Hanya Tiga Murid Baru, SDN Purwoyoso 01 Tetap Gelar MPLS Meriah

Dedi S. · 3 min baca · 1 jam lalu · 3 dibaca
Bisik.id
Hanya Tiga Murid Baru, SDN Purwoyoso 01 Tetap Gelar MPLS Meriah

Gambar atau konten salah?

Hanya tiga anak yang memulai tahun ajaran baru di SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Meski jumlahnya sangat sedikit, sekolah tetap menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara meriah.

Dua siswa laki-laki dan satu siswi perempuan disambut oleh maskot MPLS tahun ini, Si Badut. Mereka tampak antusias mengikuti materi MPLS yang disampaikan oleh guru dan melalui media pembelajaran seperti layar televisi.

Kepala SDN Purwoyoso 01, Hajar Riatiani, menjelaskan bahwa awalnya ada lima calon siswa yang mendaftar. Namun dua di antaranya tidak melakukan daftar ulang. "Yang mendaftar online ada lima. Tapi dua tidak daftar ulang, jadi yang fix masuk hanya tiga siswa saja," kata Hajar di sekolah pada Senin, 13 Juli 2026.

Menurut Hajar, minimnya jumlah siswa disebabkan oleh kondisi demografi di sekitar sekolah. Kawasan permukiman di sekitar SDN Purwoyoso 01 sudah tidak memiliki anak usia sekolah dasar.

"SDN Purwoyoso 01 itu lengkap semua untuk kelas terpenuhi ada 6 kelas, masing-masing ada lab komputer tidak dompleng kelas, perpustakaan, ruang UKS, musala, lengkap. Halaman juga ada, Smart TV bantuan pemerintah juga ada, terus fasilitas olahraga," urainya.

"Tapi sedikitnya siswa ini karena lingkungan demografi. Di sekitar sekolah ini sudah tidak ada perumahan yang produktif. Rata-rata penduduknya sudah lansia, tidak punya anak usia masuk SD," lanjutnya.

Hajar juga menyebutkan bahwa banyak warga yang pindah ke daerah perbatasan seperti Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Di sana banyak perumahan subsidi, sementara harga rumah di Kota Semarang dinilai sudah terlalu mahal. "Kemudian sekolah sekitar kita juga masih kekurangan siswa. Jadi kita tidak mendapat limpahan dari sekolah sekitarnya," tuturnya.

Pada tahun ajaran sebelumnya, SDN Purwoyoso 01 menerima 11 murid baru. Di tengah tahun ajaran, jumlahnya bertambah satu, sehingga total menjadi 12 siswa baru.

Meski hanya tiga murid yang masuk untuk tahun ajaran 2026/2027, Hajar menegaskan sekolah tetap menyambut mereka secara meriah. "Berapapun muridnya tetap kita sambut dengan meriah. Setiap tahun kita ganti tema. Kali ini temanya sirkus, ada badutnya juga," tegasnya.

Rangkaian MPLS dimulai sejak pukul 07.00 WIB pagi. Seluruh guru menyambut para siswa di gerbang sekolah bersama maskot Si Badut. "Yang pertama penyambutan peserta didik. Guru-guru sama maskot badut berdiri di depan gerbang menyambut siswa dari kelas 1-6. Kemudian dilanjutkan upacara pembukaan, pengalungan cocard untuk peserta didik baru," kata Hajar.

Tiga murid baru juga mendapat perlengkapan sekolah gratis berupa topi, dasi, atribut kelas, hingga tanda pengenal sekolah. Dalam waktu dekat, sekolah juga akan membagikan seragam batik dan seragam olahraga secara gratis.

"Kemudian perkenalan guru dan tenaga pendidik, dilanjutkan perkenalan siswa dan permainan sederhana antarsiswa," jelas Hajar. "Berikutnya ada tur keliling sekolah, pengenalan fasilitas, menyanyikan Jingle MPLS, dilanjutkan mewarnai gambar lingkungan sekolah dan penyampaian kesan hari pertama," lanjutnya.

Hajar menekankan bahwa sekolah bertekad untuk membuat anak-anak semangat dalam belajar. "Kita tetap semangat, tidak ngelokro (malas), tidak kendor, pembukaan tetap semeriah mungkin, biar anak-anak semangat untuk kembali belajar," pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah di perkotaan. Perubahan demografi, seperti berkurangnya keluarga muda di suatu kawasan, bisa berdampak langsung pada jumlah murid baru. Sekolah dengan fasilitas lengkap sekalipun tidak luput dari masalah ini. Semangat para guru di SDN Purwoyoso 01 untuk tetap memberikan sambutan meriah bagi tiga murid barunya menjadi contoh bahwa kualitas pendidikan tidak selalu diukur dari jumlah siswa.

SDN Purwoyoso 01murid baruMPLSdemografifasilitas sekolahSemarangtantangan pendidikan

Komentar

Memuat komentar...