Kuningan: Jejak Sukarno dan Warisan Budaya dalam Gedung Modern
Gambar atau konten salah?
Kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan sering dipandang sebagai pusat bisnis modern yang dipenuhi gedung pencakar langit. Namun, sejarawan JJ Rizal menegaskan bahwa di balik gedung-gedung itu tersembunyi jejak sejarah yang kaya, menampilkan evolusi Jakarta modern dan budaya Betawi yang masih terjaga.
“Oh iya, kalau buat walking tour, daerah Kuningan ini daerah yang sangat kaya ya. Karena di sini ada, satu, jejak Sukarno,” kata Rizal saat ditemui travel usai sesi talkshow di acara Pencanangan HUT ke-499 Tahun Jakarta, yang berlangsung di Pedestrian Plaza Festival Minggu pada 10 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa salah satu narasi utama yang dapat diangkat adalah jejak Sukarno dalam membangun kawasan internasional di Jakarta. Gagasan tersebut awalnya dirancang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pergaulan dunia pasca-Konferensi Asia Afrika, sekaligus merencanakan pembangunan stadion di kawasan ini.
“Karena gagasannya jadi kawasan internasional itu gagasan Soekarno, sesudah dia nggak jadi pakai ini untuk GBK kan, kemudian dipindahin ke Senayan,” tambah Rizal. Ia menegaskan bahwa banyaknya kedutaan besar yang berlokasi di Kuningan merupakan perwujudan dari visi internasionalisme tersebut.
Gubernur Jakarta Ali Sadikin juga menegaskan pentingnya aspek politik internasional dan budaya. Salah satu warisannya adalah pendirian Pusat Perfilman Usmar Ismail dan Sinematek Indonesia yang berlokasi di kawasan Kuningan.
Dia mencatat bahwa Sinematek menonjol sebagai pusat dokumentasi film yang sangat penting di Asia pada masanya. Misbach Yusa Biran diakui sebagai kontributor utama dalam perkembangannya.
“Bang Ali nambahin gagasan internasional tuh bukan hanya gagasan politik karena berkait dengan Konferensi Asia Afrika ya dengan banyaknya kedutaan begitu ya, tapi juga aspek kebudayaan gitu lho, sebagai bagian dari internasionalisme Indonesia begitu ya,” katanya. Ia menambahkan, “Jadi di sini ada Pusat Perfilman Usmar Ismail kan, jadi bahkan ada Sinematek begitu lho. Usmar Ismail kan tokoh sentral film Indonesia yang hari syuting filmnya jadi Hari Film Nasional kan. Lalu ada Sinematek, satu-satunya yang punya di kawasan Asia Timur, bahkan Jepang belum punya, kita udah punya Sinematek, pusat dokumentasi perfilman nasional itu. Itu yang bikin tokoh film terkenal, Misbach Yusa Biran.”
Selain sejarah politik dan budaya, kawasan tersebut juga memiliki cerita tentang penginapan bersubsidi untuk pelajar dan wisatawan mancanegara pada masa Ali Sadikin. Menurut Rizal, konsep itu menunjukkan bagaimana Jakarta sejak dulu dibayangkan sebagai kota yang terbuka bagi interaksi internasional.
“Kemudian juga di belakang ada hostel yang dibikin Bang Ali. Hostel itu sebenarnya untuk hubungan internasional dalam bentuk turis gitu, turis-turis yang masih pelajar, mahasiswa, begitu tuh mereka bisa nginep dengan subsidi di belakang yang sekarang jadi gedung diklat,” kata dia.
JJ Rizal juga menyoroti peran perempuan dalam penamaan Jalan HR Rasuna Said. Ia menyebut keberadaan Dharma Pertiwi dapat menjadi bagian dari narasi walking tour yang kuat mengenai peran perempuan dalam sejarah Indonesia.
