Orang Tua Terbiasa Beri Nasi‑Telur, Risiko Gizi Anak

Fajar H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Orang Tua Terbiasa Beri Nasi‑Telur, Risiko Gizi Anak

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, banyak orang tua yang menyesuaikan menu anak dengan apa saja yang mau dikonsumsi. Anak yang hanya mau makan nasi dan telur, atau hanya nugget setiap hari, seringkali membuat orang tua khawatir tidak ada makanan lain yang bisa dikonsumsi. Akibatnya, mereka mengalah dan mengulang‑ulang menu tersebut, karena “yang penting anak mau makan deh.”

Menurut Dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, SpGK, kebiasaan ini menjadi salah satu kesalahan paling sering ditemui dalam pola makan anak sehari‑hari. Ia menegaskan, “Orang tua membiarkan anaknya maunya apa. Ya sudah, yang penting anaknya mau makan deh. Akhirnya dia maunya nasi telur, ya nasi telur saja terus. Tanpa dikenalkan dengan yang lain,” ujar dr Diana dalam talkshow bersama Frisian Flag, Jumat (29 Mei 2026).

Tak sedikit orang tua yang langsung menyimpulkan bahwa anak tidak suka suatu makanan hanya karena sekali atau dua kali menolak. Padahal, penolakan pada makanan baru merupakan hal yang umum terjadi pada anak, terutama saat masa eksplorasi rasa dan tekstur. Menurut dr Diana, mengenalkan makanan baru membutuhkan kesabaran dan pengulangan. Anak sering kali memerlukan berkali‑kali paparan sebelum akhirnya mau menerima makanan tersebut.

Ia menambahkan, “Kalau baru satu dua kali dia tidak mau dikasih daging, ya sudah anaknya maunya telur saja. Padahal kita belum coba lagi.” Kondisi ini membuat variasi makanan anak menjadi sangat terbatas. Akibatnya, kebutuhan zat gizi yang beragam juga berisiko tidak terpenuhi secara optimal.

Dr. Diana menekankan pentingnya ketekunan orang tua saat mengenalkan makanan baru. Ia menyatakan, “Percobaan ke‑20, ke‑30, percaya deh, mau.” Hal yang sama berlaku untuk sayuran. Banyak anak yang awalnya menolak sayur karena warna, aroma, atau teksturnya. Namun paparan yang konsisten membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih beragam.

Menurut dr Diana, mengenalkan makanan baru tidak harus dilakukan secara langsung dalam bentuk utuh. Orang tua bisa memulainya dengan porsi kecil dan mengombinasikannya dengan makanan yang sudah disukai anak. Cara ini membantu anak lebih mudah menerima rasa dan tekstur baru tanpa merasa asing. Sebagai contoh, jika anak belum terbiasa mengonsumsi daging, daging bisa dicincang halus lalu dicampurkan ke dalam menu sehari‑hari. Ia menambahkan, “Nggak serta merta bentuk daging empal. Bikin daging cincang, lalu masukkan ke dalam masakan. Kenalkan sedikit demi sedikit.”

Proses ini memang membutuhkan waktu. Namun konsistensi menjadi kunci agar anak semakin familiar dengan berbagai jenis bahan makanan dan memiliki pola makan yang lebih beragam. Tubuh anak membutuhkan berbagai jenis zat gizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.

Ketika menu anak hanya berputar pada satu atau dua jenis makanan, kesempatan untuk mendapatkan nutrisi yang lengkap menjadi lebih kecil. Dalam jangka panjang, pola makan yang monoton dapat membuat kebutuhan gizi harian tidak terpenuhi secara optimal. Karena itu, tujuan utama saat makan bukan sekadar membuat anak kenyang. Yang tidak kalah penting adalah memastikan anak mendapatkan pengalaman makan yang beragam sehingga kebutuhan nutrisinya terpenuhi dan kebiasaan makan sehat terbentuk sejak dini.

Para orang tua disarankan untuk tidak cepat menyerah ketika anak menolak makanan baru. Menggunakan pendekatan bertahap, menambahkan bahan kecil ke dalam hidangan yang sudah disukai, dan terus memperkenalkan variasi secara konsisten dapat membantu anak terbiasa dengan rasa dan tekstur yang berbeda. Dengan cara ini, anak tidak hanya akan tetap kenyang, tetapi juga akan mendapatkan nutrisi yang lengkap untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pola makan anakVariasi makananGiziPenolakan makananPendekatan bertahapKonsistensiNutrisi lengkap

Komentar

Memuat komentar...