Kampung Tugu: Jejak Portugis di Jakarta Utara
Gambar atau konten salah?
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang modern, ada sebuah perkampungan unik yang menyimpan sejarah panjang. Kampung Tugu, yang terletak di Jakarta Utara, adalah rumah bagi komunitas keturunan Portugis yang masih menjaga tradisi mereka hingga hari ini.
Alfondo Andries, salah satu warga Kampung Tugu yang juga penggiat musik Keroncong dan mantan ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), menceritakan asal-usul kampung ini. Menurutnya, keberadaan orang Tugu sudah tercatat sejak tahun 1661, saat wilayah ini masih berada di bawah penjajahan Portugis sebelum Belanda datang.
"Orang Tugu itu tahun 1661 itu sudah berada di sini, karena dulu kita awalnya dijajah Portugis sebelum Belanda masuk. Setelah dijajah Belanda, banyak hal berubah, termasuk budaya, nama dan agama," jelas Alfondo.
Nama "Tugu" sendiri memiliki beberapa versi cerita. Ada yang menyebutnya berasal dari Prasasti Tugu, sebuah batu bertulis peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang kini disimpan di Museum Nasional. Versi lain mengatakan nama itu berasal dari penggabungan kata "Por-Tugu-Ese" yang merujuk pada komunitas Portugis di kawasan tersebut.
Alfondo menambahkan bahwa dulu warga Tugu beragama Katolik. Namun setelah Belanda mengambil alih, mereka dipaksa beralih menjadi Protestan. Nama-nama warga dan keturunan mereka juga harus mengandung unsur Belanda — sebuah aturan yang masih terlihat hingga sekarang.
Meski hidup di era modern, Kampung Tugu terus beradaptasi. Tapi mereka tidak melupakan warisan leluhur. Ada beberapa marga utama yang menjadi ciri khas warga Tugu: Michiels, Andries, Abrahams, Quiko Bacca, Simon, Braune, Salomons, dan Cornelis.
"Marga ini sebagai ciri khas kita. Identitas kita," kata Alfondo.
Kampung Tugu bahkan telah diakui secara internasional. Menurut Alfondo, komunitas ini ditetapkan oleh Asian Portuguese Community sebagai destinasi sejarah yang lengkap.
"Kenapa dibilang lengkap? Orangnya ada, nih ada komunitasnya. Peninggalannya ada, tuh ada gereja. Budaya kita juga ada, mulai Mande-mande, Rabo-rabo. Seninya ada, yaitu keroncong, tarian," tambahnya.
Bahasa Kreol, Bahasa Unik Warga Tugu
Warga Tugu tidak menggunakan bahasa Portugis murni. Mereka justru memakai bahasa Kreol — perpaduan antara bahasa Portugis dan Melayu. Hingga saat ini, beberapa kosakata Kreol masih dipakai, terutama dalam lirik musik Keroncong.
"Orang Tugu masih pakai, cuma sedikit. Misalnya tata untuk kakek, cici untuk kakak perempuan, atau mina untuk anak perempuan. Lagu-lagunya (Keroncong) pun banyak pakai bahasa Kreol," tambah Alfondo.
Dalam keseharian, warga Tugu kini berbicara bahasa Indonesia seperti warga Jakarta lainnya. Mereka juga lekat dengan budaya Betawi.
Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT)
Warga Tugu bersatu dalam komunitas besar bernama Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT). Komunitas ini sudah terbentuk sejak tahun 1976. Tujuannya sederhana: bahu-membahu menjaga dan melestarikan Kampung Tugu.
Saat ini, lebih dari 500 orang tergabung dalam IKBT. Mereka rutin menggelar tradisi tahunan.
"IKBT selalu menjaga tradisi di Kampung Tugu, yaitu tradisi rabo-rabo dan tradisi mandi-mandi yang selalu dilaksanakan setiap tahun baru dan satu minggu setelah tahun baru. Di situ, di acara adat itu, warga IKBT berkumpul bersama untuk merayakan tradisi yang ada di Kampung Tugu," kata Rensyi Michiels, Ketua IKBT.
Rensyi juga mengungkapkan bahwa IKBT sedang mempersiapkan Festival Kampung Tugu yang akan digelar pada Agustus 2026 mendatang.
Gereja Tugu: Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Pemukiman Kampung Tugu berada di Jalan Raya Tugu, Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Sekretariat IKBT berada di kawasan Gereja Tugu. Di sinilah warga biasa berkumpul, merembukkan acara, dan bersilaturahmi.
Bagi warga Tugu, Gereja Tugu bukan hanya tempat beribadah. Ia adalah pusat kegiatan budaya.
Setiap tanggal 1 Januari, warga melakukan tradisi Rabo-rabo di Gereja Tugu. Setelah ibadah misa, warga bersama rombongan pemusik Keroncong akan mengunjungi rumah warga satu per satu. Mereka bersalaman dengan pemilik rumah.
Satu minggu setelah Rabo-rabo, warga menggelar Mandi-mandi — atau yang mereka sebut "mandi bedak". Di momen ini, warga saling maaf-memaafkan, berkumpul, dan menari bersama di halaman Gereja Tugu.
Gereja Tugu sendiri dibangun pada kurun waktu 1744-1747 oleh Justinus Vink. Gereja ini dibangun untuk komunitas Mardijkers — budak yang dimerdekakan — keturunan Portugis di Batavia. Gereja Tugu adalah gereja tertua nomor dua di Jakarta. Yang paling tua adalah Gereja Sion (dikenal juga sebagai Portugeesche Buitenkerk), yang dibangun pada tahun 1693-1695.
Sejak tahun 1993, Gereja Tugu terdaftar sebagai cagar budaya. Menurut data dari website Kemendikdasmen, pada masa pemerintahan Gustaaff Baron van Imhoff, pembangunan gereja ini dilakukan sebagai pengganti gereja yang hancur pada tahun 1740 dalam peristiwa pemberontakan Cina di Batavia. Arsitektur bangunan Gereja Tugu bergaya Dutch Closed.
Kampung Tugu adalah contoh nyata bagaimana sebuah komunitas bisa bertahan di tengah perubahan zaman. Mereka tidak hanya menyimpan sejarah, tapi juga menjalankannya setiap tahun — melalui tradisi, musik, dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Greenland Pulau Terbesar, Australia Benua Terkecil, Ini Alasannya
Dua Pasar Unik Ini Ubah Uang Jadi Koin Bambu
Promo Schooliday Trans Snow Bintaro, Dua Wahana Satu Harga
Makan Malam Michelin di Bali: Chef Italia Hadir 21 Juni 2026
7 Rekomendasi Wisata Alam Sehari di Jawa Barat dari Jakarta
Pantai Matahari Cikembang Jadi Surga Selancar, Sukabumi
Berita Terbaru
Hujan Deras Surabaya, Empat Rute Bus Dialihkan
Tiga Kuliner Favorit Jokowi, Makanan Haram yang Perlu Diwaspadai
Kampung Tugu: Jejak Portugis di Jakarta Utara
Marquez Kembali Menang, Rekor Rossi Kian Terancam
Timnas MLBB & PUBG Mobile Indonesia Lolos ke Asian Games 2026
Bupati Sidoarjo Peringatkan Kontraktor: Tepat Waktu atau Kena Denda
Bayi Keracunan Nitrit Usai Susu Formula Dicampur Jus Sayuran
STNK Dua Tahun Mati, Data Kendaraan Bisa Dihapus
