Jakarta Hadapi Tantangan Simpan Daging Kurban Pas Idul Adha
Gambar atau konten salah?
Setelah Idul Adha berakhir, banyak rumah tangga di Jakarta yang langsung menghadapi masalah kulkas yang penuh. Stok daging kurban menumpuk, freezer terasa hampir tidak ada ruang lagi, sementara daging masih berserakan di dapur. Kondisi seperti ini sering membuat orang bingung, apalagi bila mereka tidak tahu cara menyimpan daging dengan aman.
Jika daging tidak disimpan dengan benar, bakteri dapat berkembang biak lebih cepat. Hal ini dapat menyebabkan daging rusak dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumen. Untungnya, ada beberapa cara pengawetan sederhana yang bisa dilakukan di rumah agar daging tetap awet dan aman dikonsumsi.
1. Pendinginan
Pendinginan adalah metode paling praktis untuk menyimpan daging kurban yang akan dikonsumsi dalam waktu dekat. Menempatkan daging di chiller dengan suhu sekitar 0‑4 derajat Celsius dapat menjaga kualitasnya. Metode ini cocok untuk stok daging yang akan diolah dalam 3 hingga 5 hari ke depan. Untuk memaksimalkan kualitas, daging disimpan dalam wadah tertutup dan dipisahkan sesuai porsi satu kali masak. Menjaga daging agar tidak terlalu lama berada di luar kulkas penting, karena semakin lama daging berada pada suhu ruang, kualitasnya menurun lebih cepat dan risiko kontaminasi bakteri meningkat.
2. Pembekuan
Jika stok daging masih sangat banyak dan belum akan dimasak dalam waktu dekat, pembekuan menjadi pilihan yang lebih aman. Freezer dengan suhu -18 derajat Celsius dapat mempertahankan kualitas daging hingga beberapa bulan. Sebelum dibekukan, sebaiknya bagi daging menjadi porsi kecil sesuai kebutuhan satu kali masak. Cara ini membuat daging lebih praktis digunakan tanpa perlu mencairkan seluruh stok sekaligus.
Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya Direktorat PMPUPO BPOM, Retno Anggrina Khalistha Dewi, S.Si, Apt, M.Biomed, dalam sebuah webinar mengingatkan bahwa daging yang sudah dicairkan sebaiknya tidak dibekukan kembali dalam kondisi mentah karena dapat meningkatkan risiko kontaminasi bakteri. “Setelah kita cairkan (thawing), itu nggak boleh kita masukkan lagi ke kulkas. Karena daging sudah berada dalam suhu ruang ya, di mana ada faktor yang bisa menumbuhkan bakteri di situ,” jelasnya pada webinar BPOM, 21 Mei 2026.
3. Pengeringan
Pengeringan merupakan metode pengawetan tradisional yang sudah lama digunakan di berbagai daerah di Indonesia. Prinsipnya adalah mengurangi kadar air dalam daging agar bakteri dan jamur lebih sulit berkembang. Di rumah, metode ini bisa dilakukan dengan menjemur daging berbumbu di bawah sinar matahari atau menggunakan oven dengan suhu rendah dalam waktu cukup lama. Hasilnya mirip seperti dendeng yang lebih awet dibanding daging segar biasa. Meski begitu, proses pengeringan tetap perlu memperhatikan kebersihan lingkungan dan wadah penyimpanan agar daging tidak terkontaminasi debu maupun serangga selama proses berlangsung.
4. Pengasapan
Pengasapan juga menjadi metode pengawetan yang cukup populer, terutama pada daging sapi dan ikan. Asap dari pembakaran kayu membantu mengurangi kadar air sekaligus menghasilkan senyawa alami yang dapat memperlambat pertumbuhan mikroorganisme. Pengasapan juga memberikan aroma khas yang membuat rasa daging lebih kuat dan tahan lama. Di beberapa daerah, metode ini masih sering digunakan untuk menyimpan stok daging dalam jumlah besar. Meski lebih awet, daging asap tetap perlu disimpan dengan baik agar kualitasnya terjaga. Hindari menyimpan daging asap di tempat lembap karena bisa memicu pertumbuhan jamur.
Video “Dokter Tegaskan Makan Daging Bukan Pemicu GERD!” dan beberapa konten tips sehat menyantap daging kurban menekankan bahwa nikmatnya daging kurban sering dibayangi oleh risiko kesehatan. Kolesterol dan asam urat menjadi perhatian utama, namun sebenarnya dapat dikelola dengan baik melalui pola makan dan cara penyimpanan yang tepat.
Dengan memahami empat metode pengawetan sederhana ini—pendinginan, pembekuan, pengeringan, dan pengasapan—kita dapat menjaga daging kurban tetap aman dan awet. Selalu perhatikan suhu penyimpanan, kebersihan wadah, dan hindari mencairkan lalu membekukan kembali daging mentah. Dengan cara ini, daging kurban dapat dinikmati tanpa khawatir akan risiko kesehatan yang tidak perlu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
