Mikroba Tahan Ribuan Tahun di Mumi Otzi: Penemuan Baru

Nita W. · 3 min baca · 8 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Mikroba Tahan Ribuan Tahun di Mumi Otzi: Penemuan Baru

Gambar atau konten salah?

Mumi prasejarah Otzi, yang juga dikenal sebagai Manusia Es, telah mengungkap fakta baru bagi dunia sains. Meskipun telah meninggal sekitar 5.300 tahun lalu, jasadnya yang terawetkan sangat baik ternyata menjadi habitat bagi beragam mikroorganisme, termasuk sejumlah mikroba yang masih mampu bertahan hidup hingga kini.

Para ilmuwan melakukan analisis DNA terhadap mikroorganisme yang ditemukan di dalam maupun di permukaan tubuh Otzi. Dari hasil tersebut, mereka menemukan beberapa jenis jamur yang diduga berasal dari lingkungan pegunungan bersuhu dingin tempat ia menghembuskan napas terakhir. Jamur-jamur tersebut diyakini ikut membeku bersama jasad Otzi dan bertahan berkat kemampuan alaminya menghadapi suhu ekstrem.

Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian mikroba tidak hanya berada dalam kondisi tidak aktif selama ribuan tahun. Peneliti menduga sejumlah mikroorganisme masih dapat berkembang secara perlahan pada area‑area kecil yang memiliki kelembapan di tubuh mumi. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas mikroba pada jasad kuno mungkin berlangsung lebih lama daripada yang selama ini diperkirakan.

Para peneliti juga menduga Otzi meninggal sendirian di kawasan Pegunungan Alpen Ötztal. Namun, secara biologis ia tidak benar-benar seorang diri. Saat masih hidup, tubuhnya dihuni triliunan mikroba yang kemudian tetap berada di jasadnya setelah kematian. Sebagian di antaranya bahkan berasal dari lingkungan tempat ia ditemukan.

Menurut Frank Maixner, penulis senior penelitian sekaligus kepala Institute for Mummy Studies di Eurac Research, Italia, mikroorganisme yang ditemukan pada tubuh Otzi memberikan gambaran berharga mengenai kondisi mikrobioma manusia pada Zaman Tembaga, jauh sebelum perubahan besar yang dipicu industrialisasi.

Maixner menjelaskan bahwa timnya berhasil mengidentifikasi bakteri usus kuno yang terawetkan dengan baik di dalam tubuh Otzi. Jenis bakteri tersebut kini sangat jarang ditemukan pada masyarakat modern, tetapi masih dapat dijumpai pada kelompok masyarakat yang mempertahankan pola hidup tradisional dan belum banyak terpengaruh industrialisasi.

Otzi pertama kali ditemukan oleh dua pendaki pada tahun 1991 di wilayah perbatasan Austria dan Italia. Setelah dievakuasi, jasadnya disimpan di South Tyrol Museum of Archaeology. Untuk menjaga kondisinya tetap stabil, mumi tersebut ditempatkan pada lingkungan bersuhu sekitar minus 6 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan mendekati 99 persen, menyerupai kondisi gletser tempat ia ditemukan.

Untuk penelitian baru, ilmuwan melakukan survei mendetail terhadap mikroba Otzi. Mereka menyelidiki reservoir air di tubuhnya, menyeka bagian luarnya, dan mengambil sampel jaringan internal. Mereka juga memeriksa tanah yang diambil dari bawah mumi saat penggaliannya. Peneliti juga mengumpulkan dan membiakkan mikroba udara dari ruang penyimpanan mumi dan berhasil membiakkan beberapa mikroba. Lalu, dengan mengekstraksi DNA dari spesimen yang masih hidup maupun yang mati dan memeriksa kerusakan DNA‑nya, ilmuwan dapat mengidentifikasi spesies jamur dan bakteri, serta memperkirakan apakah mereka purba atau modern.

Hal ini membantu memisahkan mana mikroba yang berasal dari Otzi, mana yang kemungkinan berpindah ke tubuhnya setelah ia meninggal, dan mana yang mungkin masuk belakangan melalui proses penanganan. Mikroba terumum ditemukan pada jaringan permukaan Otzi adalah bakteri Methylobacterium dan Sphingomonas, yang dibawa manusia melalui penanganan modern. Jenis bakteri lain, Staphylococcus, diyakini berasal dari mikrobioma mumi tersebut.

Empat jenis ragi – Glaciozyma, Goffeauzyma, Mrakia, dan Phenoliferia – ditemukan di dalam dan luar tubuh Otzi. Kemiripan genetik dengan jamur yang beradaptasi dengan suhu dingin yang ditemukan di tempat seperti Antartika menunjukkan bahwa ini mikroba lingkungan dan kerusakan DNA signifikan mengaitkannya dengan ekosistem purba pegunungan Alpen tempat Otzi berada.

Beberapa dekade sejak penemuan, ilmuwan menyatukan banyak petunjuk tentang kehidupan dan kematiannya yang tragis di usia sekitar 46 tahun. Makanan terakhirnya meliputi biji‑bijian, tumbuhan, serta daging rusa dan ibex. Luka sayat di tangannya dan panah di bahunya menunjukkan hari‑hari terakhirnya diwarnai kekerasan. Ia kemungkinan besar tewas kehabisan darah. Ia memiliki 61 tato, yang merupakan salah satu tato tertua di dunia. Endapan kalsium di jantungnya mengisyaratkan adanya masalah jantung. Ususnya mengandung Helicobacter pylori, mikroba yang terkait kanker lambung dan bisul.

Penelitian ini menambah pemahaman tentang mikrobioma manusia pada zaman kuno. Dengan mempelajari bakteri dan jamur yang masih terawetkan, para ilmuwan dapat melihat bagaimana mikroba beradaptasi dengan lingkungan ekstrem dan bagaimana mereka mempengaruhi kesehatan manusia pada masa lalu. Temuan ini juga menunjukkan bahwa mumi seperti Otzi dapat menyimpan jejak mikroba yang lebih hidup daripada yang pernah diperkirakan sebelumnya.

Mumi OtzimikrobiomajamurbakteriDNAAlpenpenelitian

Komentar

Memuat komentar...