Menteri Pendidikan: Perempuan Cerdas, Tidak Second Gender

Dewi M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
Menteri Pendidikan: Perempuan Cerdas, Tidak Second Gender

Gambar atau konten salah?

01 April 2026Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyoroti stigma negatif terhadap perempuan yang masih beredar di masyarakat. Ia menegaskan bahwa perempuan tidak boleh dianggap sebagai “second gender” dan menolak pandangan bahwa perempuan kalah dalam hal kecerdasan.

Acara peluncuran Bulan Pemberdayaan Perempuan disiarkan langsung melalui YouTube Kemendikdasmen pada hari Rabu. Di sana, Mu'ti mengajak publik untuk menghapus stereotip yang menurunkan perempuan.

“Memang tidak mudah karena masih ada kendala‑kendala yang kita temukan di lapangan sebagian berkaitan dengan kendala teologis. Misalnya masih ada yang berpendapat bahwa perempuan itu adalah makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk laki‑laki, saya agak mengkritisi ini,” kata Mu'ti.

Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki hak penuh atas pendidikan dan kepintarannya tidak kalah dengan laki‑laki. “Masih ada mitos‑misis sebagian psikologis yang mengatakan bahwa perempuan itu kecerdasannya separuh laki‑laki,” ungkapnya.

Sebagai praktisi pendidikan, Mu'ti telah mempelajari banyak literatur tentang kecerdasan perempuan. Ia menemukan bahwa perempuan memiliki kekuatan memori yang kuat. “Saya agak membaca banyak literatur tentang bidang ini ternyata perempuan itu memiliki banyak kelebihan terutama dari sisi kekuatan memori. Kekuatan memori perempuan itu jauh lebih kuat daripada laki‑laki,” bebernya.

Ia menjelaskan bahwa perempuan biasanya lebih kuat dalam mengingat detail, sementara laki‑laki lebih cenderung mengingat hal umum. “Makanya kalau laki‑laki sering lupa dengan yang diucapkan Itu memang ada dasar psikologisnya. Kalau laki‑laki itu ingkar janji, bukan ingkar janji sebenarnya. Tapi lupa yang disampaikan perempuan,” gurau Mu'ti.

Mu'ti menyebut contoh konkret, seperti pemain catur perempuan yang mampu mengalahkan lawan laki‑laki. “Bahkan banyak perempuan yang juara catur yang bisa mengalahkan laki‑laki,” katanya.

Ia juga menyoroti kemampuan perempuan dalam matematika. “Nah ini yang menurut saya demistifikasi (penjelasan) ini perlu kita lakukan, karena sesungguhnya perempuan punya kemampuan yang bagus. Ada yang bilang matematika itu bidangnya laki‑laki. Saya punya buku judulnya Mathematics and Gender. Jadi kalau ada (yang bilang), ‘Perempuan kok tidak pandai matematika. Ya memang begitu kodratnya,’ dalam tanda petik. Faktanya tidak, banyak perempuan yang punya kemampuan matematika yang luar biasa,” ujarnya.

Lewat pelaksanaan Bulan Pemberdayaan Perempuan pada April 2026, Mu'ti yakin akan muncul talenta‑talenta perempuan luar biasa. Kemendikdasmen akan memfasilitasi perempuan yang ingin berdaya lewat berbagai lomba hingga pelatihan bahasa.

Dengan menolak stereotip dan menyoroti bukti nyata tentang kecerdasan perempuan, langkah ini menandai upaya konkret untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan dan bidang-bidang yang selama ini dianggap dominasi laki‑laki.

Pemberdayaan PerempuanKecerdasan PerempuanStigma NegatifKekuatan MemoriMatematikaCaturKemendikdasmen

Komentar

Memuat komentar...