Elisabeth Odenthal: Mahasiswi ITB Pertama yang Tak Kembali ke Indonesia
Gambar atau konten salah?
Pada masa kolonial, pendidikan bagi perempuan merupakan hal yang jarang terjadi, terutama di sekolah teknik. Namun, Elisabeth Antoinette Odenthal, yang dikenal dengan sebutan Lies, berhasil menjadi mahasiswi pertama di Technische Hogeschool Bandung (TH Bandung) pada tahun 1920, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Lies lahir pada 29 April 1902 di Yogyakarta dan berasal dari keluarga yang telah tinggal di Hindia Belanda selama beberapa generasi.
Arsip yang mengenai Lies ditemukan di laman Delft University of Technology. Cucu Lies, Annette Lievaart, mencurahkan cerita tentang neneknya. Lies adalah bagian dari angkatan pertama Teknik Sipil di TH Bandung. Meskipun memiliki minat lebih pada matematika, Lies memilih untuk belajar teknik sipil dengan dukungan orang tuanya, meskipun ia tidak ingin pergi jauh ke Belanda.
Lies menikah dengan Adolf Petrus Frederik Kist, yang juga merupakan mahasiswa di TH Bandung. Mereka menikah di Surakarta pada 22 Mei 1926. Lies bekerja sebagai guru sains di Bandung setelah menyelesaikan studinya setahun lebih awal dari suaminya. Dalam keluarga mereka, ada cerita tentang bagaimana Lies membantu suaminya dalam menghitung proyek-proyek penting di kantor.
Pada awal Perang Dunia II, Adolf ditangkap karena statusnya sebagai perwira cadangan, sehingga Lies harus mengurus ketiga anak mereka seorang diri. Di tengah keadaan sulit itu, Lies mulai memberikan les matematika privat, meskipun hal tersebut dilarang oleh pihak Jepang. Meskipun tidak ingin berkonfrontasi, ia tetap menjalankan prinsipnya untuk mengajar.
Setelah perang, Lies dan Adolf berusaha membangun kembali kehidupan mereka. Adolf diangkat sebagai kepala Dinas Pekerjaan Umum distrik Jawa dan juga dosen luar biasa di ITB. Pada tahun 1949, mereka berlayar ke Belanda dengan kapal Willem Ruys, berharap kembali ke Indonesia.
Namun, ketika mereka berada di Belanda, peralihan kedaulatan terjadi. Kembali ke Indonesia menjadi tidak mungkin. Meskipun Adolf memiliki koneksi dengan Presiden Sukarno, ia menolak tawaran untuk kembali ke posisinya di Indonesia. Akhirnya, Adolf bekerja di Laboratorium Siklus Air di Delft dan kemudian mengajar di Akademi Militer Kerajaan di Breda.
Di Breda, Adolf melatih kadet teknik militer dan mendirikan Laboratorium Teknik Militer. Lies dan Adolf terus membantu anak-anak di lingkungan mereka dengan pekerjaan rumah sains. Lies tetap tertarik pada matematika bahkan saat cucunya, Annette, menjadi mahasiswa Matematika Terapan di Delft.
Dalam biografi Sukarno, Lies disebutkan, menandakan bahwa hubungan mereka tidak terlupakan. Lies meninggal pada 16 Januari 1984 di Roosendaal.
Elisabeth Antoinette Odenthal adalah contoh nyata dari semangat pendidikan dan pengabdian di tengah tantangan zaman. Kisahnya memberikan inspirasi bagi banyak orang tentang pentingnya pendidikan dan keberanian untuk menghadapi kesulitan dalam hidup.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
Helm Cerdas ITB Tuntun Pendeteksi Kelelahan Motor
Nadiem Anwar Makarim Tolak Tuduhan Korupsi Chromebook
Berita Terbaru
Mortir Perang Dunia II Ditemukan di Jayapura, Papua, Risiko
Rupiah Jatuh 14.000, Pasar Saham Turun 4.1%, Risiko Kredit
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Pasangan Adnan-Indah Kalah 18‑21, China Laju ke 16 Besar
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
Telur Ceplok Balado Jadi Pilihan Pagi di Rumah
Kemenpar Luncurkan Program Penertiban Akomodasi 2026
Malaysia Pemenang Piala Dunia 2026, Indonesia Hanya Putros