Narasi sejarah kawasan itu juga berkaitan dengan hubungan Indonesia dan Maroko. Menurut Rizal, nama Jalan Casablanca yang muncul pada akhir 1990‑an berkaitan dengan hubungan sister city Jakarta dan Casablanca. Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pertama yang mendukung kemerdekaan Maroko dari penjajahan Prancis setelah Konferensi Asia Afrika.
Di sisi lain, Rizal mengatakan kawasan Kuningan juga masih menyimpan identitas Betawi yang kuat. Jika masuk ke permukiman warga, menurut dia, masih bisa ditemukan jejak kawasan peternakan sapi yang dulu menjadi pemasok susu untuk masyarakat Belanda di Batavia.
“Ini kan dulu kawasan persawahan yang dipakai orang Betawi untuk beternak sapi, karena kalau kita masuk ke dalam-dalam itu kita masih bisa ketemu bagaimana orang Betawi itu yang menjadi peternak sapi. Iya, kalau masuk ke dalam ini akan ketemu mungkin masih ada sisanya ya. Menurut saya yang paling menarik ya, dulu susu itu disuplai untuk seluruh kawasan Jakarta orang-orang Belanda, selain dari Petamburan ya dari sini,” kata dia.
Dia menegaskan bahwa pada masa lalu Kuningan bukanlah kawasan elite seperti saat ini. Pada era Hindia Belanda, wilayah tersebut masih termasuk kawasan luar kota atau Ommelanden yang belum banyak terbangun dan menyimpan banyak mitos.
“Ini kan bukan hanya di sini ya kawasan belum terjamah, kayak di Slipi itu kan baru pada 1960‑an terjamah. Jadi banyak di kawasan Jakarta yang sebenarnya kawasan yang baru dibangun. Ini kan baru dibangun tahun 70‑an. Ini tanah yang bahkan waktu dibangun Sinematek, itu si Misbach Yusa Biran cerita itu, itu kawasan yang sangat sepi. Tapi ramai itu karena yang undang Bang Ali, jadi waktu pembukaan gedung ini ramai karena dia tuh mengisahkan bahwa ini kayak tempat jin buang anak begitu di tahun 70‑an,” ujarnya.
Rizal mengatakan perkembangan Kuningan baru terjadi pada era 1970‑an. Saat itu, pembangunan fasilitas publik seperti Gelanggang Remaja hingga Pasar Festival perlahan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas anak muda Jakarta. Menurut dia, Pasar Festival sempat menjadi salah satu titik nongkrong populer ketika kawasan Blok M mengalami penurunan pamor pada akhir 1990‑an hingga awal 2000‑an.
Dia menilai pemerintah perlu lebih jeli melihat potensi kawasan seperti Kuningan agar tidak sekadar menjadi pusat bisnis modern, tetapi juga ruang publik yang memiliki identitas sejarah dan budaya kuat. “Jadi dan mengurai kemacetan. Jadi orang di tiap daerah dia nggak perlu pergi ke Blok M dari Jakarta Utara atau dari Jakarta Timur gitu. Jadi mereka bisa punya pusat‑pusat sendiri begitu. Dan itu kan yang dibayangkan Bang Ali waktu bikin GOR sebenarnya. Gelanggang Remaja itu, itu pusat aktivitas masyarakat gitu, menghabiskan waktu gitu di akhir pekan,” kata dia.
Dengan semua lapisan sejarah yang tersembunyi di jalanan Kuningan, kawasan ini menawarkan potensi walking tour yang tidak hanya menampilkan gedung-gedung modern, tetapi juga menelusuri jejak Sukarno, kontribusi Ali Sadikin, warisan perfilman, penginapan pelajar, peran perempuan, hubungan internasional dengan Maroko, serta warisan Betawi. Potensi ini menuntut perhatian lebih agar sejarah dan budaya tetap hidup di tengah arus perkembangan kota modern.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Berita Terbaru
Riquelme Tantang Perez: Janji Haaland & Beban Anggota
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
