NU Diminta Turun ke Sektor Riil, Bukan Sekadar Wacana

Arif S. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
NU Diminta Turun ke Sektor Riil, Bukan Sekadar Wacana

Gambar atau konten salah?

Pertemuan besar para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) memasuki hari kedua di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri. Acara yang digelar pada Minggu, 21 Juni 2026 ini merupakan bagian dari Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026. Suasana pesantren yang tenang pagi itu berubah menjadi pusat diskusi strategis tentang masa depan organisasi dan bangsa.

Sidang Pleno II menjadi panggung utama. Temanya cukup jelas: "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa." Lewat forum ini, NU mendapat dorongan kuat untuk tidak sekadar menjadi organisasi yang pasif. Mereka diminta bergerak nyata, mengawal arah peradaban nasional dari akar rumput.

Ruang sidang dipenuhi wajah-wajah penting. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf hadir langsung. Begitu juga Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul. Deretan kiai, ulama, serta pengurus wilayah dari seluruh Indonesia juga memadati tempat itu. Ini adalah forum tertinggi setelah Muktamar, jadi bobot keputusannya tidak main-main.

Wakil Rais 'Aam PBNU, KH Anwar Iskandar atau Gus War, naik ke podium. Ia tidak membuang waktu dengan basa-basi. Instruksi yang disampaikan langsung ke inti permasalahan. Tiga agenda besar harus segera dieksekusi oleh semua elemen NU. Bukan hanya wacana, tapi kerja nyata di lapangan.

Pertama, NU harus masuk ke sektor riil kebutuhan masyarakat. Gus War menekankan bahwa organisasi ini tidak boleh menjadi menara gading. Jarak dengan realitas sosial harus dihapus. "NU harus hadir di tengah kehidupan masyarakat. NU lahir untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan, dakwah, kesehatan, ekonomi dan berbagai bidang lainnya yang membawa kemaslahatan," ujar KH Anwar Iskandar dengan tegas. Artinya, intervensi langsung pada sektor-sektor dasar yang menyentuh hajat hidup orang banyak menjadi prioritas.

Kedua, fokus pada pembangunan manusia, bukan sekadar fisik. Ini pesan krusial. Gus War mengingatkan bahwa orientasi program kerja harus ditata ulang. Perhatian penuh perlu dicurahkan pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Kemajuan bangsa, menurutnya, tidak boleh hanya diukur dari beton dan aspal. "Melalui ilmu dan akal yang berkembang dalam pendidikan, kesehatan maupun ekonomi, NU harus ikut membangun peradaban yang lebih baik bagi bangsa Indonesia," ungkapnya. Kapasitas intelektual dan kemuliaan akhlak warga menjadi fondasi utama.

Ketiga, NU harus menjadi jangkar perdamaian dan perekat sosial. Dinamika kebangsaan Indonesia belakangan ini kompleks. Konflik sosial bisa muncul kapan saja. Di sinilah NU dituntut berperan sebagai peredam. "Yang harus kita bangun adalah kehidupan yang damai, rukun, guyub dan bersatu. NU harus terus menjadi kekuatan yang menjaga persaudaraan dan menghadirkan kemanfaatan bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkas Gus War. Kerja organisasi harus mampu merajut kembali simpul-simpul persaudaraan yang mulai longgar.

Forum Munas-Konbes NU 2026 ini diharapkan tidak berhenti pada pidato dan diskusi. Targetnya adalah rekomendasi dan keputusan organisasi yang lebih taktis, transformatif, dan berdampak langsung. Bukan sekadar dokumen, tapi aksi nyata di lapangan untuk kemaslahatan umat.

MunasNUKedirikemaslahatanperadabanSDMperdamaian

Komentar

Memuat komentar...