Jembatan Tua Cibadak, Siswa Rawan Bahaya, Harap Pemerintah Tanggap

Iwan D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Jembatan Tua Cibadak, Siswa Rawan Bahaya, Harap Pemerintah Tanggap

Gambar atau konten salah?

Jembatan tua di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, menampakkan dua batang bambu yang menahan struktur besi miring yang sangat curam. Setiap hari, para pelajar menyeberangi jembatan ini dengan hati-hati, seolah menaruh nyawa mereka pada dua batang bambu yang bergetar hebat.

Jembatan ini menjadi jalur utama bagi siswa di wilayah ini. Meskipun kondisi jembatan sudah tidak stabil, mereka tetap melintasinya demi menghemat ongkos angkot. Rp 2.000 menjadi angka yang sangat berarti bagi mereka, dibandingkan dengan Rp 4.000 jika harus memutar sekitar 2 kilometer.

Ardiansyah Sopandi, salah satu pelajar, menjelaskan dilema yang ia hadapi setiap kali berangkat dan pulang sekolah. Ia mengatakan, “Ada jalan lain, tapi jauh, lewat muter sekitar 2 kilometer. Kalau lewat sana ongkosnya mahal, sekitar Rp 4.000. Kalau lewat sini (jembatan) cuma Rp 2.000, lebih terjangkau buat anak sekolah.”

Ardiansyah menambahkan, “Jalan sini lumayan dekat Pak, soalnya kalau lewat sana (memutar) takut kesiangan. Lewat sini enggak (kesiangan).”

Keberanian para pelajar tidak lepas dari trauma mendalam. Ia mengingat pengalaman mencekam ketika hampir terperosok ke sungai yang alirannya sering deras, terutama saat cuaca ekstrem. Ia mengaku, “Takut sih Pak, apalagi kalau hujan suka licin. Pernah beneran terjebak di sini, bertiga atau berempat sama teman. Waktu itu hampir jatuh ke sungai karena licin. Dulu mah belum ada bambu (penyangga) kayak sekarang.”

Sejak warga berinisiatif memasang dua batang bambu penyangga atau “tunjel”, kondisi jembatan menjadi lebih aman, meski masih berkarat. Bambu tersebut kini menjadi satu-satunya harapan agar para pelajar tidak tergelincir ke sungai.

Para pelajar berharap pemerintah segera turun tangan. Mereka menegaskan, “Harapannya bisa segera dibangun sama pemerintah, soalnya ini jalan umum, banyak juga orang lewat sini. Selain kami ada, petani, warga, sampai pedagang. Kasihan kalau harus muter lewat atas sana, jauh.”

Hingga kini, pemandangan pelajar berseragam putih-biru yang berjalan hati-hati di atas sling besi berkarat masih menjadi pemandangan harian di Cibadak. Mereka hanya bisa berharap dua batang bambu itu tetap kuat menopang mimpi mereka hingga jembatan permanen benar-benar dibangun.

Di 31 Maret 2026, ketika Ardiansyah dan teman-temannya melintasi jembatan, mereka masih menimbang risiko dan biaya. Meskipun jembatan sudah berusia lebih dari satu dekade, kebutuhan akan akses yang aman tetap menjadi prioritas bagi komunitas ini. Sementara pemerintah belum menanggapi, para pelajar dan warga terus menunggu solusi yang dapat mengakhiri ketergantungan pada jembatan yang masih rawan.

Jembatan CibadakBambu PenyanggaOngkos AngkotRisiko KeselamatanPemerintahSungaiSukabumi

Komentar

Memuat komentar...