Mahasiswa Inggris Selektif: Biaya Tinggi, Pinjaman Membebani

Jaka M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Mahasiswa Inggris Selektif: Biaya Tinggi, Pinjaman Membebani

Gambar atau konten salah?

Banyak orang bermimpi belajar di luar negeri, namun kenyataan bagi mahasiswa kini berubah. Biaya hidup di Inggris terus naik, membuat pilihan tempat belajar menjadi lebih kompleks.

Unite Group, penyedia akomodasi mahasiswa, mengungkapkan bahwa mahasiswa di Inggris kini lebih selektif. Mereka tidak hanya melihat reputasi atau lokasi kampus, tapi juga biaya, kualitas pendidikan, dan prospek karier.

Menurut laporan Unite, kampus bergengsi di Inggris mengalami kenaikan biaya seiring meningkatnya pendaftar, sementara kampus yang lebih murah justru mengalami penurunan. Selain itu, laporan menemukan peningkatan jumlah mahasiswa yang memilih tinggal di rumah orang tua untuk mengurangi biaya. Hal ini berlaku bagi mahasiswa di kampus mahal maupun yang lebih murah.

“Mahasiswa kini semakin selektif saat memilih tempat belajar, dengan perhatian besar pada prospek lulusan dan potensi penghasilan agar mereka mendapatkan nilai yang sepadan dengan biaya kuliah,” demikian pernyataan Unite, dikutip dari The Independent.

Biaya hidup di Inggris berbeda-beda tergantung kota, universitas, dan jenjang pendidikan. Secara umum, biaya hidup bisa mencapai £9.790 atau sekitar Rp 226 juta per tahun (Kurs £1 = Rp 23.180).

Berikut rincian biaya hidup per tahun:

Biaya sewa rata-rata mahasiswa: Sekitar Rp 3,2 juta per minggu atau Rp 13 juta per bulan. Sewa di London: Rp 5,8 juta per minggu atau Rp 23 juta per bulan. Rata-rata biaya makan: Rp 1,15 per minggu (bisa lebih rendah jika di asrama). Tagihan air, gas, listrik: Rp 1,96 juta per bulan. Kuota HP: Rp 231 ribu–Rp 1,3 juta. Rata-rata biaya buku dan perlengkapan universitas: Rp 1,85 juta per bulan. Transportasi bus (kartu pelajar): Rp 1 juta per bulan, terutama di kota besar seperti London.

Sebagian besar biaya sewa sudah termasuk tagihan, namun banyak mahasiswa harus membayar tagihan lain di luar biaya sewa. Pada akhir masa studi sarjana tiga tahun, perkiraan total biaya akomodasi tertinggi bisa mencapai £19.000 atau Rp 440 juta.

Meski begitu, mahasiswa biasanya tinggal di akomodasi universitas selama tahun pertama lalu pindah ke tempat pribadi pada tahun kedua dan ketiga. Biaya akomodasi universitas bervariasi tergantung lokasi dan jenis akomodasi.

Untuk menambal biaya hidup selama kuliah, banyak mahasiswa di Inggris bergantung pada sistem pinjaman mahasiswa, yang dikenal sebagai 'student loan'. Namun sistem ini juga mendapat sorotan.

Martin Lewis, pembela konsumen, baru-baru ini menyebut sistem pinjaman mahasiswa sebagai “mimpi buruk” dan “kekacauan”. Ia mengkritik Plan 2, di mana ambang batas gaji untuk pembayaran kembali dibekukan selama tiga tahun setelah anggaran musim gugur, yang berpotensi meningkatkan pembayaran bagi sebagian lulusan.

Mahasiswa akan memiliki bunga yang harus dibayar tinggi, meski setelah lulus bisa mendapatkan gaji tinggi. Artinya, lulusan hanya memiliki sisa uang yang sedikit untuk kebutuhan sehari-hari ketika biaya hidup tinggi dan harus menutup pinjaman.

Penulis adalah peserta magang Hub Kemnaker.

Mahasiswa di Inggris kini harus menyeimbangkan antara biaya hidup, pinjaman, dan harapan karier. Dengan biaya tinggi dan pinjaman yang menuntut pembayaran, banyak yang memilih tinggal di rumah orang tua atau mencari akomodasi lebih murah. Sementara biaya kuliah tetap menjadi beban utama, sistem pinjaman yang kontroversial menambah tekanan pada mahasiswa. Perlu ada solusi yang lebih terjangkau agar pendidikan tinggi tidak menjadi beban berat bagi generasi muda.

Biaya hidup InggrisAkomodasi mahasiswaPinjaman mahasiswaProspek karierBiaya kuliahLondonPlan 2Generasi muda

Komentar

Memuat komentar...