Kista Ovarium: Deteksi Awal dan Laparoskopi Terbaik

Yuli S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Kista Ovarium: Deteksi Awal dan Laparoskopi Terbaik

Gambar atau konten salah?

Ovarium, organ reproduksi perempuan, seringkali menyimpan rahasia‑rahasia kecil yang tidak terdeteksi. Salah satunya adalah kista ovarium, yang biasanya tidak menimbulkan gejala pada awalnya. Namun bila tidak diobati, kista dapat berkembang menjadi nyeri hebat dan mengganggu siklus menstruasi.

Dr. Med. Firman Santoso, SpOG, spesialis Obstetri & Ginekologi di Brawijaya Hospital, menjelaskan dua kategori utama kista ovarium: kista fungsional dan kista disfungsional. Ia menegaskan bahwa setiap wanita, selama fase reproduksi, pasti akan mengalami kista fungsional. “Jadi setiap wanita, dalam fase reproduksi atau fase subur sebelum mereka menopause, mereka pasti akan memiliki kista fungsional atau hormonal. Setiap bulan ketika mereka mengalami siklus menstruasi, itu kan selalu dihasilkan sel telur yang matang ya,” ujar dr. Firman saat berbincang dengan detikcom di Jakarta, Kamis (07 Mei 2026). Ia melanjutkan, “Nah itu kita sebutnya kita yang fungsional, yang come and gone terus berlangsung sepanjang umur hidupnya sampai pasien ini menopause. Baru nanti kista fungsional tidak akan ada lagi.”

Di sisi lain, kista disfungsional tidak normal dan dapat mengganggu kualitas hidup. Dr. Firman, dengan pengalaman internasional selama 14 tahun dan lebih dari 2.000 operasi, menegaskan bahwa kista disfungsional hadir dalam banyak varian. “Namun, yang paling sering ditemukan adalah jenis endometriosis.” Ia juga menambahkan beberapa tipe lain: kista dermoid (bawaan, berisi rambut, gigi, tulang), mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, dan kista yang mengandung tumor jinak seperti fibroma.

Berikut daftar tipe kista yang sering ditemui:

  • Endometriosis
  • Dermoid (bawaan)
  • Mucinous cystadenoma
  • Serous cystadenoma
  • Fibroma (tumor padat)

Faktor pemicu kista disfungsional seringkali berhubungan dengan gaya hidup. “Yang paling sering kami temukan itu gaya hidup sih. Artinya kalau pola hidupnya tidak sehat, mereka terlalu gemuk, tidak pernah berolahraga, pola makannya terlalu banyak high sugar, terlalu tinggi karbo, lack of protein,” jelas dr. Firman. Ia menegaskan bahwa pola makan tinggi gula, karbohidrat, dan rendah protein dapat memicu kista endometriosis, mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, dan jenis lainnya.

Usia juga memengaruhi risiko. Wanita berusia remaja hingga dewasa, yakni 20‑50 tahun, memiliki risiko tinggi. Namun, bagi perempuan berusia 60 tahun ke atas, kista harus diwaspadai karena potensi kanker ovarium. “Kita harus waspada pada pasien yang berusia lanjut atau 60 tahuan ke atas, harus diwaspadai adanya kanker ovarium,” tegas dr. Firman.

Beruntung, teknologi medis kini memungkinkan penanganan kista dengan metode minimal invasif. Laparoskopi, prosedur operasi kecil dengan sayatan 1‑3 titik di perut, dapat mengangkat kista sekaligus mendiagnosis kondisi. “Ini adalah prosedur operasi minimal invasif (sayatan kecil) untuk mendiagnosis dan mengangkat kista ovarium atau kista lainnya dengan cepat, menggunakan kamera khusus (laparoskop) melalui 1‑3 sayatan kecil di perut,” kata dr. Firman. Ia menambahkan, “Bahkan kalau misalnya ada kanker ovarium, kalau stadiumnya sangat awal, kami benar-benar bisa tangani dengan baik. Bahkan metode operasinya seperti yang dilihat tadi, dengan laparoskopi.”

Prosedur ini biasanya memerlukan waktu singkat. Pasien dapat pulang dalam 1‑2 hari setelah operasi. “Tidak buka perut. Jadi bayangin, kamu cuma bikin 3‑4 lubang kecil, masing-masing 5 mm, setengah cm bayangkan. Jadi operasi, 1‑2 hari pasien sudah boleh pulang,” tutupnya.

Dengan pemahaman tentang jenis kista, faktor risiko, dan pilihan pengobatan, perempuan dapat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan ovarium. Mengetahui bahwa gaya hidup sehat—berolahraga teratur, menjaga berat badan, dan pola makan seimbang—bisa mengurangi risiko kista disfungsional, memberi langkah awal yang penting. Di sisi lain, deteksi dini melalui pemeriksaan rutin tetap krusial, terutama bagi perempuan usia lanjut yang berisiko tinggi terhadap kanker ovarium. Dengan kombinasi pencegahan, deteksi, dan teknologi laparoskopi, penanganan kista ovarium kini lebih aman dan efektif.

kista ovariumendometriosislaparoskopikanker ovariumgaya hidup sehatdiagnosis dinipemeriksaan rutin

Komentar

Memuat komentar...