Mahasiswa Udayana Temukan Spesies Serangga Tongkat di Sumba
Gambar atau konten salah?
Di tengah hutan tropis Pulau Sumba, seorang mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana, Davis Marthin Damaledo, menemukan serangga tongkat yang tak pernah terdaftar sebelumnya. Serangga ini menonjol dengan warna biru kehijauan yang unik, berbeda dari serangga tongkat biasa.
Davis, yang belum pernah terlibat dalam penelitian profesional, memulai pencariannya setelah menerima sebuah foto dari paman di Sumba. Foto tersebut menampilkan serangga yang tampak seperti tongkat biasa, namun dengan warna yang tidak biasa. Tertarik, Davis memutuskan untuk mengunjungi Pulau Sumba sendiri.
Perjalanan Davis melintasi Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Timur. Ia menelusuri kebun rumah yang tidak memiliki hutan, mencari spesimen serangga tongkat. Di sebuah kebun, ia menemukan satu spesimen yang tumbuh di pohon jambu. Tidak hanya itu, Davis juga mengumpulkan telur-telurnya. Telur tersebut ia tetaskan, sementara sebagian dikirim ke mentor, Garda Bagus Damastra, dan juga ke seorang peneliti internasional, Frank H. Hennemann.
“Spesimen kedua saya dapatkan di kebun teman paman saya yang uniknya tidak ada hutan. Saya kumpulkan telurnya, yang sebagian saya tetaskan dan sebagian lagi saya kirim ke Mas Garda,” ujar Davis, dikutip dari laman Universitas Udayana pada 26 Maret 2026.
Awalnya, Davis mengira bentuk serangga tersebut mirip dengan spesies yang sudah ada. Namun, setelah melakukan perbandingan ilmiah mendalam selama dua tahun, ia menemukan perbedaan signifikan. Analisis tersebut menghasilkan publikasi resmi, menegaskan bahwa serangga tersebut adalah spesies baru.
Serangga ini diberi nama Nesiophasma davisdamaledoi, menghormati penemu. Ukurannya mencapai 13-18 cm, dan tubuhnya menyerupai ranting, membantu ia berkamuflase di antara cabang pohon. Perbedaan utama dengan spesies lain terletak pada bercak hitam di bagian pipi dan tidak adanya garis merah pada toraks. Jantan biasanya berwarna hijau kebiruan, sementara warna umum pada serangga tongkat ini adalah cokelat.
Habitatnya terbatas pada kebun di area Sumba Timur. Serangga ini memakan daun jambu biji. Dalam reproduksi, Nesiophasma davisdamaledoi dapat berkembang biak secara seksual maupun partenogenesis. Masa penetapan telur berlangsung sekitar empat bulan.
Hasil penemuan ini dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Zootaxa. Spesimen utama, atau holotipe, telah didaftarkan dan disimpan di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, SP, M Si, PhD, menyatakan bangga dengan pencapaian mahasiswa tersebut. Ia menekankan bahwa mahasiswa juga memiliki potensi besar untuk melakukan pengamatan mendalam.
“Nama Davis kini akan terukir dalam dunia ilmiah. Ini menjadi kebanggaan bagi fakultas sekaligus motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya,” ujarnya.
Davis berharap masih banyak spesies baru yang belum terdeskripsikan di Indonesia. Ia mengajak mahasiswa untuk semangat berinovasi dan melakukan penemuan lainnya. “Masih sangat banyak potensi spesies baru di Indonesia yang belum dideskripsikan. Saya berharap semakin banyak yang peduli, karena serangga juga punya peran penting dalam ekosistem,” pungkasnya.
Penemuan ini menegaskan bahwa eksplorasi lokal dapat menghasilkan kontribusi signifikan bagi ilmu pengetahuan. Dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar, mahasiswa dapat menemukan spesies yang belum pernah terdaftar, memperkaya pemahaman tentang biodiversitas Indonesia. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara peneliti lokal dan internasional dalam memvalidasi dan mendokumentasikan spesies baru.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kucing Terapi Pinecone Jadi Asisten Guru Seni Rhode Island
122 Program Studi Tutup Akhir 2026, Menteri Jelaskan Alasan
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
Helm Cerdas ITB Tuntun Pendeteksi Kelelahan Motor
