Menteri Perdagangan Bahas Maksimalkan IUAE-CEPA

Rudi H. · 3 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Menteri Perdagangan Bahas Maksimalkan IUAE-CEPA

Gambar atau konten salah?

Menteri Perdagangan Budi Santoso bertemu dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Thani bin Ahmed Al Zeyoudi, pada Jumat, 08 Agustus 2026. Pertemuan bilateral ini berlangsung di Jaipur, India. Keduanya membahas cara memaksimalkan perjanjian dagang yang sudah berjalan, yaitu Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA).

Perjanjian ini sudah berusia tiga tahun. Berlaku sejak 01 September 2023. Menurut Budi Santoso, perjanjian ini sudah membantu meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara. Tapi ia juga bilang masih ada celah yang bisa diisi. Baik di bidang perdagangan, investasi, maupun kerja sama lainnya.

Data menunjukkan, pada periode Januari hingga Juni 2026, total perdagangan Indonesia dan UEA mencapai US$ 3,14 miliar. Rinciannya, ekspor Indonesia ke UEA sebesar US$ 1,76 miliar. Sementara impor Indonesia dari UEA mencapai US$ 1,38 miliar. Angka ini belum termasuk periode penuh tahun 2026.

Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025, total perdagangan kedua negara tercatat US$ 6,42 miliar. Ekspor Indonesia ke UEA saat itu mencapai US$ 4,02 miliar. Impor Indonesia dari UEA sebesar US$ 2,39 miliar. Artinya, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 1,63 miliar terhadap UEA pada 2025.

Apa saja yang diekspor Indonesia ke UEA? Produk utamanya adalah perhiasan, lemak dan minyak hewani atau nabati, kendaraan dan suku cadangnya, mesin dan peralatan listrik, serta besi dan baja. Sebaliknya, Indonesia mengimpor dari UEA barang-barang seperti perhiasan, garam, belerang, kapur, aluminium, senjata dan amunisi, serta plastik dan barang dari plastik.

Budi Santoso menegaskan perjanjian IUAE-CEPA menjadi pendorong utama. "Perjanjian IUAE-CEPA menjadi katalis yang mendorong peningkatan kerja sama perdagangan dan ekonomi kita ke tingkat yang lebih maju. Saya meyakini masih terdapat ruang yang sangat besar untuk semakin meningkatkan perdagangan, investasi, dan kerja sama ekonomi melalui pemanfaatan IUAE-CEPA secara optimal," ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Minggu, 09 Agustus 2026.

Untuk mendukung implementasi perjanjian ini, Indonesia dan UEA sudah menggelar Joint Committee Meeting (JCM) pertama. Pertemuan ini berlangsung pada 15 hingga 17 Oktober 2024. Selain JCM, ada juga pertemuan Committee on Trade in Goods, Islamic Economy Committee, dan Economic Cooperation Committee.

Dari forum-forum itu, lahir sejumlah langkah tindak lanjut. Beberapa bidang yang disepakati antara lain perdagangan barang, ekonomi Islam, dan kerja sama ekonomi. Budi Santoso berharap JCM berikutnya bisa berjalan lancar.

"Saya berharap Joint Committee Meeting kedua tahun ini dapat menjadi momentum untuk menyelesaikan seluruh isu implementasi yang masih tersisa dengan cepat. Saya percaya Indonesia dan UEA memiliki komitmen yang sama untuk memaksimalkan manfaat IUAE-CEPA. Dengan meningkatnya pemanfaatan perjanjian, maka partisipasi dunia usaha akan semakin luas serta hubungan dagang dan investasi kedua negara akan semakin kuat," jelas Budi Santoso.

Dalam pertemuan bilateral itu, kedua menteri juga membahas beberapa isu teknis. Misalnya, ketentuan skema Tariff Rate Quota (TRQ). Juga mekanisme transshipment. Serta perkembangan kasus antidumping produk kopolimer asal UEA.

"Indonesia berkomitmen menjaga implementasi IUAE-CEPA tetap transparan, akuntabel, dan sejalan dengan ketentuan perjanjian maupun prinsip Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Indonesia juga terbuka untuk terus berdialog dalam menyelesaikan berbagai isu implementasi yang dihadapi pelaku usaha kedua negara," tambah Budi Santoso.

Dari sisi UEA, Menteri Thani bin Ahmed Al Zeyoudi punya rencana. Ia akan membawa delegasi bisnis UEA ke Indonesia dalam waktu dekat. Ia berharap kunjungan ini bisa mempertemukan langsung pelaku usaha dari kedua negara. Tujuannya, mencari peluang kerja sama dan perdagangan yang bisa dikembangkan lebih optimal lewat IUAE-CEPA.

"Kami berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan IUAE-CEPA secara lebih optimal. Untuk itu, kami berencana membawa delegasi bisnis UEA ke Indonesia dan bertemu dengan pelaku usaha Indonesia. Kami harap, upaya ini dapat mengidentifikasi berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan melalui perjanjian ini," ujar Menteri Thani.

Perjanjian IUAE-CEPA memang sudah berjalan tiga tahun. Namun angka perdagangan menunjukkan masih ada potensi yang belum tergarap. Surplus perdagangan Indonesia terhadap UEA pada 2025 menunjukkan posisi Indonesia cukup kuat. Tapi masih ada isu teknis seperti TRQ dan antidumping yang perlu diselesaikan. Kunjungan delegasi bisnis UEA ke Indonesia bisa menjadi langkah konkret untuk memperluas kerja sama. Semua pihak tampaknya sepakat bahwa perjanjian ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

IUAE-CEPAperdaganganIndonesiaUni Emirat Arabeksporimporsurplus

Komentar

Memuat komentar...