IQAir: Pakistan Terburuk, 130/143 Negara Di atas Batas WHO
Gambar atau konten salah?
IQAir baru saja merilis laporan tahunan tentang kualitas udara global. Menurut data, polusi udara tetap menjadi masalah serius di seluruh dunia pada tahun 2026. Pakistan menjadi negara dengan kualitas udara terburuk.
Laporan tersebut mencatat 25 kota dengan tingkat polusi tertinggi berada di Pakistan, India dan China. Di antara negara-negara itu, Pakistan menempati posisi teratas. Menurut NBC News, pada 25 Maret 2026 konsentrasi PM2.5 di Pakistan mencapai 13 kali batas aman yang ditetapkan oleh World Health Organization. Bangladesh dan Tajikistan berada di peringkat kedua dan ketiga.
Negara Chad, yang sebelumnya berada di posisi teratas pada 2024, turun menjadi keempat. Penurunan ini diperkirakan dipengaruhi oleh keterbatasan data. IQAir mencatat hanya 13 negara dan wilayah yang berhasil menjaga kadar PM2.5 di bawah 5 mikrogram per meter kubik, meningkat dari tujuh negara pada tahun sebelumnya. Namun, secara keseluruhan, 130 dari 143 negara yang dipantau masih belum memenuhi ambang batas tersebut, termasuk Amerika Serikat.
Keterbatasan data menjadi catatan penting dalam laporan. Pada Maret lalu, Amerika Serikat menghentikan program pemantauan kualitas udara global yang sebelumnya mengandalkan data dari kedutaan dan konsulat. Penulis utama laporan, Christi Chester Schroeder, menyebut keputusan tersebut berdampak pada pembacaan data. “Hilangnya data pada bulan Maret membuat seolah-olah terjadi penurunan signifikan pada tingkat PM2.5 (di Chad), tetapi kenyataannya kita tidak tahu pasti,” ujarnya.
Akibat keterbatasan itu, sejumlah negara seperti Burundi, Turkmenistan, dan Togo tidak masuk dalam laporan tahun ini. Pada tingkat kota, Loni di India tercatat sebagai wilayah dengan polusi tertinggi, dengan rata-rata PM2.5 mencapai 112,5 mikrogram per meter kubik. Hotan di wilayah Xinjiang, China, berada di posisi kedua dengan 109,6 mikrogram.
Secara global, hanya 14% kota yang memenuhi standar kualitas udara WHO pada 2025, turun dari 17% pada tahun sebelumnya. Salah satu pemicunya adalah kebakaran hutan besar di Kanada, yang berdampak hingga ke Amerika Serikat dan Eropa. Di sisi lain, beberapa negara mencatat perbaikan kualitas udara. Laos, Kamboja, dan Indonesia mengalami penurunan kadar PM2.5, yang dikaitkan dengan cuaca lebih basah akibat fenomena La Nina. Mongolia juga mencatat penurunan signifikan hingga 31%.
Secara keseluruhan, sebanyak 75 negara mengalami perbaikan kualitas udara pada 2025. Namun, 54 negara lainnya justru mencatat peningkatan polusi, menunjukkan bahwa persoalan udara bersih masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan.
Dengan data ini, jelas bahwa tantangan polusi udara masih meluas. Beberapa wilayah menunjukkan perbaikan, namun mayoritas negara tetap berada di bawah standar WHO, menandakan perlunya upaya berkelanjutan untuk mengurangi emisi dan meningkatkan kualitas udara di seluruh dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Prabowo Aktifkan Bandara Husein, Bandara Kertajati Terancam
Bandara Husein Siap Kembali, Kertajati Tertinggal
Berita Terbaru
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
