Malam 1 Suro: Pertemuan Budaya Jawa dan Tahun Baru Islam

Sigit W. · 6 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
Malam 1 Suro: Pertemuan Budaya Jawa dan Tahun Baru Islam

Gambar atau konten salah?

1 Suro dan 1 Muharram sering dipertanyakan hubungannya. Di kalangan masyarakat Jawa, 1 Suro adalah hari pertama tahun baru Jawa, lengkap dengan tirakatan, kirab pusaka, dan pantangan turun‑turun. Namun bagi umat Islam, malam 1 Suro sebenarnya bersamaan dengan 1 Muharram, yaitu awal tahun Hijriah. Karena itu, malam tersebut memiliki makna spiritual yang berbeda dari sekadar tradisi budaya.

Kalender Jawa dan kalender Hijriah saling berhubungan. Ketika 1 Suro jatuh, biasanya 1 Muharram juga muncul. Hal ini membuat malam tersebut menjadi titik pertemuan antara budaya Jawa dan praktik keagamaan Islam. Meski begitu, Islam tidak menetapkan ritual wajib pada malam 1 Muharram. Yang dianjurkan adalah memperbanyak ibadah dan amal saleh sebagai ungkapan syukur atas tahun baru Hijriah.

Menjelaskan mengapa Muharram menjadi bulan istimewa, perlu dimulai dengan posisi bulan tersebut dalam Islam. Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia yang disebut dalam Al‑Qur’an. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Sebagai pintu pembuka tahun Hijriah, Muharram sering dijadikan momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal ibadah, dan menyiapkan niat menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan dijalankan saat malam 1 Suro:

Membaca Doa Akhir Tahun

Doa akhir tahun merupakan amalan populer menjelang pergantian tahun Hijriah. Menurut buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, doa ini dibaca pada akhir bulan Dzulhijjah sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Makna utama doa akhir tahun bukan sekadar membaca rangkaian kalimat, melainkan mengakui kekurangan diri dan memohon ampunan atas dosa‑dosa yang pernah dilakukan.

Berikut bacaan doa akhir tahun, dikutip dari buku Doa & Zikir Sepanjang Tahun oleh H Hamdan Hamedan MA:

اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتَبْ مِنْهُ وَحَلَمْتَ فِيهَا عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِكَ وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَانَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْتَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيمُ

اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتَبْ مِنْهُ وَحَلَمْتَ فِيهَا عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِكَ وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَانَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْتَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيمُ

Allāhumma mā 'amiltu min 'amalin fī hādhihis-sanati mā nahaytanī 'anhu wa lam atub minhu wa ḥalamta fīhā 'alayya bifaḍlika ba'da qudratika 'alā 'uqūbatī wa da'awtani ilā at-tawbati min ba'di jur'ātī 'alā ma'ṣīatika fa innī astaghfirtuka faghfir lī wa mā 'amiltu fīhā mimā tarḍā wa wa'adtanī 'alayhi ath-thawāba fa as'aluka an tataqabbala minnī wa lā taqṭa' rajā'ī minka yā karīm.

Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang‑sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan‑Mu sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai‑Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala‑Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Membaca Doa Awal Tahun

Setelah memasuki malam 1 Muharram atau 1 Suro, banyak umat Islam yang membaca doa awal tahun. Doa ini berisi permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai godaan setan serta harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan. Doa awal tahun biasanya dibaca setelah Maghrib sebagai simbol dimulainya lembaran kehidupan yang baru.

Berikut bacaan doanya, dikutip dari buku Doa & Zikir Sepanjang Tahun oleh H Hamdan Hamedan MA:

اللَّهُمَّ أَنتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيمِ وَكَرِيمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ. وَهَذَا عَامُ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَارَةِ بِالسُّوْءِ وَالاسْتِغَالَ بِمَا يُقَرِينِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

اللَّهُمَّ أَنتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيمِ وَكَرِيمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ. وَهَذَا عَامُ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَارَةِ بِالسُّوْءِ وَالاسْتِغَالَ بِمَا يُقَرِينِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Allaahumma antal abadiyyul qadiimul awwal. Wa 'alaa fadhlikal 'azhiimi wa kariimi juudikal mu'awwal. Wa haadza 'aamun jadiidun qad aqbala. As-alukal 'ishmata fiihi minas- syaithaani wa auliyaa-ih, wal 'auna 'alaa haadzihin nafsil ammaarati bis-suu-i, wal isytighaala bimaa yuqarribunii ilaika zulfaa yaa dzal jalaali wal ikraam.

Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia‑Mu yang besar dan kemurahan‑Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada‑Mu dari bujukan iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan‑Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada‑Mu aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat‑Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

Memperbanyak Membaca Al‑Qur’an

Amalan berikutnya yang sangat dianjurkan adalah membaca Al‑Qur’an. Tidak ada dalil khusus yang mewajibkan bacaan tertentu pada malam 1 Muharram. Namun, membaca Al‑Qur’an tetap menjadi salah satu ibadah terbaik yang dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat memasuki tahun baru Hijriah. Selain mendatangkan pahala, membaca Al‑Qur’an juga menjadi sarana untuk menenangkan hati dan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Berzikir

Berzikir menjadi amalan sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Tasbih, tahmid, takbir, tahlil, maupun istighfar merupakan bentuk zikir yang dianjurkan untuk memperbanyak ingatan kepada Allah SWT. Di tengah suasana malam 1 Suro yang identik dengan refleksi diri, zikir dapat membantu menumbuhkan ketenangan batin sekaligus memperkuat kesadaran spiritual.

Melaksanakan Sholat Sunnah

Malam 1 Muharram juga bisa diisi dengan berbagai ibadah sunnah. Beberapa ibadah yang umum dilakukan umat Islam antara lain sholat tahajud, sholat hajat, sholat taubat, dan berbagai sholat sunnah lainnya yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang perlu dipahami, sebagian amalan sholat dengan jumlah rakaat atau bacaan tertentu yang sering beredar di masyarakat perlu diteliti kembali dasar hadisnya. Karena itu, umat Islam dianjurkan merujuk kepada ulama dan sumber terpercaya ketika ingin mengamalkan ibadah tertentu.

Memperbanyak Istighfar dan Bertaubat

Pergantian tahun sering menjadi momen evaluasi diri. Karena itu, memperbanyak istighfar dan taubat menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang banyak beristighfar meskipun beliau merupakan manusia yang dijaga dari dosa. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

“Demi Allah, sungguh aku selalu beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari.”

Hadis ini menunjukkan pentingnya taubat sebagai amalan harian, termasuk saat memasuki tahun baru Hijriah.

Melakukan Muhasabah atau Evaluasi Diri

Muhasabah menjadi salah satu amalan yang paling relevan dilakukan saat malam 1 Suro. Muhasabah berarti melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup, amal ibadah, hubungan dengan sesama manusia, hingga target perbaikan diri pada masa mendatang. Pergantian tahun bukan hanya soal bertambahnya angka dalam kalender, tetapi juga kesempatan untuk melihat sejauh mana seseorang berkembang secara spiritual dan moral. Karena itu, banyak ulama memandang muhasabah sebagai salah satu amalan yang paling bermakna saat memasuki tahun baru Islam.

Makna Sebenarnya Malam 1 Suro dalam Islam

Jika ditarik benang merahnya, Islam tidak mengajarkan malam 1 Suro sebagai malam yang harus ditakuti. Sebaliknya, datangnya 1 Muharram menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan setiap manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, fokus utama umat Islam bukan pada mitos atau pantangan tertentu, melainkan pada peningkatan kualitas ibadah dan hubungan dengan Allah SWT. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk menata kembali niat, memperbanyak amal saleh, serta memohon keberkahan untuk perjalanan hidup di tahun yang baru.

Malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Berbagai amalan seperti membaca doa akhir dan awal tahun, memperbanyak Al‑Qur’an, berzikir, melaksanakan sholat sunnah, bertaubat, hingga melakukan muhasabah dapat menjadi cara mengisi pergantian tahun dengan kegiatan yang lebih bermakna. Di tengah beragam tradisi yang berkembang di masyarakat, esensi utama malam 1 Suro dalam Islam tetaplah sama, yaitu menjadikannya sebagai momentum refleksi, perbaikan diri, dan awal yang lebih baik untuk menjalani tahun yang baru.

Dengan demikian, malam 1 Suro tidak sekadar perayaan budaya, melainkan juga ajakan untuk introspeksi dan peningkatan diri dalam kerangka spiritual Islam.

1 Suro1 Muharramkalender Jawadoa akhir tahunamalan sholat sunnahmuhasabahtahun baru Hijriah

Komentar

Memuat komentar...