Kementerian Kehutanan Luncurkan Aplikasi Ayo ke Taman Nasional
Gambar atau konten salah?
Di tengah lonjakan minat pendakian gunung, Kementerian Kehutanan mengumumkan rencana digitalisasi layanan taman nasional. Langkah ini bertujuan mengatur jumlah pengunjung sekaligus meningkatkan keselamatan pendaki.
“Tren naik gunung saat ini semakin populer di kalangan anak muda,” kata Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, saat peluncuran aplikasi Ayo ke Taman Nasional di Jakarta Convention Center (JCC) pada 04 Juni 2026.
Ia menambahkan, “Kita masih memiliki kendala di dalam mengelola Taman Nasional kita. Antusiasme yang luar biasa, sekarang berkembang menjadi semacam FOMO, Fear of Missing Out, di mana sekarang menjadi tren naik gunung.”
Raja Juli menekankan perlunya kanalisasi antusiasme. “Antusiasme ini luar biasa harus kita kanalisasi, kita harus apresiasi. Namun aspek safety juga penting,” ujarnya.
Masalah utama, menurutnya, adalah wisatawan yang mendaki tanpa persiapan memadai. Ia mengutip contoh pendaki yang membeli paket wisata murah ke Gunung Rinjani tanpa perlengkapan atau pengetahuan yang cukup. “Saya dapat cerita dari Agam (Rinjani) ini misalkan banyak orang yang jalan ke Gili Trawangan di sana kemudian diberikan paket murah naik Rinjani, kemudian pergi ke Gunung Rinjani tanpa peralatan yang cukup, tanpa pengetahuan yang cukup. Sehingga akhirnya terjadilah apa yang tidak kita inginkan, oleh karena itu safety menjadi penting, kenyamanan menjadi penting,” jelas Raja Juli.
Untuk mengatasi hal tersebut, kementerian akan menerapkan sistem kuota digital. Sistem ini akan menyesuaikan jumlah pengunjung dengan daya tampung dan daya dukung kawasan. Dengan demikian, kunjungan dapat dikontrol, khususnya pada akhir pekan atau musim liburan.
“Jadi kita akan berikan daya tampung dan daya dukung untuk agar masyarakat, anak-anak muda dapat menikmati apa yang memang harus dinikmati. Bukan tidak boleh tapi harus mengantre. Kalau memang hari weekend ini penuh ya harus daftar di minggu depan, kalau enggak ya minggu depannya lagi,” kata Raja Juli.
Ia menegaskan bahwa pembatasan kuota bukan untuk melarang wisata alam, melainkan untuk menjaga keselamatan dan mencegah kepadatan berlebihan di taman nasional.
Selain pengaturan kuota, Kementerian Kehutanan mendorong penerapan prinsip zero waste dan zero accident. Inisiatif ini sudah mulai diterapkan di beberapa kawasan, termasuk Gunung Rinjani, dan akan diperluas ke wilayah lain.
“Jangan lihat Rinjani dari jauh yang indah tapi lihat sampah‑sampah yang menumpuk karena kenakalan para pendaki yang tidak taat. Enforcement akan kita lakukan agar semua tertib,” tegas Raja Juli.
Dengan digitalisasi, kuota, dan penegakan prinsip zero waste, pemerintah berharap pendakian gunung dapat tetap aman dan berkelanjutan, sekaligus menjaga keindahan alam bagi generasi mendatang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Desa Jambi: Jejak Lisan Pasukan Sriwijaya di Nganjuk
Kemenpar Luncurkan Program Delisting Akomodasi Keamanan
Singapura Jadi Destinasi Utama Wisatawan Indonesia 2026
Trans Hotel Surabaya Buka 28th Sky Beach Club Tertinggi
Porong Lama: Keramaian Mati Akibat Lumpur Lapindo Sidoarjo
Konflik Gebby Vesta & Sopir Taksi Di Bali Berakhir Damai
Berita Terbaru
Kematian Ibu Jembrana, Kasus Rabies Pertama di Bali
Balaton Park Jadi Panggung Utama MotoGP Hungaria Pada Minggu
Ikan Asin Tertarik Risiko Kanker Nasofaring Tinggi
5 Kreasi Donat Variatif, Inspirasi Bisnis Rasa Baru
Desa Jambi: Jejak Lisan Pasukan Sriwijaya di Nganjuk
Daihatsu Tumbuh 25% Penjualan 12.531 Unit pada 1 Mei 2026
Yann Diomande: Pemuda Pantai Gading Diincar Liverpool dan PSG
Harga Emas Antam Medan Naik Rp 2,770,000 per Gram di Medan
PHK Nasional 2026 Turun Setengah, Jawa Barat Paling Banyak
