Muara Angke Bersih, Sampah Hulu Tetap Menyusul Juga

Nita W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 27 dibaca
Bisik.id
Muara Angke Bersih, Sampah Hulu Tetap Menyusul Juga

Gambar atau konten salah?

Muara Angke di pesisir Jakarta Utara, yang lama menjadi pulau sampah, kini telah dibersihkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Namun, masalah sampah tidak sepenuhnya selesai karena masih ada aliran sampah dari wilayah hulu.

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris, menjelaskan bahwa tantangan terbesar di kawasan tersebut adalah sampah yang terus datang dari arah hulu melalui aliran sungai. Ia mengatakan, “Tantangan terbesarnya yang pasti adalah sampah yang selalu hadir. Selalu datang dari arah hulu.”

Afan menambahkan bahwa Pemprov DKI tidak hanya membersihkan Muara Angke, tetapi juga menyalurkan upaya ke wilayah hulu. Ia menjelaskan, “Tapi kita terus mengaktifkan rekan-rekan yang juga ada di hulu untuk melalui sekat ataupun saringan sampah itu untuk mencegah supaya sampah tadi tidak bergerak sampai ke pesisir.”

Pembersihan intensif dimulai pada 03 Juni 2026. Hingga 06 Juni 2026, progres pembersihan mencapai sekitar 85‑90 persen, dan target akhir pekan adalah mengangkat seluruh sampah di delta Muara Angke. Dalam proses tersebut, Pemprov mengerahkan sekitar 100 petugas, dua ekskavator amfibi, dan tiga kapal pengangkut sampah. Sebanyak 8,8 ton sampah sudah diangkut dari kawasan tersebut.

Walaupun area kini bersih, fenomena pulau sampah masih menimbulkan perhatian terhadap lingkungan pesisir Jakarta. Muara Angke adalah simpul aktivitas pesisir penting, mulai dari pelabuhan nelayan hingga akses ke wisata Kepulauan Seribu. Isu ini muncul di tengah upaya Jakarta memperkuat kawasan waterfront dan ruang publik tepi laut, seiring ambisi ibu kota menjadi kota global dengan kualitas lingkungan perkotaan yang lebih baik.

Keberadaan tumpukan sampah di pesisir merusak estetika kota, mencemari ekosistem laut, dan menciptakan citra buruk di mata internasional yang sangat sensitif terhadap isu lingkungan. Fenomena pulau sampah juga menjadi sorotan terkait ambisi Jakarta dalam memenuhi indikator kota global. Dalam penilaian Global Cities Index (GCI) oleh Kearney, aspek kelayakan huni (livability) dan keberlanjutan lingkungan (sustainability) kini menjadi parameter krusial penentu daya saing.

Jakarta berada di peringkat 71 dunia dalam indeks kota global. Peringkat ini menunjukkan Jakarta sebagai kota global tingkat menengah yang sedang bertransformasi, dengan keunggulan utama pada sektor integrasi transportasi publik dan lompatan signifikan pada infrastruktur data center serta kualitas SDM. Namun, kota masih menghadapi tantangan besar dalam kualitas lingkungan, polusi udara, dan peningkatan daya saing tenaga kerja di bidang teknologi dan riset internasional.

Ketergantungan pada penanganan sampah di sektor hilir serta kebiasaan masyarakat membuang sampah ke badan air dinilai dapat membebani penilaian kualitas lingkungan hidup Jakarta di panggung internasional. Untuk itu, Pemprov DKI mengimbau warga agar menghentikan kebiasaan membuang sampah ke saluran air, sungai, maupun embung karena berdampak langsung pada pencemaran lingkungan dan memicu risiko bencana banjir.

Setelah proses pembersihan selesai, Pemprov DKI akan melakukan pemantauan rutin untuk mencegah penumpukan sampah serupa kembali terjadi di Muara Angke. Afan juga mengimbau masyarakat, “Kepada warga kami berharap agar tidak lagi membuang sampah ke badan air. Baik ke saluran, ke kali, waduk, situ ataupun embung. Bukan apa-apa, yang mengalami kerugian adalah kita sendiri.”

Dengan langkah-langkah ini, Jakarta berusaha menjaga kebersihan pesisir dan meningkatkan citra lingkungan di mata dunia, sekaligus menanggapi tantangan polusi dan banjir yang terus mengancam wilayah pesisirnya.

Muara AngkesampahpembersihanPemprov DKI Jakartapolusi lautkota globalbanjir

Komentar

Memuat komentar...