Jurnal Indonesia Terindeks Scopus Masih Butuh Peningkatan Signifikan

Ayu W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Jurnal Indonesia Terindeks Scopus Masih Butuh Peningkatan Signifikan

Gambar atau konten salah?

Indonesia masih memerlukan upaya besar untuk menunjukkan eksistensinya di dunia penelitian internasional. Dari total 29.554 jurnal yang terindeks di Scopus, hanya 252 jurnal atau 0,85% yang berasal dari Indonesia. Informasi ini disampaikan oleh Profesor Istadi, peneliti dan Guru Besar Teknik Kimia di Universitas Diponegoro, dalam Sosialisasi Program Rinjani Tahun 2026 pada 6 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa data tersebut merupakan informasi per tahun 2025, dan data terbaru untuk 2026 akan dirilis pada bulan Mei atau Juni. Istadi menambahkan bahwa sebenarnya jumlah jurnal yang terindeks lebih banyak, karena masih ada beberapa jurnal yang belum masuk dalam SCImago Journal Rank (SJR), yang diumumkan setahun sekali.

Meskipun kontribusi jurnal Indonesia di tingkat dunia belum mencapai 1%, kinerja jurnal Indonesia di Asia Tenggara cukup baik. Dari 29.554 jurnal terindeks, sebanyak 744 jurnal berasal dari Asia Tenggara, dengan Indonesia berada di peringkat pertama, yaitu 33,9% dari total sebaran jurnal di kawasan tersebut. Berikut adalah sebaran jurnal berdasarkan negara:

Istadi menyatakan bahwa jumlah jurnal yang dihasilkan Indonesia lebih banyak dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, yang mungkin disebabkan oleh bonus demografi. Indonesia memiliki populasi besar, yang memberikan potensi untuk menghasilkan jurnal berkualitas.

Dalam hal status Quartile (Q1-Q4), sebaran jurnal di Asia Tenggara adalah sebagai berikut:

  1. Indonesia
    • Q1: 22,6%
    • Q2: 17,1%
    • Q3: 33,7%
    • Q4: 24,6%
    • Non-Q: 2%
  2. Singapura
    • Q1: 21,7%
    • Q2: 33,8%
    • Q3: 32,5%
    • Q4: 10,8%
    • Non-Q: 1,3%
  3. Malaysia
    • Q1: 7,9%
    • Q2: 18,9%
    • Q3: 43,3%
    • Q4: 28,3%
    • Non-Q: 1,6%
  4. Thailand
    • Q1: 5,4%
    • Q2: 20,7%
    • Q3: 34,8%
    • Q4: 39,1%
    • Non-Q: 0%
  5. Filipina
    • Q1: 7,4%
    • Q2: 18,5%
    • Q3: 11,1%
    • Q4: 63%
    • Non-Q: 0%
  6. Vietnam
    • Q1: 0%
    • Q2: 25%
    • Q3: 0%
    • Q4: 75%
    • Non-Q: 0%
  7. Brunei Darussalam
    • Q1: 0%
    • Q2: 0%
    • Q3: 0%
    • Q4: 100%
    • Non-Q: 0%

Berdasarkan bidang studi, sebaran jurnal Indonesia adalah sebagai berikut:

  • STEM: 48%
  • Ilmu Sosial: 41%
  • STEM dan Ilmu Sosial: 11%

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas jurnal Indonesia, Kemdiktisaintek meluncurkan program Akselerasi Peningkatan Reputasi Jurnal Ilmiah Indonesia (Rinjani) untuk tahun anggaran 2026. Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Yudi Darma, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk memperbaiki reputasi jurnal melalui pengelolaan yang baik, peningkatan kualitas, dan perluasan visibilitas internasional.

Program Rinjani akan difokuskan untuk membantu jurnal yang sudah berada di Q2 dan Q3 agar dapat mencapai Q1. Selain itu, program ini juga akan mendukung jurnal yang sudah berstatus Q1 untuk mempertahankan posisinya. Kemdiktisaintek akan membuka seleksi terbuka untuk program ini, yang menyasar jurnal ilmiah dari perguruan tinggi negeri dan swasta yang terindeks Scopus.

Saat ini, belum ada informasi mengenai waktu pendaftaran program Rinjani 2026, karena masih dalam tahap penetapan petunjuk teknis dan dokumen lainnya. Namun, Kemdiktisaintek menyatakan bahwa program ini akan segera dibuka.

Secara keseluruhan, upaya ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kualitas penelitian dan menghasilkan publikasi yang lebih baik di tingkat internasional.

jurnalIndonesiaScopusRinjaniAsia TenggaraSTEMilmu sosialkualitas

Komentar

Memuat komentar...