Naga Jawa Ditemukan di Puncak Gunung Sanggabuana

Wati N. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Naga Jawa Ditemukan di Puncak Gunung Sanggabuana

Gambar atau konten salah?

Sejak zaman dulu, naga selalu hadir dalam cerita rakyat di berbagai tempat. Di Indonesia, naga sering digambarkan sebagai penjaga keseimbangan alam dan simbol kesuburan tanah. Tapi ternyata, makhluk mitos itu punya wujud nyata di puncak tertinggi bekas karesidenan zaman kolonial, yaitu Gunung Sanggabuana di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Di gunung setinggi 1.291 meter di atas permukaan laut ini, julukan penunggu setia tanah tertinggi bukan lagi sekadar dongeng. Julukan itu diberikan kepada seekor satwa sungguhan yang disebut Naga Jawa. Nama ilmiahnya Xenodermus javanicus. Kata Xenodermus berarti "kulit aneh", dan itu sangat pas menggambarkan penampilan ular kecil ramping berwarna abu-abu gelap kehitaman ini.

Berdasarkan data dari Animalium-BRIN, bentuk ular ini sangat mirip dengan gambaran naga mitologi dalam versi mini. Soalnya, seluruh tubuhnya dipenuhi tonjolan-tonjolan khas. Tim Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) yang menemukan karakteristik fisik ular sepanjang 50 cm ini. Bagian perutnya memiliki sisik yang tersusun rapat, rapi, dan ukurannya seragam. Sementara punggungnya dipenuhi sisik lebih kecil dengan susunan berbeda.

Di atas tubuhnya ada tonjolan bernama hemiphenial. Ini membuat kulitnya terasa sangat kasar, mirip kulit biawak. Penampilannya makin dramatis karena kepalanya berbentuk bulat telur dengan moncong segitiga agak terang. Ada juga dua tonjolan kecil mirip tanduk di kepalanya. Semakin membuatnya mirip naga.

Wajahnya imut tapi galak. Ular ini tidak berbisa dan tidak suka menggigit. Meski begitu, Xenodermus javanicus bukan hewan yang cocok dipelihara di rumah. Rekomendasi resmi dari situs Animalium-BRIN menyatakan, masyarakat sangat disarankan tidak membawa ular ini keluar dari habitatnya. Mereka adalah satwa yang sangat sensitif dan mudah mati karena stres.

Sifat rapuh ini membuat Naga Jawa jauh lebih aman dan bahagia jika dibiarkan hidup bebas di alam liar. Di sana mereka bisa menjalani siklus hidup tanpa gangguan manusia. Sebagai satwa dataran tinggi, Naga Jawa hanya bisa bertahan di lingkungan sejuk dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Mereka sangat suka area lembap dan basah. Misalnya di bawah bebatuan dekat aliran air jernih, tanah basah, atau di sekitar kayu yang membusuk. Di habitat aslinya, mereka biasa bersembunyi di lubang tanah, berkembang biak dengan bertelur, dan berburu mangsa favorit: katak.

Keberadaan spesies ini di Gunung Sanggabuana baru berhasil didokumentasikan pada tahun 2022. Itu terjadi melalui eksplorasi bersama antara tim SCF dan Fakultas Biologi Universitas Nasional (UNAS) Jakarta di sekitar aliran Sungai Cikoleangkak. Secara global, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan ular ini ke dalam status Least Concern (LC). Artinya risiko kepunahannya masih rendah.

Ular ini punya peran ekologis yang sangat penting sebagai alarm alami lingkungan. Tubuhnya sangat peka terhadap perubahan iklim dan cuaca. Jika populasi Naga Jawa di kawasan ini berkurang, itu menjadi indikator kuat bahwa kerusakan hutan atau deforestasi di Gunung Sanggabuana sudah dalam tahap mengkhawatirkan.

Untungnya, demi melindungi ekosistem penting ini, status Gunung Sanggabuana yang semula merupakan hutan produksi kini sedang dalam proses alih fungsi menjadi Taman Nasional. Dengan begitu, kelestarian sang naga kecil tetap terjaga.

Penemuan Naga Jawa di Gunung Sanggabuana menunjukkan bahwa mitos dan kenyataan bisa berjalan beriringan. Satwa yang tampak seperti makhluk legenda ini ternyata benar-benar ada dan hidup di alam liar. Namun, kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kondisi hutan yang masih utuh. Alih fungsi kawasan menjadi taman nasional menjadi langkah penting untuk memastikan ular kecil ini tidak hanya tinggal cerita.

Naga JawaXenodermus javanicusGunung SanggabuanaKarawangular endemikkonservasihabitat dataran tinggi

Komentar

Memuat komentar...