Gus Yahya Serukan Ketulusan Khidmah di Pembukaan Munas NU 2026

Dedi S. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Gus Yahya Serukan Ketulusan Khidmah di Pembukaan Munas NU 2026

Gambar atau konten salah?

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, memberikan pengarahan kepada seluruh kader NU. Ia menekankan pentingnya menjaga ketulusan dalam berkhidmah dan memperkuat persatuan di dalam organisasi. Pesan ini disampaikan saat beliau membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026. Acara tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, pada Sabtu malam, 20 Juni 2026.

Menurut Gus Yahya, setiap pengurus dan warga NU harus melihat keberadaan mereka di dalam jam'iyah (organisasi) sebagai bentuk pengabdian. Bukan sekadar aktivitas organisasi biasa. "Mari kita teguhkan kembali ketulusan khidmah yang menjadi dasar dari keberadaan kita di dalam jam'iyah ini. Kita ada di sini untuk berkhidmah," tegasnya dalam sambutan.

Gus Yahya meminta seluruh peserta Munas dan Konbes untuk mengarahkan pemikiran, tenaga, serta ikhtiar yang dimiliki. Semua itu harus digunakan untuk kemaslahatan masyarakat, jam'iyah, dan jamaah NU. Ia juga mengingatkan agar seluruh proses musyawarah dijalankan dengan suasana damai, jujur, dan mengedepankan kepentingan organisasi. Peserta diminta menghindari sikap yang berpotensi memunculkan kontroversi maupun perpecahan baru.

"Mari kita laksanakan proses ini dengan penuh ketulusan, kedamaian, dan kejujuran, serta menghindari apa pun yang berpotensi menimbulkan pertentangan baru," katanya dalam sambutan yang disampaikan pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya juga mengutip pesan dari pendiri NU, KH Muhammad Hasyim Asy'ari. Pesan tersebut mengajarkan agar warga NU membangun organisasi di atas fondasi cinta, kasih sayang, persaudaraan, dan persatuan. "Mari kita sambungkan bukan hanya jasad kita dalam pertemuan-pertemuan ini, tetapi juga roh-roh kita dalam mahabah, kerukunan, dan persatuan," ujarnya.

Gus Yahya juga menegaskan keyakinannya bahwa berbagai upaya untuk mengganggu atau merusak NU tidak akan berhasil. "Apa pun yang dilakukan orang untuk mengganggu, mencederai, atau merusak apa yang mulia di dalam jam'iyah ini, pasti tidak akan mencapai apa yang diinginkan," tegasnya. Pernyataan ini kemudian disusul dengan seruan wirid yang merupakan warisan dari ulama Madura, Muhammad Kholil. "Ya Jabbar, Ya Qahhar! Ya Jabbar, Ya Qahhar! Ya Jabbar, Ya Qahhar!" seru Gus Yahya, yang langsung disambut oleh para peserta Munas dan Konbes.

Menutup sambutannya, Gus Yahya menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Falah Ploso sebagai tuan rumah penyelenggaraan Munas dan Konbes NU 2026. Menurutnya, pesantren tidak hanya menyediakan fasilitas untuk acara, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual yang penting. Kekuatan ini diyakini dapat membantu lahirnya keputusan-keputusan strategis organisasi. "Semoga barokah dari kekuatan ruhani Pondok Pesantren Al-Falah Ploso ini melimpah menjadi pertolongan dan berkah untuk kita semua," pungkasnya.

Secara keseluruhan, acara Munas dan Konbes NU 2026 ini menjadi momen penting bagi para kader untuk kembali mengingatkan diri pada tujuan utama organisasi, yaitu pengabdian dan persatuan. Pesan dari Gus Yahya menekankan bahwa perbedaan pendapat dalam musyawarah harus dikelola dengan damai dan jujur, tanpa menimbulkan perpecahan baru. Hal ini sejalan dengan tradisi NU yang selalu mengedepankan nilai-nilai persaudaraan dan kasih sayang dalam setiap langkah organisasinya.

PBNUGus YahyakhidmahpersatuanMunasKonbesketulusan

Komentar

Memuat komentar...