Hanya 6% Perguruan Tinggi Unggul, Lulusan STEM 18% di Indonesia
Gambar atau konten salah?
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) baru saja memaparkan data akreditasi perguruan tinggi di Indonesia. Pada forum diskusi online di Jakarta, Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib, menyatakan, “Kalau kita lihat dari sebaran data akreditasi perguruan tinggi dan akreditasi program studi di Indonesia sampai akhir 2025 kemarin itu, untuk perguruan tinggi yang terakreditasi Unggul itu hanya sekitar enam persen.”
Data tersebut menunjukkan bahwa dari 4.416 perguruan tinggi terdaftar, hanya 6 % yang mendapat akreditasi Unggul (A). Sebaliknya, 67 % perguruan tinggi masih berada di tingkat Baik atau C. Akreditasi sendiri adalah proses penilaian yang menentukan kelayakan Program Studi dan Perguruan Tinggi.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2020, yang menjadi dasar penilaian, mengklasifikasikan akreditasi menjadi tiga tingkatan: Baik (C), Baik Sekali (B), dan Unggul (A). Kategori ini berlaku bagi semua program studi dan perguruan tinggi yang terdaftar di Indonesia.
Di tingkat program studi, situasinya tidak jauh berbeda. Dari 33.741 program studi yang terakreditasi, hanya 22 % yang mencapai status Unggul. Najib menambahkan, “Bahkan ada program studi yang tidak terakreditasi, yang menurut undang-undang tentu program studi yang tidak terakreditasi itu tidak memiliki hak untuk mengeluarkan ijazah.”
Perhatikan juga statistik lulusan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Menurut data World Bank sampai tahun 2020, lulusan STEM di Indonesia hanya 18,47 % dari total lulusan. Angka ini masih di bawah negara-negara maju yang sudah melampaui 30 %. Sebagai contoh, Vietnam mencatat 23,38 %, Thailand 27,31 %, Malaysia 37,19 %, dan Singapura 34,3 %.
“Kita sering mendengar ya, ketika ada investasi masuk kemudian industri baru terbuka, kemudian masyarakat kita hanya menjadi penonton, karena industri baru itu mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri,” kata mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Australia yang hadir di forum tersebut.
Ia juga mengutip pernyataan pejabat lain yang mengatakan, “oh karena memang sumber daya manusia kita tidak cukup untuk mengisi, tidak cukup memiliki keahlian untuk mengisi sektor‑sektor tersebut.”
Menanggapi hal itu, Najib menegaskan, “Nah ini harus kita jawab bahwa industrialisasi kita itu bisa diisi oleh anak negeri kita, oleh anak bangsa kita dengan kita juga membekali mereka, memperkuat mereka dengan keahlian yang dibutuhkan untuk memperkuat industrialisasi kita.”
Data ini menyoroti tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan program studi di Indonesia. Meskipun sebagian besar perguruan tinggi berada di tingkat Baik, masih banyak yang belum mencapai standar Unggul. Sementara itu, persentase lulusan STEM yang rendah menunjukkan perlunya upaya lebih intensif dalam memperkuat kurikulum dan fasilitas riset. Upaya ini penting agar tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di industri global dan memanfaatkan peluang ekonomi demografi yang sedang berlangsung.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
Helm Cerdas ITB Tuntun Pendeteksi Kelelahan Motor
Strip Tes Minyak Babi: Alat Praktis Deteksi Halal Rutin
Alumni Teknik ITB 2025: Penghasilan Rp 10 Miliar Tertinggi
Kampus Bisa Punya SPPG: Solusi Gizi Nasional, Tak Wajib!
Komisi X Fokus Kesejahteraan Dosen PTS, Dukung Anggaran
Berita Terbaru
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Operasi Patuh 2026: 14 Hari Tepatkan Lalu Lintas Nasional
Vlahovic Bebas: Arsenal Tertarik, Juventus Tak Berikan Kontrak
