Lahan 26 Hektare Tugel: Dari Pelatihan Transmigrasi ke TPA

Andi B. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 76 dibaca
Bisik.id
Lahan 26 Hektare Tugel: Dari Pelatihan Transmigrasi ke TPA

Gambar atau konten salah?

kampung mati di kawasan Gunung Tugel, Banyumas, terletak di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Jalan alternatif yang menghubungkan Purwokerto dengan Banyumas menandai tepi lahan ini, di mana hampir tidak ada permukiman.

Ketika traveler menelusur gerbangnya, kesan terbengkalai terasa kuat. Rumput ilalang tinggi menutupi pintu masuk, menambah nuansa kampung mati yang tak terurus.

Lahan ini kini dikelola oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Sebelumnya, lahan tersebut pernah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pendidikan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Unsoed, Waluyo Handoko, menjelaskan sejarahnya. “Awalnya lahan itu milik Kementerian Transmigrasi. Sekitar tahun 80-an dipakai untuk pelatihan calon transmigran yang akan berangkat ke luar Jawa,” ujarnya pada Senin, 09 Maret 2024.

Para calon transmigran dilatih berbagai keterampilan dasar sebelum diberangkatkan ke daerah tujuan. “Mulai dari cara bercocok tanam hingga simulasi kehidupan di permukiman transmigrasi. Di sana dulu ada simulasi rumahnya juga. Jadi calon transmigran dilatih bagaimana bercocok tanam dan seperti apa nanti bentuk kehidupan mereka di lokasi transmigrasi,” jelas Waluyo.

Pelatihan tersebut dilakukan dengan menggandeng akademisi dari Unsoed. Kerja sama berlangsung sekitar tahun 1986 hingga menjelang 1990. “Dari sekitar 1986 sampai sebelum tahun 90-an itu digunakan untuk pelatihan transmigrasi oleh kementerian. Programnya bekerja sama dengan dosen-dosen Unsoed,” tambahnya.

Setelah program transmigrasi tidak lagi berjalan, lahan tersebut diserahkan kepada Unsoed. “Begitu program transmigrasi tidak ada lagi, lahannya kemudian diserahkan ke Unsoed. Sertifikatnya juga atas nama Unsoed,” kata Waluyo.

Seluas sekitar 26 hektare, lahan ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian area hanya ditanami tanaman tertentu, sementara sebagian lainnya digunakan untuk kegiatan terbatas. “Dulu pemanfaatannya belum begitu banyak, hanya untuk tanaman-tanaman yang dilindungi dan sebagian untuk kegiatan bisnis,” jelas Waluyo.

Seiring waktu, luas lahan mengalami perubahan. Sebagian area dipakai untuk pelebaran jalan dan ada sekitar 5 hektare yang dipinjamkan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk tempat pembuangan akhir (TPA). “Totalnya dulu sekitar 26 hektare, tapi karena ada pelebaran jalan sekarang tinggal sekitar 23 hektare,” pungkasnya.

Pengelolaan lahan ini menunjukkan pergeseran fungsi dari program transmigrasi ke kebutuhan infrastruktur dan pengelolaan limbah, sekaligus memperlihatkan potensi yang belum tersentuh di wilayah tersebut.

Kampung MatiGunung TugelTransmigrasiUniversitas Jenderal SoedirmanTPABanyumasKementerian Transmigrasi

Komentar

Memuat komentar...