik kritis bagi planet. Suhu global yang terus meningkat, kombinasi dengan fenomena ini, dapat memperburuk pola cuaca ekstrem, meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dampak sosial dan ekonomi akan terasa di seluruh dunia, terutama bagi komunitas yang paling rentan. Langkah‑langkah mitigasi dan adaptasi harus segera diimplementasikan untuk menanggulangi potensi kerusakan yang lebih besar.

El Ninosuhu laut PasifikENSOpemanasan globalPerjanjian Parisenergi terbarukanperingatan iklim

Komentar

Memuat komentar...