Kampung Ismail Marzuki Buka, Menyajikan Budaya Betawi Asli

Guntur P. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Kampung Ismail Marzuki Buka, Menyajikan Budaya Betawi Asli

Gambar atau konten salah?

Jakarta terus berubah, namun pemerintah kota berusaha menjaga warisan budaya Betawi. Salah satu upaya nyata adalah Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (PBB) di Setu Babakan, khususnya Kampung Ismail Marzuki. Kawasan ini resmi dibuka untuk umum pada 13 Februari 2026.

Pulau buatan seluas 3,2 hektare di tengah Danau Setu Babakan menjadi pusat pengalaman budaya. Di sana, rumah adat Betawi dipasang lengkap dengan ornamen gigi balang, menciptakan suasana desa Betawi masa lalu. Pengunjung dapat merasakan kehidupan tradisional Betawi, sekaligus menikmati pemandangan alam yang tenang.

Shafrina Fauzia, yang mewakili Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi (UPK PBB), menjelaskan latar belakang proyek ini. Ia menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari visi lebih besar yang sudah direncanakan lebih dari dua dekade.

“Tahun 2003–2005 itu direncanakan 289 hektar area di Kelurahan Srengseng Sawah itu akan difungsikan sebagai Kawasan Perkampungan Budaya Betawi. Nah, pada saat itu ada kebutuhan untuk bikin satu area di mana bisa merepresentasikan kampung Betawi pada masa dulu gitu,” kata Shafrina pada 29 April 2026.

Ia menambahkan, “Akhirnya butuh ada satu area yang menampilkan kampung Betawi yang bisa menjelaskan nih kalau Betawi itu ada pembagian wilayahnya gitu, ada Betawi Pesisir, Betawi Tengah atau Betawi Kota, sama Betawi Pinggir.”

Seiring modernisasi, arsitektur rumah Betawi semakin jarang terlihat. Banyak penduduk memilih renovasi dengan dinding bata, menghilangkan ciri khas asli.

Untuk menampilkan Betawi secara otentik, pemerintah membangun pulau buatan di tengah danau. Pulau ini dirancang menyerupai kampung lama, jauh dari hiruk‑pikuk kota. Rumah adat di pulau tersebut lengkap dengan elemen khas, memberi pengalaman autentik bagi pengunjung.

Nama pulau, Kampung Ismail Marzuki, diambil pada periode 2022–2023. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di bawah Gubernur Anies Baswedan, mengeluarkan peraturan untuk mengganti nama jalan dan fasilitas umum dengan nama tokoh Betawi. “Kenapa diubah? Itu bertepatan sama Peraturan Gubernur itu keluar sebagai bentuk penghargaan kepada tokoh Betawi. Makanya area‑area yang dianggap ‘Betawi banget’ akhirnya diubah jadi nama tokoh‑tokoh,” jelas Shafrina.

Ismail Marzuki, maestro musik dan pahlawan nasional Betawi, dipilih sebagai nama penghormatan abadi. Nama ini menggantikan fungsi semula pulau yang dulu dikenal sebagai Zona C.

Kawasan PBB Setu Babakan terdiri dari lima zona utama, masing-masing dinamai tokoh Betawi:

  • Kampung Muhammad Husni Thamrin (sebelumnya Zona A)
  • Kampung Ismail Marzuki (sebelumnya Zona C)
  • Kampung KH Noer Ali, yang mencakup area SMK 74 (Sekolah Kesenian) yang baru dibuka pada 2024
  • Kampung Abdulrahman Saleh, gedung sentra kuliner baru di pinggir Setu Babakan
  • Zona Embrio

Meskipun PBB direncanakan seluas 289 hektar, sebagian area masih menjadi permukiman warga. Pemerintah memberikan arahan agar penduduk menggunakan ornamen dan arsitektur Betawi, seperti gigi balang, untuk menjaga konsistensi estetika.

“Masyarakat yang tinggal di sini diarahkan sama peraturan tersebut buat pakai ornamen atau arsitektur Betawi. Jadi walaupun punya masyarakat umum misalnya, itu memang diarahin misalnya pakai gigi balang atau pakai ornamen Betawi,” jelas Shafrina.

Pengunjung dapat mengakses Kampung Ismail Marzuki secara gratis. Pulau beroperasi setiap hari dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Di pulau ini tersedia fasilitas berikut:

  • Jalur Pedestrian (Jogging Track): area nyaman untuk jogging di pagi atau sore, dikelilingi pepohonan rindang dan pemandangan danau.
  • Spot Foto Menarik: banyak sudut Instagramable, memadukan keindahan alam dan arsitektur rumah adat.
  • Rumah Adat dan Saung: pengunjung dapat bersantai di saung‑saung khas Betawi tempo dulu.
  • Fasilitas Pendukung: toilet umum, musala, dan kolam ikan yang dirawat dengan baik.

Walaupun masuk gratis, kebersihan tetap menjadi prioritas. Shafrina mengakui tantangan menjaga kebersihan di area terbuka luas, namun petugas kebersihan standby membantu. Ia juga menyebutkan bahwa keamanan anak kecil masih menjadi tantangan, “Kalau anak kecil juga mungkin dari segi keamanan masih agak riskan. Paling di situ sih tantangannya, di keamanan area.”

UPK PBB menyediakan layanan pemandu wisata edukasi bagi instansi pendidikan atau kelompok yang ingin mendalami budaya Betawi. Kunjungan edukasi harus dikoordinasikan sebelumnya melalui surat permohonan.

Rencana masa depan fokus pada pariwisata rekreasi dan kunjungan edukatif. Shafrina mengungkapkan niat memindahkan pertunjukan seni, biasanya di teater terbuka di Kampung Muhammad Husni Thamrin, ke Kampung Ismail Marzuki. “Terus kegiatan festival yang rutin kami laksanakan setiap tahun kayak HUT Jakarta, HUT RI, atau HUT Perkampungan Budaya Betawi ada rencana juga untuk dilaksanakan di sana,” ujarnya.

Selain seni dan budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar menjadi agenda penting. Saat ini belum ada keterlibatan langsung UMKM di pulau, namun Shafrina optimistis bahwa kolaborasi akan segera terwujud seiring meningkatnya aktivitas dan kunjungan. “Mungkin ke depannya kalau kami sudah banyak melaksanakan kegiatan di sana, mungkin ada kolaborasi sama UMKM atau sama masyarakat sekitar untuk bisa jualan di sana atau yang lainnya itu mungkin ada kesempatan untuk ke arah sana,” tambahnya.

Dengan kombinasi pelestarian budaya, fasilitas rekreasi, dan potensi ekonomi, Kampung Ismail Marzuki menjadi contoh bagaimana kota besar dapat menyeimbangkan modernisasi dengan identitas lokal. Pengelolaan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pelaku ekonomi menunjukkan bahwa warisan budaya Betawi masih dapat dinikmati dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Kawasan Perkampungan Budaya BetawiSetu BabakanKampung Ismail MarzukiBetawipulau buatanUPK PBBgigi balang

Komentar

Memuat komentar...