Exxon dan Chevron Raup Rp476 Triliun dalam Tiga Bulan

Dedi S. · 2 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Exxon dan Chevron Raup Rp476 Triliun dalam Tiga Bulan

Gambar atau konten salah?

Perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat, ExxonMobil dan Chevron, mencatat keuntungan fantastis dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan harga minyak global akibat konflik AS-Iran di Timur Tengah menjadi penyebab utamanya.

ExxonMobil mengumumkan laba sebesar US$ 14,5 miliar atau sekitar Rp 259,5 triliun sepanjang kuartal kedua tahun 2026. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dihitung per hari, perusahaan ini menghasilkan sekitar US$ 160 juta atau setara Rp 2,8 triliun setiap harinya. Pendapatan setinggi ini belum pernah terjadi sejak tahun 2022, saat perang Rusia-Ukraina memicu kenaikan harga minyak dunia.

Chevron, perusahaan minyak terbesar kedua di AS, juga mencatat hasil yang mengesankan. Laba mereka mencapai US$ 12,1 miliar atau Rp 216,5 triliun. Jumlah ini melonjak empat kali lipat dibandingkan kuartal II tahun lalu yang hanya US$ 2,5 miliar atau Rp 44,7 triliun.

"Perusahaan-perusahaan ini mencetak uang karena harga minyak melonjak di seluruh dunia," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates, pada Sabtu, 08 Agustus 2026.

Harga minyak mentah dunia telah naik lebih dari 40% sepanjang tahun ini. Penyebabnya adalah pasokan yang terbatas dari Timur Tengah akibat perang. Exxon dan Chevron memiliki keunggulan karena mereka memiliki kilang minyak sendiri. Ini membuat mereka bisa meraup keuntungan lebih besar dari kenaikan harga.

Lipow memperkirakan dunia telah kehilangan sekitar 6 hingga 7 juta barel kapasitas penyulingan per hari. Akibatnya, kilang-kilang yang masih beroperasi menjadi semakin diuntungkan.

"Exxon dan Chevron memiliki kilang yang beroperasi dengan sangat baik. Kami berada pada margin penyulingan tertinggi untuk bensin, bahan bakar jet, dan diesel," kata Lipow.

Kondisi ini terlihat jelas dari bisnis hilir Chevron yang mencakup kilang-kilang minyaknya. Tahun lalu, sektor ini mencatat kerugian US$ 817 juta atau Rp 14,6 triliun. Kini, sektor yang sama berbalik menjadi keuntungan sebesar US$ 4,9 miliar atau Rp 87,6 triliun.

Perusahaan minyak besar lainnya, Shell, juga melaporkan hasil yang tak kalah mencengangkan. Dalam laporan keuangan mereka, Shell mengungkapkan laba hampir US$ 10 miliar atau sekitar Rp 178,97 triliun pada kuartal lalu. Angka ini lebih dari dua kali lipat keuntungan tahun sebelumnya. Bahkan, ini adalah laba per kuartal tertinggi kedua dalam sejarah Shell.

Keuntungan besar yang diraup perusahaan-perusahaan minyak ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada pasar energi global. Ketika pasokan terganggu dan harga melonjak, perusahaan yang memiliki infrastruktur lengkap dari hulu ke hilir menjadi pihak yang paling diuntungkan.

ExxonMobilChevronkeuntunganharga minyakkonflik Timur Tengahlonjakan labakilang minyak

Komentar

Memuat komentar...