Nutri Level 'no sugar' tidak selalu sehat minuman kekinian

Ani R. · 2 min baca · 19 hari lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Nutri Level 'no sugar' tidak selalu sehat minuman kekinian

Gambar atau konten salah?

Nutri Level adalah sistem penandaan gizi yang baru diterapkan di banyak gerai minuman kekinian. Saat pertama kali dilihat, banyak yang terkejut karena label “no sugar” atau “less sugar” tidak selalu menandakan minuman masuk kategori A, yang dianggap paling sehat. Sebaliknya, beberapa minuman justru masuk kategori C atau D, yang menandakan kualitas gizi yang lebih rendah.

Contoh pertama datang dari menu Xing Fu Tang. Minuman Grape with Green Tea diberi label “no sugar”, namun dinilai C. Begitu juga menu Ovaltine Milk yang juga menampilkan “no sugar” namun mendapat nilai D. Tidak hanya itu, beberapa minuman berbasis americano—yang biasanya dikenal pahit—juga masuk kategori C dan D. Di Fore Coffee, Triple Peach Americano dan Berry Manuka Americano termasuk contoh tersebut.

Menjelaskan fenomena ini, Budi G Sadikin dari Menkes menegaskan bahwa sistem Nutri Level tidak hanya menghitung gula tambahan. “Penilaian dalam sistem Nutri-Level tidak hanya melihat gula tambahan semata,” katanya. Ia menambahkan bahwa gula alami, lemak jenuh, dan natrium juga menjadi faktor penentu. Dengan demikian, minuman yang mengandung gula alami atau lemak tinggi masih bisa mendapat nilai C atau D, meski gula tambahan sudah dihilangkan.

Dr. Tjandraningrum, M.Gizi, SpGK, Subsp.KM juga menegaskan hal serupa. Ia menyebutkan, “Walaupun dia no sugar tapi tetap ada gula. Di buah itu ada namanya gula buah,” ia bilang. Ia menambahkan, “Apalagi grape sirup, itu kan pasti mengandung gula,” ia lanjut. Menurutnya, buah yang diolah menjadi jus atau sirup perasa buah biasanya mengandung gula yang lebih cepat diserap tubuh dibandingkan buah utuh. Selain itu, beberapa minuman mengandung campuran cream, mousse, krimer, atau topping lain yang dapat meningkatkan kadar lemak jenuh dan kalori total.

Komponen tambahan seperti cream, mousse, krimer, serta susu full cream umumnya kaya lemak jenuh. Topping tambahan—boba, jelly, whipped cream, saus karamel, atau cokelat—juga menambah kandungan gula dan energi. Ukuran minuman yang sering besar membuat total asupan gula, lemak, dan kalori menjadi lebih tinggi, meski gula tambahan sudah dikurangi.

Oleh karena itu, label “no sugar” tidak selalu menandakan minuman rendah kalori atau sepenuhnya sehat. Konsumen disarankan untuk tidak hanya memperhatikan klaim pada menu, tetapi juga memeriksa komposisi bahan dan porsi minuman yang dikonsumsi. Nutri Level berfungsi sebagai panduan awal, bukan penentu mutlak kesehatan produk.

Penilaian gizi tetap perlu dilihat secara menyeluruh: komposisi bahan, porsi, aktivitas fisik, dan pola makan harian. Kebutuhan gizi tiap orang berbeda, sehingga satu label tidak dapat mewakili semua kondisi. Nutri Level membantu konsumen membuat pilihan yang lebih bijak, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan konsumen.

Di akhir pembahasan, Budi G Sadikin menegaskan bahwa sistem ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran konsumen terhadap kualitas gizi minuman. Namun, ia juga mengingatkan bahwa konsumen harus tetap kritis dan tidak terpaku pada huruf atau warna pada label. Memahami kandungan gizi secara detail dan frekuensi konsumsi menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan.

Dengan pemahaman ini, konsumen dapat menilai minuman kekinian secara lebih objektif. Meskipun label “no sugar” menarik, faktor lain seperti gula alami, lemak jenuh, dan natrium tetap memengaruhi nilai akhir. Oleh karena itu, penting untuk membaca label secara lengkap dan menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan pribadi.

Nutri Levellabel no sugarlemak jenuhnatriumkonsumen kritiskualitas giziminuman kekinian

Komentar

Memuat komentar...