Festival Songkran 2026 di Jakarta: Workshop Lukchup Thailand

Agus P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Festival Songkran 2026 di Jakarta: Workshop Lukchup Thailand

Gambar atau konten salah?

Festival Songkran 2026 di Jakarta menampilkan lebih dari sekadar tradisi air. Pada 18 April 2026, pengunjung dapat mengikuti workshop membuat Lukchup, makanan penutup khas Thailand yang menyerupai buah mini berwarna cerah.

Workshop ini dipimpin oleh perwakilan Kedutaan Besar Thailand, Enji, bersamaan dengan tim instruktur yang bertugas sebagai pelatih. Lima belas peserta hadir, didampingi enam pelatih yang langsung mengajarkan teknik pembuatan lukchup.

Proses dimulai dengan pengenalan bahan. Enji menjelaskan bahan dasar: santan, kacang hijau kupas, gula, garam, vanili, pewarna makanan, dan agar-agar sebagai lapisan akhir. “Untuk setiap satu piecenya berjumlah lima gram, tapi menyesuaikan lagi dengan bentuk buah yang ingin dibuat,” ujarnya kepada peserta.

Setelah itu, Enji memperagakan teknik dasar membentuk adonan. Ia mengambil sedikit adonan, meremasnya hingga teksturnya halus dan padat. Kemudian ia memutar‑putar adonan menggunakan telapak tangan hingga membentuk bulatan sempurna. “Awalnya hancurkan adonan, terus putar putar seperti ini sampai berbentuk bulat,” kata Enji sambil mempraktikkan cara membentuk lukchup.

Peserta belajar membuat lukchup dengan bentuk buah-buahan seperti cermai dan jambu air. Suasana workshop terasa antusias; semua fokus mengikuti arahan pelatih. Setelah adonan dibentuk, tahap berikutnya adalah pewarnaan. Lukchup berbentuk jambu air dicelupkan ke pewarna merah, sementara cermai menggunakan warna hijau. Setelah warna mengering, adonan dilapisi agar-agar untuk menghasilkan tampilan mengilap. “Setelah buah dicelupkan ke pewarna, tunggu sampai kering. Lalu dicelupkan ke agar-agar sebanyak tiga sampai empat kali untuk hasil yang mengkilap dan cantik,” tambah Enji.

Lukchup sendiri dikenal sebagai hidangan penutup tradisional Thailand yang identik dengan bentuk buah-buahan mini berwarna cerah. Bentuk ini bukan tanpa alasan; bentuk menyerupai buah membuatnya lebih menarik dan menggugah selera, terutama ketika disajikan di lingkungan kerajaan.

Reaksi peserta jelas terlihat. Gabby, salah satu peserta, mengungkapkan: “Kegiatannya seru banget, edukatif juga, instrukturnya baik dan pengertian, sabar ngajarin kita, walau tadi sempat gagal tapi diajarin pelan‑pelan.” Ana, asal Jakarta, juga berbagi: “Penasaran sih jadi pengen ikut workshopnya karena selama ini cuma tahu makannya, jadi pengen tahu proses pembuatannya, ternyata susah juga ya.”

Sejarah lukchup bermula dari era Kerajaan Ayutthaya. Pada masa itu, lukchup dibuat oleh para perempuan untuk keluarga, bahkan menjadi sajian khusus di lingkungan kerajaan sebagai hidangan penutup dalam acara penting. Seiring waktu, lukchup menjadi makanan yang lebih mudah dijumpai di pasar‑pasar Thailand dengan harga terjangkau, sekitar 5‑10 baht (Rp 2.000‑5.000) per buah.

Enji menjelaskan: “Sebenarnya itu bermula dari Ayutthaya. Perempuan di Ayutthaya membuatnya untuk suami atau biasanya dibuat untuk keluarga kerajaan. Tapi sekarang lukchup menjadi makanan tradisional Thailand yang bisa ditemukan di mana saja.” Ia menambahkan, “Walau mudah ditemukan, kami mencoba untuk membuat lebih banyak orang belajar membuat lukchup untuk melestarikan makanan tradisional Thailand ini.”

Workshop ini tidak hanya memberi pelajaran praktis, tetapi juga membuka wawasan tentang sejarah dan nilai budaya di balik setiap buah kecil. Peserta tidak hanya menyalin resep, tetapi juga merasakan proses kreatif yang memerlukan ketelitian dan kesabaran. Dengan demikian, acara ini berhasil menggabungkan unsur hiburan, edukasi, dan pelestarian warisan kuliner.

Festival Songkran 2026LukchupWorkshop membuat lukchupKedutaan Besar ThailandAyutthayaTradisi kuliner ThailandPelestarian warisan kuliner

Komentar

Memuat komentar...