Kembali Rekrut Karyawan, Perusahaan Besar Akui AI Tak Sempurna
Gambar atau konten salah?
Beberapa perusahaan besar mulai mengubah pendekatan mereka terhadap kecerdasan buatan atau AI. Jika sebelumnya banyak yang percaya AI bisa menggantikan semua pekerjaan manusia, kini kenyataan berkata lain. Perusahaan-perusahaan itu kembali membuka lowongan kerja dan merekrut karyawan baru untuk mendukung pertumbuhan bisnis mereka.
Salah satu contohnya adalah Ford. Perusahaan otomotif ini kembali mempekerjakan ratusan tenaga ahli yang sudah berpengalaman. Tugas mereka? Menangani masalah kualitas yang tidak bisa diselesaikan oleh sistem otomatis. Pimpinan Ford mengakui bahwa AI perlu dilatih dengan banyak informasi dari manusia.
"Kecerdasan buatan adalah alat yang fantastis, tetapi hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya," kata Charles Poon, Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Ford, pada 04 Juli 2026.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Commonwealth Bank of Australia (CBA). Bank ini membatalkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) karena sistem AI ternyata tidak mampu menggantikan peran staf layanan pelanggan. Serikat pekerja di sektor keuangan Australia menyebut keputusan ini sebagai kemenangan besar.
Menurut laporan ABC pada Agustus tahun lalu, CBA mengakui bahwa mereka tidak mempertimbangkan semua aspek bisnis secara menyeluruh saat mengumumkan rencana PHK terhadap 40 karyawan. Perusahaan itu menyadari perlu lebih teliti dalam menilai peran apa saja yang benar-benar dibutuhkan.
IBM juga mengalami hal serupa. Perusahaan ini mengganti peran sumber daya manusia (SDM) dengan AI. Sistem AI berhasil menangani sekitar 94% permintaan rutin. Namun, 6% sisanya—yang mencakup dilema etika—tidak bisa diselesaikan oleh mesin. Akibatnya, IBM mengumumkan rencana untuk melipatgandakan perekrutan karyawan tingkat pemula di Amerika Serikat untuk seluruh unit bisnis pada tahun 2026.
"Jika kita tidak terus berinvestasi dalam perekrutan karyawan tingkat pemula, apa yang akan terjadi dalam tiga hingga lima tahun ke depan? Tidak ada jalur perekrutan; sumber daya manusia akan mengering begitu saja," kata Nickle LaMoreaux, Kepala SDM IBM.
Para analis sebelumnya sudah menyinggung langkah tiga perusahaan ini. PHK karyawan dan mengganti peran manusia dengan AI bukanlah strategi terbaik menuju pertumbuhan bisnis. Laporan dari Intuition Labs menyebutkan bahwa mengganti peran manusia tanpa melatih keterampilan karyawan tidak akan membuat AI bekerja secara optimal.
"Yang perlu diperhatikan, di antara perusahaan yang mendorong otomatisasi, banyak yang kemudian 'menyesali' PHK, karena telah memecat orang-orang yang dibutuhkan untuk mengawasi AI," tulis laporan tersebut.
Data dari Orgvue menunjukkan bahwa 39% pemimpin bisnis melakukan PHK karena penerapan AI. Namun dari jumlah tersebut, 55% mengakui bahwa keputusan PHK itu ternyata salah.
"Jika hasil AI tidak konsisten, tidak akurat, atau sulit diterapkan, perusahaan sering kali perlu memperkenalkan kembali pengawasan manusia," kata Jessica Zhang, wakil presiden senior APAC di penyedia solusi SDM ADP.
Sementara itu, data dari Robert Half yang dikirim ke CNBC menunjukkan bahwa 32% manajer perekrutan di AS mengaku telah menghapus suatu posisi terutama karena AI. Namun kemudian mereka mempekerjakan kembali untuk posisi yang sama atau serupa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa AI memang mengubah tempat kerja. Namun organisasi mulai menemukan nilai lebih dalam membangun kerja sama antara manusia dan AI, daripada mengganti pekerjaan manusia sepenuhnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Ulat Hidup di MBG Boyolali, Ditemukan Tiga Kali
Harga Toyota Avanza Naik Rp 500 Ribu per Juli 2026
Peringatan Bos SK Hynix: Krisis Chip Memori Belum Usai
DJKA Dapat Rp 4,65 Triliun dari Rp 8,05 Triliun Usulan
Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Cair 20 Juli 2026
Indonesia Berlakukan B50, SPBU Wajib Jual Mulai Oktober 2026
Kunjungan Silaturahmi Tiga Pilar Hukum Tanjungpinang
Appi Siap Tempuh Jalur Hukum Jika Dukungan Ditolak
BMKG Catat Gempa 2,5 Magnitudo di Perairan Cilacap
