Fafaru Tahiti: Hidangan Fermentasi Manis, Aroma Menggoda

Dwi H. · 2 min baca · 26 hari lalu · 41 dibaca
Bisik.id
Fafaru Tahiti: Hidangan Fermentasi Manis, Aroma Menggoda

Gambar atau konten salah?

Tahiti, pulau terbesar di Polinesia Prancis, terletak di Pasifik Selatan. Pulau ini menampilkan gunung berapi, air terjun, dan pantai berpasir hitam yang menakjubkan. Di balik keindahan alamnya, Tahiti juga menyuguhkan kuliner khas yang cukup ekstrem bagi para pengunjung.

Hidangan tersebut bernama Fafaru. Baunya sangat menyengat, sehingga banyak traveler menolak mencobanya. Namun, ketika dihidangkan, rasanya berbeda 180 derajat. Fafaru dikenal memiliki rasa sedikit manis dan lembut, menolak kesan “ikan busuk” yang sering dikaitkan dengan aroma kuat.

Proses pembuatan Fafaru dimulai dengan irisan ikan mentah, biasanya tuna. Banyak yang memilih haura (ikan pedang, swordfish, atau todak) karena lebih awet. Ikan tersebut direndam dalam larutan air laut yang difermentasi bersama kepala udang air tawar lokal. Udang yang dihancurkan diletakkan di dalam toples kaca berisi air laut, lalu disinari matahari selama dua atau tiga hari. Setelah itu, campuran disaring, dan irisan tuna dibiarkan dalam cairan tersebut untuk difermentasi selama tiga hingga delapan jam, tergantung pada rasa yang diinginkan.

Para penikmat kuliner biasanya menghidangkan Fafaru dengan mitihue (saus santan fermentasi), talas, ubi jalar, dan 'uru (buah sukun). Mitihue dibuat dengan mengekstraksi santan dari kelapa parut, lalu dibiarkan berfermentasi secara alami beberapa hari. Selama fermentasi, santan mengental dan menghasilkan rasa asam yang tajam khas mitihue.

Tradisi menyajikan Fafaru biasanya di acara makan khusus dan perayaan di Tahiti. Kini, banyak keluarga di pulau ini juga menyiapkan Fafaru untuk makan siang hari Minggu mereka.

Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto, penulis yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.

Keunikan Fafaru terletak pada kontras antara aroma yang kuat dan rasa yang lembut. Proses fermentasi singkat, antara tiga hingga delapan jam, menciptakan hidangan yang tetap menjadi favorit di kalangan penduduk lokal maupun wisatawan yang berani mencicipinya.

TahitiFafarufermentasikuliner khaspulau terbesarPolinesia Prancisikan mentah

Komentar

Memuat komentar...