Mahasiswa Undip Raih Gelar Emas dengan Kecoa Pencari Korban
Gambar atau konten salah?
Di Jakarta, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) mengubah citra negatif kecoa menjadi alat pencari korban bencana. Tim Rotect, yang dipimpin oleh Muhammad Faizul Kirom, menciptakan sistem biohybrid bernama ROACH-DETECT yang menempatkan kecoa Madagaskar dalam peran pencari. Inovasi ini menonjol di panggung internasional dan berhasil meraih Gold Medal Asia Youth Innovation Awards pada Malaysia Technology Expo (MTE) 2026 di Kuala Lumpur.
Kecoa Madagaskar, atau Gromphadorhina portentosa, memiliki tubuh kecil dan kemampuan menembus celah sempit. Berbeda dengan anjing pelacak yang terbatas pada ruang terbuka, roach ini dapat masuk ke reruntuhan yang sangat sempit. Kecoa tersebut dilengkapi dengan backpack elektronik berbasis mikrokontroler yang berfungsi sebagai pusat kendali dan pemrosesan data.
Sistem bekerja dengan memberi stimulus listrik agar roach diarahkan oleh petugas. Di dalamnya terdapat sensor yang sudah diprogram untuk mendeteksi pola suhu tubuh manusia. Data yang terdeteksi dikirim secara real‑time melalui situs pengawas yang dapat diakses langsung oleh tim SAR di lapangan menggunakan teknologi edge computing.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Malaysian Association of Research Scientists (MARS) menampung ratusan peserta dari berbagai negara. Tim Rotect berhasil unggul berkat pendekatan inovatif yang jarang terpikirkan sebelumnya. Pencapaian ini menandai bahwa mahasiswa Indonesia dapat bersaing di panggung global.
Acara berlangsung pada 09 April 2026 – 10 April 2026 di Kuala Lumpur.
“Tim kami mengembangkan pendekatan biohybrid. Kalau anjing pelacak kan tidak bisa menelusuri area kecil, akhirnya kami ada solusi pakai hewan yang jauh lebih kecil lagi untuk menelusuri korban di reruntuhan,” jelas Muhammad Faizul Kirom.
“Tentunya kami sangat senang dan bersyukur bisa meraih Gold Award di MTE. Apalagi melihat kompetisinya yang cukup ketat dengan peserta dari berbagai negara,” ungkapnya.
Setelah kemenangan, Tim Rotect berharap ROACH-DETECT dapat terus disempurnakan hingga benar-benar diimplementasikan di lapangan. Rencana mereka meliputi pengembangan perangkat keras yang lebih ringan, peningkatan akurasi sensor, dan pelatihan petugas untuk mengoperasikan sistem. Mereka juga berencana untuk melakukan uji coba di lokasi bencana nyata.
Inovasi ini menunjukkan potensi penggunaan hewan kecil dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Dengan kemampuan menembus ruang sempit dan teknologi sensor canggih, roach menjadi alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi pencarian korban di reruntuhan.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa teknologi berbasis hewan dapat menjadi solusi alternatif bagi tim SAR, terutama di daerah yang sulit dijangkau.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Helm Cerdas ITB Tuntun Pendeteksi Kelelahan Motor
Nadiem Anwar Makarim Tolak Tuduhan Korupsi Chromebook
Nadiem Anwar Makariem Bela Korupsi Chromebook di Pengadilan
Strip Tes Minyak Babi: Alat Praktis Deteksi Halal Rutin
Nadiem Anwar Makarim Bebas Tuntutan Pengadaan Chromebook
Alumni Teknik ITB 2025: Penghasilan Rp 10 Miliar Tertinggi
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
