Hipertensi Kini Ancam Kaum Muda, Waspada Silent Killer

Dani L. · 4 min baca · 3 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Hipertensi Kini Ancam Kaum Muda, Waspada Silent Killer

Gambar atau konten salah?

Tekanan darah tinggi, atau yang lebih dikenal dengan istilah hipertensi, adalah kondisi di mana tekanan darah pada dinding arteri berada pada level yang terlalu tinggi. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh.

Jika dibiarkan dalam waktu yang lama, hipertensi bisa merusak arteri dan jantung. Kondisi ini kemudian dapat memicu komplikasi serius seperti serangan jantung atau stroke. Yang membuatnya berbahaya, tekanan darah tinggi seringkali tidak menimbulkan gejala apapun. Karena itulah, penyakit ini sering dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam.

Hipertensi tidak lagi menjadi masalah eksklusif bagi orang tua. Data menunjukkan bahwa penyakit ini kini banyak menyerang kaum muda. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18 hingga 24 tahun mencapai 10,7 persen. Angka ini dihitung berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah langsung.

Sementara itu, pada kelompok usia 25 hingga 34 tahun, angkanya bahkan lebih tinggi, yaitu mencapai 17,4 persen. Penentuan status hipertensi dalam survei ini didasarkan pada pengakuan responden yang pernah didiagnosis hipertensi oleh dokter. Selain itu, juga berdasarkan hasil pengukuran rata-rata tekanan darah sistolik yang mencapai 140 mmHg atau lebih, dan/atau tekanan darah diastolik yang mencapai 90 mmHg atau lebih.

Sebagai catatan, menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, generasi muda adalah individu yang berusia antara 16 hingga 30 tahun. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI mengelompokkan anak muda mulai dari usia remaja hingga dewasa muda, dengan rentang usia 15 hingga 24 tahun.

Mengapa anak muda kini rentan terkena hipertensi? Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Berlian Idriansyah Idris, SpJP, menjelaskan bahwa secara umum, hipertensi dan masalah kardiovaskular memang semakin sering mengintai anak muda. Menurutnya, kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup dan tingkat stres yang tinggi di kalangan usia muda.

"Masalah jantung kini banyak dialami anak muda karena gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, kurang gerak, serta pola makan tinggi garam, lemak, dan gula," kata dr Berlian dalam sebuah kesempatan.

Ia juga menambahkan, "Sangat mungkin anak muda sering begadang dan kurang tidur, yang diketahui berhubungan dengan masalah jantung."

Lalu, bagaimana sebenarnya hipertensi bisa mempengaruhi jantung? Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah lainnya, dr Vito Damay, SpJP, menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi memang dapat memicu berbagai masalah pada jantung. Salah satu mekanismenya adalah dengan menyebabkan pembesaran jantung, atau yang dalam istilah medis disebut kardiomegali.

"Jantung membesar dapat memicu gumpalan darah atau gangguan irama jantung yang fatal," kata dr Vito.

Tekanan darah tinggi juga dapat merusak pembuluh darah koroner. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya plak pada pembuluh darah. Akibatnya, pasokan oksigen ke jantung berkurang, dan kondisi ini disebut sebagai iskemia.

"Iskemia pada otot jantung ini juga dapat menyebabkan gangguan sistem kelistrikan jantung yang fatal dan mendadak," jelas dr Vito.

"Plak pada pembuluh darah koroner ini bisa pecah sehingga pembuluh darah yang seharusnya memberikan oksigen dan nutrisi ke jantung menjadi tersumbat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan serangan jantung, kerusakan permanen pada otot jantung, atau henti jantung mendadak," tandasnya.

Apa saja faktor risiko yang membuat seseorang rentan terkena hipertensi? Berdasarkan informasi yang dikutip dari Mayo Clinic, ada beberapa faktor risiko utama:

  • Terlalu banyak mengonsumsi garam: Kelebihan natrium atau garam dalam tubuh dapat menyebabkan retensi cairan, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah. Diet tinggi garam, lemak, dan gula sering dilakukan oleh generasi Z, seperti yang disebutkan dr Berlian. Padahal, kebiasaan ini bisa berdampak langsung pada kesehatan jantung.
  • Stres: Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sementara. Kebiasaan yang sering menyertai stres, seperti makan berlebihan, merokok, atau minum alkohol, juga dapat meningkatkan tekanan darah lebih lanjut. Menurut survei Cigna International Health tahun 2023, generasi Z muncul sebagai kelompok demografis yang paling stres di tempat kerja dan berjuang keras untuk mengatasinya.
  • Obesitas: Kelebihan berat badan menyebabkan perubahan pada pembuluh darah, ginjal, dan bagian tubuh lainnya. Perubahan ini sering kali meningkatkan tekanan darah. Dalam dua dekade terakhir, jumlah anak yang masuk kategori kelebihan berat badan hingga obesitas meningkat. Remaja dengan rentang umur 13 hingga 18 tahun menjadi kelompok yang paling sering mengalami kondisi ini.
  • Kurang olahraga: Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Seperti yang disebutkan dr Berlian, salah satu pola tidak sehat yang dilakukan anak muda adalah kurang gerak.
  • Riwayat keluarga: Seseorang lebih mungkin mengalami hipertensi jika memiliki orang tua atau saudara kandung yang juga mengalami kondisi tersebut.
  • Kadar kalium rendah: Kalium membantu menyeimbangkan jumlah garam dalam sel-sel tubuh. Keseimbangan kalium yang tepat penting untuk menjaga kesehatan jantung.

Pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting. dr Berlian mengingatkan bahwa tujuan dari pemeriksaan rutin ini adalah untuk menjaga tekanan darah tetap stabil. Dengan begitu, hipertensi bisa dicegah agar tidak memicu penyakit lainnya.

"Bila sudah didiagnosis hipertensi, pemeriksaan diperlukan untuk melihat dampaknya pada organ, terutama jantung dan ginjal," ujarnya.

Tekanan darah normal berada di bawah angka 120/80 mmHg. Sementara itu, seseorang dikategorikan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya mencapai atau melebihi 140/90 mmHg.

Secara keseluruhan, fenomena ini menunjukkan bahwa hipertensi bukan lagi sekadar masalah kesehatan orang tua. Gaya hidup modern yang serba cepat, penuh tekanan, dan kurang aktivitas fisik telah membuat anak muda menjadi kelompok yang sama rentannya. Kesadaran untuk memeriksakan tekanan darah secara rutin menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.

hipertensitekanan darah tinggigaya hidupstresjantungkaum mudapembuluh darah

Komentar

Memuat komentar...