Kebaya Terakui UNESCO: Rahmi Hidayati dan Komunitas Kebaya

Wahyu T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 89 dibaca
Bisik.id
Kebaya Terakui UNESCO: Rahmi Hidayati dan Komunitas Kebaya

Gambar atau konten salah?

Rahmi Hidayati adalah pendiri Komunitas Kebaya Indonesia, sebuah organisasi yang berfokus pada pelestarian pakaian tradisional ini. Ia memimpin upaya penting untuk mendapatkan pengakuan UNESCO bagi kebaya, yang kini sedang dalam proses resmi. Pada sidang ke-19 Session of the Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) di Asunción Paraguay, UNESCO akhirnya mengakui kebaya sebagai warisan budaya tak benda.

Perjalanan menuju pengakuan tersebut tidak mulus. Rahmi memulai inisiatif ini pada tahun 2017. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak menempuh jalur ini sendirian. Bersama Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand, Indonesia mengajukan nominasi bersama kepada UNESCO. “Kalau kita menolak joint nomination, mereka bisa daftarkan sendiri, dan akhirnya kebaya jadi punya mereka. Dengan bergabung, kita memastikan kebaya diakui sebagai warisan bersama di kawasan ini,” jelas Rahmi di Perumahan Depok Indah.

Ia menyoroti pengaruh budaya Indonesia, khususnya jalur rempah, yang membawa kebaya ke semenanjung Malaya berabad-abad lalu. Saat ini, fokus utama Komunitas Kebaya Indonesia adalah mendaftarkan berbagai jenis kebaya lain sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sebelum melangkah ke level internasional.

Rahmi juga menekankan pentingnya memodifikasi busana tradisional agar tetap relevan dengan zaman. “Bagi Rahmi, memodifikasi busana tradisional merupakan cara yang mulus untuk tetap tampil kontemporer, asalkan tetap menghormati ‘pakem’ atau prinsip-prinsip dasar yang telah mapan.” Ia menunjukkan contoh bagaimana kain lurik atau potongan kain sisa dapat diolah menjadi “kebaya kutu baru” yang kontemporer, sambil tetap mematuhi prinsip simetri dasar.

Namun ia juga menciptakan istilah khusus untuk kebaya yang menyimpang secara signifikan dari akar tradisionalnya. “Kalau modelnya tidak simetris atau kancingnya tidak di tengah, mungkin itu ‘Kebaya Selingkuh’ kali ya,” candanya. Sementara istilah “Kebaya Gombrong” merujuk pada gaya santai yang dipilih karena kenyamanannya, meskipun tidak sepenuhnya mengikuti pakem karena tidak menonjolkan garis pinggang.

Perjalanan Rahmi tidak lepas dari latar belakang jurnalisme. Ia mengingat masa lalu ketika Menteri masih menjadi aktivis dan ia, sebagai wartawan, sering nongkrong bersama. “Dulu waktu Pak Menteri masih jadi aktivis, saya wartawan. Biasa nongkrong bareng,” kenang Rahmi. Jaringan luas yang ia bangun di dunia media memudahkan aksesnya ke lingkaran berpengaruh, semua demi mempromosikan budaya.

Melalui Komunitas Kebaya Indonesia, Rahmi terus konsisten menyuarakan agar perempuan Indonesia bangga mengenakan kebaya dalam keseharian. Baginya, setiap lipatan kain kebaya adalah cerita tentang sejarah, harga diri, dan masa depan budaya bangsa.

Di balik upaya pelestarian ini, terdapat dinamika diplomasi budaya di tingkat ASEAN. Meskipun kebaya telah diakui di tingkat internasional, masih ada tantangan dalam memastikan semua variasi kebaya di Indonesia terdaftar secara resmi. Proses ini memerlukan kerja sama lintas negara, serta dukungan dari lembaga budaya dan pemerintah setempat.

Keberhasilan pengakuan UNESCO memberi sinyal positif bagi pelestarian budaya Indonesia. Namun, proses ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi regional dan pemahaman mendalam tentang sejarah serta nilai-nilai budaya yang melekat pada pakaian tradisional. Dengan demikian, kebaya tidak hanya menjadi pakaian, melainkan juga simbol identitas dan warisan yang terus hidup.

Kebaya IndonesiaUNESCOWarisan Budaya Tak BendaKomunitas Kebaya IndonesiaDiplomasi Budaya ASEANKebaya KontemporerNominasi Bersama

Komentar

Memuat komentar...