Menteri Pendidikan: Perempuan Cerdas, Tidak Second Gender
Gambar atau konten salah?
01 April 2026 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyoroti stigma negatif terhadap perempuan yang masih beredar di masyarakat. Ia menegaskan bahwa perempuan tidak boleh dianggap sebagai “second gender” dan menolak pandangan bahwa perempuan kalah dalam hal kecerdasan.
Acara peluncuran Bulan Pemberdayaan Perempuan disiarkan langsung melalui YouTube Kemendikdasmen pada hari Rabu. Di sana, Mu'ti mengajak publik untuk menghapus stereotip yang menurunkan perempuan.
“Memang tidak mudah karena masih ada kendala‑kendala yang kita temukan di lapangan sebagian berkaitan dengan kendala teologis. Misalnya masih ada yang berpendapat bahwa perempuan itu adalah makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk laki‑laki, saya agak mengkritisi ini,” kata Mu'ti.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki hak penuh atas pendidikan dan kepintarannya tidak kalah dengan laki‑laki. “Masih ada mitos‑misis sebagian psikologis yang mengatakan bahwa perempuan itu kecerdasannya separuh laki‑laki,” ungkapnya.
Sebagai praktisi pendidikan, Mu'ti telah mempelajari banyak literatur tentang kecerdasan perempuan. Ia menemukan bahwa perempuan memiliki kekuatan memori yang kuat. “Saya agak membaca banyak literatur tentang bidang ini ternyata perempuan itu memiliki banyak kelebihan terutama dari sisi kekuatan memori. Kekuatan memori perempuan itu jauh lebih kuat daripada laki‑laki,” bebernya.
Ia menjelaskan bahwa perempuan biasanya lebih kuat dalam mengingat detail, sementara laki‑laki lebih cenderung mengingat hal umum. “Makanya kalau laki‑laki sering lupa dengan yang diucapkan Itu memang ada dasar psikologisnya. Kalau laki‑laki itu ingkar janji, bukan ingkar janji sebenarnya. Tapi lupa yang disampaikan perempuan,” gurau Mu'ti.
Mu'ti menyebut contoh konkret, seperti pemain catur perempuan yang mampu mengalahkan lawan laki‑laki. “Bahkan banyak perempuan yang juara catur yang bisa mengalahkan laki‑laki,” katanya.
Ia juga menyoroti kemampuan perempuan dalam matematika. “Nah ini yang menurut saya demistifikasi (penjelasan) ini perlu kita lakukan, karena sesungguhnya perempuan punya kemampuan yang bagus. Ada yang bilang matematika itu bidangnya laki‑laki. Saya punya buku judulnya Mathematics and Gender. Jadi kalau ada (yang bilang), ‘Perempuan kok tidak pandai matematika. Ya memang begitu kodratnya,’ dalam tanda petik. Faktanya tidak, banyak perempuan yang punya kemampuan matematika yang luar biasa,” ujarnya.
Lewat pelaksanaan Bulan Pemberdayaan Perempuan pada April 2026, Mu'ti yakin akan muncul talenta‑talenta perempuan luar biasa. Kemendikdasmen akan memfasilitasi perempuan yang ingin berdaya lewat berbagai lomba hingga pelatihan bahasa.
Dengan menolak stereotip dan menyoroti bukti nyata tentang kecerdasan perempuan, langkah ini menandai upaya konkret untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan dan bidang-bidang yang selama ini dianggap dominasi laki‑laki.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
DKI Alokasikan Rp253,6 Miliar untuk 103 Sekolah Swasta
BRIN Buka Program DBR Mahasiswa Riset Semikonduktor
Alumni ITB 2018: Waktu Tunggu Kerja dan Wirausaha Singkat
Ekshibisi AI Kembali Jadi Cabang OSN 2026, Siap Menguji Siswa
Puspresnas Ungkap Foto Soal OSN 2026, Ponsel Diizinkan
Berita Terbaru
PT PP & Kemen Pekerjaan Umum Selesaikan 69 SPPG dalam 37 Hari
Gubernur Bengkulu Minta BPKAD Cepat Pencairan Gaji ke-13 ASN
USU Buka Proses Banding UKT, Mahasiswa Bisa Perbaiki Tarif
PLN Junivaganza: Voucher Rp10.000 untuk Token Listrik
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
Mengajar di Ponpes Cipasung: Santri Kuasai Konten Digital
Indonesia 108 GW, 85% Fosil, 15% Terbarukan, Target Tercapai
IHSG Tutup 5.839,78, Garuda Naik Setelah Jatuh Pasar
