Nyai Ageng Maloka, Pemimpin Kadipaten Lasem, Pindahkan Pusat
Gambar atau konten salah?
Nyai Ageng Maloka merupakan sosok penting dalam sejarah Islam di pesisir utara Jawa. Ia dikenal tidak hanya sebagai putri Sunan Ampel, tetapi juga sebagai perempuan yang memimpin Kadipaten Lasem.
Ia adalah istri Adipati Lasem, Adipati Wiranegara. Setelah suaminya wafat pada 1479 Masehi, ia mengambil alih pemerintahan Lasem.
Masa kepemimpinannya singkat, namun ia membuat keputusan besar: memindahkan pusat pemerintahan dari wilayah Bonang atau Alas Kemuning ke Cologowok, Desa Soditan, yang kini berada tidak jauh dari Masjid Jami' Lasem.
Wilayah Bonang kini dikenal sebagai kawasan Pasujudan dan Pesarehan Sunan Bonang.
Pemerhati sejarah dari Padepokan Sambua Lasem, Abdullah Hamid, menyebut perpindahan pusat kadipaten dilakukan demi efektivitas pemerintahan. Ia juga ingin lebih dekat dengan keluarga besar suaminya yang banyak tinggal di kawasan Cologowok.
"Beliau ingin pemerintahan lebih efektif sekaligus dekat dengan kerabat suaminya agar bersama-sama membangun Lasem," ujar Abdullah kepada detikJateng hari ini.
Walaupun pusat pemerintahan dipindahkan ke Cologowok, Nyai Ageng Maloka memilih tinggal di kawasan Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem. Di tempat itu, ia membangun taman perdamaian bernama Taman Sitaresmi.
Suasana di Kompleks Makam Nyai Ageng Maloka di Caruban, Gedongmulyo, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu, 23 Mei 2026.
Pilihannya tinggal di Caruban tidak tanpa alasan. Kawasan itu berada dekat dengan Pelabuhan Kairingan Lasem, yang pada masa itu menjadi salah satu pelabuhan terbesar di pesisir utara Jawa dan pusat perdagangan internasional.
Di kawasan tersebut juga tinggal tokoh pelaut atau Dampu Awang bernama Santi Puspa yang memiliki hubungan keluarga dengan Adipati Wiranegara. Kedekatan itu membuat koordinasi pengelolaan pelabuhan menjadi lebih mudah.
"Caruban dan Pelabuhan Kairingan kan dekat. Saat itu pelabuhan sangat ramai dan menjadi pusat ekonomi. Nyai Ageng Maloka tinggal di sana (Caruban) untuk memudahkan koordinasi memantau pelabuhan bersama Santi Puspa," jelasnya.
Selain dikenal sebagai pemimpin pemerintahan, Nyai Ageng Maloka juga dikenang karena dukungannya terhadap penyebaran Islam. Bekas keraton di Bonang bahkan diserahkan kepada adiknya, Sunan Bonang, untuk pusat dakwah dan pendidikan Islam pada saat itu.
"Keraton itu kemudian digunakan untuk pengembangan syiar Islam. Itu menjadi pengorbanan besar Nyai Ageng Maloka demi perkembangan Islam," kata pegiat sejarah Lasem, Abdullah.
Selain membantu dakwah Sunan Bonang, Nyai Ageng Maloka juga aktif mengajarkan Islam kepada kaum perempuan. Sejumlah putri para wali, termasuk putri Sunan Kudus dan Sunan Muria, disebut pernah berguru kepadanya.
Hingga kini, makam Nyai Ageng Maloka di kawasan Caruban, Lasem, masih ramai diziarahi masyarakat. Sosoknya dikenang sebagai perempuan pemimpin yang ikut membangun pemerintahan sekaligus menyebarkan Islam di tanah Lasem.
Perpindahan pusat pemerintahan dan pilihan tempat tinggalnya menunjukkan bahwa Nyai Ageng Maloka menempatkan efisiensi dan hubungan keluarga sebagai prioritas. Tindakan ini tidak hanya memudahkan pengelolaan pelabuhan, tetapi juga memperkuat jaringan dakwah Islam di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Prabowo Panggil Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Ganti Dadan
Kekurangan Sekolah di 5 Kecamatan Semarang: Tanah Belum Tersedia
