Keracunan Vitamin D Banjir di Kalangan Lansia di Indonesia
Gambar atau konten salah?
Vitamin D sering dipuji karena manfaatnya bagi kesehatan, namun para ilmuwan mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan dapat menimbulkan risiko serius, bahkan mengancam jiwa.
Vitamin yang dikenal sebagai “vitamin sinar matahari” ternyata memiliki sisi gelap. Seperti kekurangan vitamin D dapat menyebabkan masalah kesehatan, kelebihan asupan juga dapat memicu komplikasi serius.
Selama bertahun‑tahun, para peneliti telah memperingatkan bahwa tidak semua orang perlu mengonsumsi suplemen vitamin D. Pada kasus yang jarang terjadi, terutama pada anak-anak dan lansia, dosis tinggi dapat bersifat toksik. Seiring popularitas suplemen ini meningkat, pasien dan dokter diminta lebih waspada terhadap dosis serta efek sampingnya. Meski risikonya tergolong jarang, kasusnya terus meningkat dan dalam kondisi terburuk dapat mengancam nyawa.
Kelebihan vitamin D meningkatkan penyerapan kalsium dalam tubuh. Kondisi ini memicu hiperkalsemia, yaitu penumpukan kalsium berbahaya di arteri atau jaringan lunak. Dampaknya tidak sepele. Hiperkalsemia dapat meningkatkan risiko batu ginjal, mengganggu metabolisme tulang, serta menimbulkan gejala seperti mual, muntah, sembelit, kelelahan, kelemahan otot, hingga nyeri tulang.
Sebagian besar pasien dapat pulih setelah suplemen dihentikan dan mendapatkan terapi, seperti cairan infus atau obat penurun kadar kalsium. Namun, dalam kondisi langka jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berujung pada gagal ginjal yang memerlukan hemodialisis, bahkan menyebabkan perdarahan usus fatal.
Tak hanya itu, sejumlah penelitian menunjukkan lansia dengan kadar vitamin D tinggi dalam darah berisiko lebih tinggi mengalami jatuh.
Dalam tinjauan tahun 01 Januari 2018, peneliti di AS memperingatkan adanya “sikap terlalu percaya diri” terhadap keamanan vitamin D dosis tinggi. Hingga kini, ilmuwan belum sepakat soal batas pasti asupan yang tergolong berlebihan.
“Dikombinasikan dengan peningkatan dramatis minat terhadap vitamin D yang sebagian berasal dari buku‑buku populer yang memuji manfaat vitamin D dosis tinggi, mungkin tidak mengherankan jika terjadi peningkatan jumlah kasus keracunan vitamin D,” demikian kesimpulan para penulis tinjauan tersebut, dikutip dari ScienceAlert.
Vitamin D sendiri diproduksi tubuh saat terpapar sinar matahari dan menyumbang sekitar 90 persen kebutuhan harian. Sisanya berasal dari makanan seperti ikan berlemak dan produk susu yang diperkaya. Perannya penting, mulai dari membantu penyerapan kalsium hingga mendukung sistem imun, pertumbuhan sel, metabolisme, dan fungsi neuromuskular. Kekurangan vitamin D dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan neurologis, autoimun, tulang, hingga penyakit kardiovaskular.
Meski begitu, manfaat suplemen vitamin D masih menjadi perdebatan. Beberapa studi menyebutkan potensi manfaat seperti memperlambat penuaan, meningkatkan fungsi kognitif, hingga meredakan gejala depresi. Namun, ilmuwan lain meragukan efektivitasnya. Yang jelas, suplemen ini bukan tanpa risiko. Banyak kasus keracunan terjadi akibat kesalahan penggunaan dalam terapi kekurangan vitamin D.
Salah satu kasus melibatkan pria 80 tahun yang tanpa sengaja mengonsumsi tablet vitamin D dosis tinggi mingguan setiap hari. Kondisinya sempat mengalami hiperkalsemia, tetapi membaik setelah kesalahan tersebut diketahui dan suplemen dihentikan.
Kasus serupa juga terjadi pada anak-anak. Pada 01 Januari 2016, otoritas kesehatan Denmark menarik suplemen yang mengandung vitamin D hingga 75 kali lipat dari dosis yang direkomendasikan, bahkan menyebabkan sekitar 20 anak dilaporkan mengalami efek toksik.
Di Amerika Serikat, tren kasus juga meningkat. Antara 01 Januari 2000 hingga 31 Desember 2014, lebih dari 25.000 kasus keracunan vitamin D dilaporkan. Bahkan pada periode 01 Januari 2005 hingga 31 Desember 2011, terjadi lonjakan hingga 1.600 persen, banyak di antaranya melibatkan anak-anak dan remaja. Meski tidak ada laporan kematian, terdapat lima kasus dengan dampak medis serius.
“Perhatikan angka Anda,” demikian peringatan dalam artikel terbaru dari Harvard Medical School yang diulas jurnalis sekaligus dokter praktik Mallika Marshall. “Jika Anda mengonsumsi suplemen vitamin D, Anda mungkin tidak memerlukan lebih dari 15 mcg hingga 20 mcg (600 IU hingga 800 IU) per hari. Kecuali tim medis Anda merekomendasikannya, hindari mengonsumsi lebih dari 100 mcg (4.000 IU) per hari, yang dianggap sebagai batas atas yang aman,” tegasnya.
Dokter di Harvard juga menyarankan, jika mengalami kekurangan vitamin D, sebaiknya mengutamakan asupan dari makanan yang diperkaya karena risikonya jauh lebih kecil dibandingkan suplemen dosis tinggi.
Seperti biasa, sebelum memulai atau menghentikan konsumsi suplemen apa pun, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis. Kesehatan tetap menjadi prioritas utama, dan informasi yang akurat dapat membantu membuat keputusan yang tepat.
Secara keseluruhan, vitamin D memiliki peran penting dalam tubuh, namun dosis yang tepat dan pemantauan berkala sangat diperlukan untuk menghindari risiko toksisitas. Informasi ini menegaskan pentingnya kesadaran akan batas aman dan konsultasi profesional sebelum mengonsumsi suplemen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Anne Hathaway Ungkap Katarak Dini, Mata Kiri Hampir Buta
Tantangan Teka‑Teki Matematika: Uji Pola dan Logika Anda
Air Putih Lebih Menarik: Tambah Lemon, Mint, Chia, Garam
Serangan Jantung Malam: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan
Bolot Di ICU, Komedian Terus Pantau Jantung Setelah Serangan
Diabetes dan Risiko Penyakit Gusi: Pentingnya Kontrol Gula
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
