Mahasiswa 15 Tahun Masuk UM: Prestasi Tanpa Batas Usia
Gambar atau konten salah?
Fatichul Firdaus berusia 15 tahun dan sudah masuk jenjang perkuliahan di Universitas Negeri Malang (UM). Usia ini jauh di bawah rata-rata mahasiswa baru, yang biasanya 17‑18 tahun. Fatichul berhasil masuk melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 dan diterima di Program Studi Sarjana (S1) Pendidikan IPA.
Ia berasal dari Pasuruan, melanjutkan pendidikan di MAN 1 Pasuruan. Meskipun tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, rekam jejak akademiknya menonjol. Ia memulai pendidikan lebih awal dibandingkan teman sebayanya, memanfaatkan Sistem Kredit Semester (SKS) dua tahun di Madrasah Tsanawiyah (MTs) sehingga dapat menyelesaikan jenjang pendidikan lebih cepat.
Keputusan untuk mempercepat belajar tidak berhenti di MTs. Saat menempuh jenjang berikutnya di MAN 1 Pasuruan, Fatichul kembali menyelesaikan studinya lebih cepat dari waktu normal tanpa mengorbankan kualitas akademik. Ia menekankan bahwa disiplin dan konsistensi adalah kunci.
Setiap hari, Fatichul bersepeda ke sekolah. Ia menuturkan keterbatasan yang dihadapinya tidak menjadi hambatan, melainkan dorongan kuat untuk terus berkembang. “Bagi saya, pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki keadaan keluarga,” ujar Fatichul, dikutip dari laman resmi UM.
Menurutnya, dukungan keluarga menjadi faktor penting. Ia mengakui peran orang tua, saudara, hingga nenek yang selalu memberikan doa dan motivasi. Semua dukungan itu menjadi penguat dalam setiap langkahnya menuntut ilmu.
Pihak UM menyoroti bahwa kisah Fatichul menunjukkan bahwa usia bukanlah batas untuk meraih prestasi akademik. Semangatnya mencerminkan generasi muda yang adaptif, berdaya juang, dan berorientasi pada masa depan.
UM menegaskan, “Capaian ini dinilai sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas (Quality Education) yang inklusif dan berkeadilan,” tulis UM dalam laman resminya.
Universitas berharap kehadiran mahasiswa seperti Fatichul bisa memotivasi calon mahasiswa lain untuk terus berjuang meraih pendidikan terbaik. Kisahnya menegaskan bahwa pendidikan dapat menjadi alat perubahan bagi generasi muda, bahkan bagi yang berusia muda dan berasal dari latar belakang ekonomi sederhana.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
DKI Alokasikan Rp253,6 Miliar untuk 103 Sekolah Swasta
BRIN Buka Program DBR Mahasiswa Riset Semikonduktor
Alumni ITB 2018: Waktu Tunggu Kerja dan Wirausaha Singkat
Ekshibisi AI Kembali Jadi Cabang OSN 2026, Siap Menguji Siswa
Puspresnas Ungkap Foto Soal OSN 2026, Ponsel Diizinkan
Berita Terbaru
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Wuling Eksion: SUV Plug‑In Hybrid dengan Empat Mode Energi
Indonesia vs Timor Leste: Duel AFF U-19 2026 Live Streaming
Fadia/Tiwi Raih Kemenangan di Perempatfinal Indonesia Open
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
