IHSG Turun 2,86% pada 08 Mei, Dipengaruhi Royalti Minerba
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada penutupan perdagangan hari Jumat, 08 Mei 2026, mencapai level terendahnya sebelum sesi ditutup. Penurunan ini menandai perubahan drastis dari posisi awal pasar, di mana indeks sempat menguat pada awal perdagangan.
Menurut data RTI Business, IHSG menutup dengan penurunan 2,86%, turun ke 6.969,39. Pada awal sesi, indeks sudah berada di 7.189,83 sebelum akhirnya jatuh secara mendadak sepanjang sesi kedua. Pergerakan ini menandai ketidakstabilan pasar yang dipicu oleh beberapa faktor.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa kelemahan pasar didorong oleh penurunan saham-saham berbasis metal mining. Ia menegaskan bahwa rencana kenaikan royalti komoditas mineral batu bara (minerba) untuk meningkatkan pendapatan negara menjadi penyebab utama penurunan harga saham emiten pertambangan.
Reaksi pertama terlihat pada PT Timah (Persero) Tbk (TINS), salah satu emiten di sektor metal mining. Saham TINS turun hingga 14,88%, mencapai Rp 3.490 per saham setelah sebelumnya dibuka di Rp 4.130. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan royalti minerba.
Emiten lain yang tergabung dalam holding MIND ID, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), juga mengalami penurunan signifikan. Saham INCO jatuh 13,89% ke Rp 5.425 per saham, menurun dari Rp 6.325 pada pembukaan perdagangan pagi. Penurunan ini menambah tekanan pada indeks yang sudah melemah.
“IHSG juga dibebani oleh emiten-emiten berbasis metal mining setelah terdapat adanya usulan rencana menaikkan royalti minerba untuk meningkatkan penghasilan negara,” ungkap Herditya. Ia menambahkan bahwa penurunan ini sejalan dengan reaksi pasar terhadap kebijakan pemerintah.
Selain faktor domestik, ketidakpastian global turut memengaruhi pasar. Rupiah melemah pada penutupan perdagangan, sementara dolar AS menguat 0,28% ke Rp 17.382. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang belum menemukan titik terang, menjadi penyebab utama ketidakpastian ini. Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar Indonesia, tetapi juga di bursa-bursa Asia lainnya.
Indeks Nikkei 225 (N225) mencatat koreksi 0,19% ke 62.713,60, sementara Hang Seng Index (HSI) turun 0,87% ke 26.393,71. Shanghai Composite Index (SSEC) juga berada di zona merah dengan 4.179,95, dan Straits Times Index (STI) dari Singapura melemah 0,41% ke 4.921,89. Semua indeks ini menunjukkan koreksi serupa, menegaskan dampak global pada pasar regional.
Riset Phintraco Sekuritas menyoroti cadangan devisa Indonesia sebagai faktor penggerak IHSG. Cadangan devisa menurun menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026, turun dari US$ 148,2 miliar di Maret 2026. Penurunan ini merupakan level terendah sejak Juli 2024, namun masih mencukupi untuk menutupi 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang.
Selain itu, indeks harga properti mencatat pertumbuhan 0,62% year-on-year pada kuartal pertama 2026, melambat dari 0,83% pada kuartal terakhir 2025. Pertumbuhan ini menjadi yang paling lambat sejak tahun 2003, menandakan perlambatan di sektor properti.
Secara keseluruhan, penurunan IHSG pada 08 Mei 2026 dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terkait royalti minerba, ketidakpastian geopolitik antara AS dan Iran, serta kelemahan rupiah. Dampak ini tercermin tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di bursa-bursa Asia lainnya, menandai periode volatilitas yang signifikan bagi investor dan pelaku pasar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026