Gen Z dan Tantangan Membaca: Data PISA vs Minat Baca Muda

Putri N. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Gen Z dan Tantangan Membaca: Data PISA vs Minat Baca Muda

Gambar atau konten salah?

Di Amerika Serikat, banyak mahasiswa Generasi Z dilaporkan kesulitan membaca, bahkan untuk memahami kalimat pendek dalam konteks akademik. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang kebiasaan membaca di kalangan muda.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyoroti dua faktor utama yang memengaruhi skor PISA Indonesia: literasi dan numerasi anak. Ia mengatakan, “Kerap kali soal matematika dijelaskan dalam sebuah narasi atau soal cerita. Ketika literasi anak Indonesia rendah dan dia malas membaca, maka soal cerita itu tidak akan terpecahkan.”

Contoh soal cerita yang sering muncul adalah: “Saya berangkat jam 6.35 dari rumah dinas, perjalanan ke SD 4 Meruya membutuhkan waktu 30 menit. Jarak dari rumah dinas ke SD 4 Meruya kira-kira 11 kilo. Maka pertanyaannya berapa kecepatan mobil dari rumah dinas ke SD 4 Meruya yang jaraknya 11 kilo?”

Apakah benar bahwa Gen Z malas membaca? Arys Hilman Nugraha, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia, memberikan pandangan berbeda. Ia menegaskan bahwa minat baca generasi muda masih tinggi.

Menurut Arys, hasil riset industri perbukuan pada akhir 2025 menunjukkan bahwa anak muda Indonesia masih memiliki ketertarikan tinggi terhadap budaya membaca. Ia berkata, “Alhamdulillahnya, ini hasil survei akhir tahun 2025. Bahwa anak-anak kita itu suka membaca,” ujarnya dalam penyampaian materi seminar.

Arys mencontohkan ramainya Indonesia International Book Fair tahun 2025 yang diadakan di Jakarta Convention Center. Pameran tersebut dipadati pengunjung muda dari pagi hingga malam selama lima hari pelaksanaan. Ia menambahkan, “Ternyata dari pagi sampai malam, setiap hari dari hari Rabu sampai Minggu itu penuh. Dan mereka amat muda, apa yang kita sebut sebagai Gen Z,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa generasi muda semakin terhubung dengan dunia baca global. Menurutnya, “Mereka terhubung dengan dunia baca secara global. Mereka tahu bahwa akan ada buku yang baik hadir di bulan depan,” ujarnya.

Di luar pameran, Arys menyoroti antusiasme masyarakat terhadap perpustakaan di berbagai daerah. Ia menyebut kondisi tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan masih relevan meskipun masyarakat hidup di tengah perkembangan teknologi digital. Ia menegaskan, “Perpustakaan Nasional Sabtu-Minggu penuh,” katanya.

Ia juga menyebut sejumlah perpustakaan daerah, seperti di Bandung dan Jawa Timur, tetap ramai dikunjungi masyarakat, terutama anak muda. Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal positif bagi dunia literasi dan industri penerbitan nasional.

Meski demikian, Arys tetap mendorong adanya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem perbukuan dan perpustakaan di Indonesia.

Di Jakarta, pada Selasa, 12 Mei 2026, seminar nasional “Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa” digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube. Seminar ini menampilkan diskusi tentang peran perpustakaan dan industri perbukuan dalam memajukan literasi generasi muda.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dalam membaca, minat baca generasi Z di Indonesia tetap kuat. Keterlibatan aktif dalam pameran buku, perpustakaan, dan riset industri perbukuan menandakan bahwa kebiasaan membaca masih menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Dengan dukungan kolaborasi lintas sektor, literasi dan numerasi dapat terus ditingkatkan, membantu Indonesia mencapai skor PISA yang lebih baik di masa depan.

Generasi ZLiterasiNumerasiPISAIndustri PenerbitanPameran BukuPerpustakaanKolaborasi Lintas Sektor

Komentar

Memuat komentar...